0

Selamat Menikmati Mudik Anda!

Mudik. Ilustrasi dari suyatno.wordpress.com

Mudik. Ilustrasi dari suyatno.wordpress.com

Mudik adalah sebagian dari ritus yang hampir wajib bagi sebagian rakyat Indonesia. Ya, ritual mudik memang sangat khas Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia mempunyai fenomena perpindahan penduduk sesaat ini selama kurang lebih satu minggu.

Lalu, apakah fenomena mudik ini hanya terjadi di Indonesia? Mungkin ya mungkin tidak. Kata pacar saya yang tahun kemarin umrah pada bulan ramadhan, di Arab Saudi pada saat Idul Fitri malah sepi-sepi saja. Di Arab Saudi yang ramai adalah Idul Adha atau Hari Raya Kurban, yang juga bertepatan dengan Bulan Haji.

Katanya mudik juga jadi tradisi di China (eh, maaf, Tiongkok!). Tentu saja mereka tidak mudik saat Lebaran, kecuali ya mungkin orang Tiongkok yang muslim seperti di Xinjiang. Orang-orang China mudik saat Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China. Mungkin mudik mereka lebih dahsyat karena mengingat penduduk China yang luar biasa banyak.

Sebagai sebuah ritual (baca: tradisi) yang penuh romantisme, nostalgia dan peribadatan, mudik banyaklah tuntutan. Tuntutan yang kadang bagi anak muda seperti saya kurang menyukainya. Mulai dari kumpul dengan keluarga besar lantas malas menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar masalah pribadi (baca: kapan nikah?), “kewajiban” memberi uang kepada keponakan, baju baru atau gadget baru, hingga harus bertemu keluarga jauh atau teman lama yang kadang tidak asyik orangnya.

Saya membayangkan mudik adalah reuni keluarga kecil dengan makan besar. Cukup di halaman belakang rumah sambil bercerita dan bercanda. Setelah itu ketemuan dengan teman lama yang “asyik-asyik aja”. Saling menceritakan kisah lama terus berpesta sampai pagi menjelang.

Saya tahu bayangan saya tadi musykil terjadi. Meskipun demikian, bayangan tentang “mudik indah” tadi harus tetap saya simpan. Terus, semua ritual mudik yang tidak anda suka jangan dijadikan beban. Anggap saja ujian. Demi kesehatan mental dan pikiran.

Selamat menikmati mudik!!!🙂

 

Tulisan ini adalah tulisan lama. Saya tulis sekitar dua tahun yang lalu. Saya posting ulang di sini karena saya lagi nggak ada ide untuk menulis, selain itu sepertinya tulisan ini masih relevan untuk dibaca🙂

Tulisan aslinya dapat dibaca di sini

0

Perubahan Dari Perspektif Anak Kecil

Apa arti sebuah perubahan di lingkungan sekitar bagi seorang anak kecil? Tanyakan itu pada Anna de la Mesa maka ia akan menyalahkan Fidel Castro!!!😀

Image

Ya, itulah cerita dari sebuah film yang berjudul Blame It On Fidel. Sebuah film Perancis buatan tahun 2006. Berlatar tahun 1970-an awal ketika marak pergerakan revolusioner di Perancis. Hidup Anna mendadak berubah gara-gara orangtuanya tiba-tiba menjadi aktivis politik radikal. Anna yang sebelumnya hidup nyaman dalam rumah yang besar dan mempunyai kebun sendiri harus hidup berpindah ke flat yang sempit. Pengasuhnya pun selalu berganti dari orang Kuba, Yunani hingga Vietnam.

Tiba-tiba rumahnya penuh dengan kamerad-kamerad kawan ayahnya yang rata-rata berjanggut lebat tidak pernah bercukur yang selalu berdiskusi tentang revolusi hingga tengah malam. Ibunya pun selalu sibuk menerima tamu berbagai macam wanita yang ingin konsultasi tentang masalah aborsi. Tradisi “Hari Minggu untuk Keluarga” pun mendadak hilang karena kesibukan orangtuanya. Belum lagi orangtuanya tidak lagi memasukkannya dalam pelajaran Injil. Semuanya berubah!!!

Film ini seakan memotret perubahan yang kadang membuat “masa kecil” menjadi tidak nyaman. Menonton film ini seperti dejavu. Saya teringat sekitar akhir 1990-an, di mana mendadak semuanya berubah ketika saya masuk kelas 2 SMP. Saya sekolah di sebuah asrama pesantren di Solo. Pada suatu siang di sebuah pertokoan tempat di mana saya biasa main ding dong, mendadak terdengar ledakan dari luar arena bermain. Perempatan di depan pertokoan telah penuh dengan asap hitam. Beberapa ban bekas dan sepeda motor telah dibakar di tengah jalan. Suasana begitu kacau, teman-teman saya ada yang menjarah sepatu namunkanan semua, ada yang menjarah toko kaset, saya yang hanya terbengong pulang dengan tangan hampa sambil melewati gedung bioskop GALAXY yang telah ditulisi “Milik Haji Waluyo”.

Pada waktu itu, perubahan saya rasakan sangat menegangkan. Mendadak para siswa tidak boleh keluar malam. Keluar asrama pun harus ijin pengurus asrama. Tempat main ding dong saya pun telah jadi abu. Saya menduga, sesuatu yang lebih hebat akan terjadi. Salah satunya adalah dalam mata pelajaran dan sekolah. Kami tidak lagi diwajibkan menghapalkan nama-nama menteri kabinet, libur sekolah sebulan penuh di bulan Ramadan, hingga begitu banyaknya orang berdemonstrasi sampai saya bosan melihatnya.

Saya tidak seperti Anna yang sangat sewot terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Setelah reformasi saya merasa biasa-biasa saja. Ibu saya termasuk orang yang sangat gembira ketika Gus Dur menjadi presiden hingga hendak menamai adik bungsu saya dengan nama Abdurrahman Wahid jika ia lahir laki-laki. Ibu saya juga sangat sedih ketika Gus Dur dimakzulkan.

Saya bukan aktivis mahasiswa 98 yang katanya “mereformasi” negeri ini. Saat itu, saya hanya seorang anak kecil yang menjadi saksi mata terbakarnya tempat main ding dong saya. Kalaupun saya mau menyalahkan seperti Anna, maka sepertinya saya harus menyalahkan mereka yang membakar arena ding dong. Hingga sepuluh tahun lebih, tempat ding dong tidak pernah direnovasi. Konon banyak yang mati terbakar di pertokoan tersebut.

Ya begitulah… perubahan selalu memakan korban. Bagi saya reformasi hanya mempersulit saya untuk main ding dong dan nonton bioskop kelas dua yang sering memutar film “saru”. Sekian.

[tulisan ini sebelumnya telah saya muat di tumblr saya dua tahun yang lalu]

0

Ambon

z ambon

Beberapa hari yang lalu saya nongkrong di sebuah warung makan di pojokan Taman Budaya, sembari menunggu jemputan teman yang akan mengajak jalan-jalan ke Kota Lama. Sambil minum kopi membunuh waktu saya berbincang dengan seorang anak STM, Ambon namanya.

Ambon, sepertinya sedang membolos saat itu. Ia mengaku sedang enggan masuk kelas. Apakah karena gurumu nggak asyik?, tanya saya. Iya, mas. Guru saya nggak asyik. Mentang-mentang sekolah negeri mbayarnya gratis, jadinya ngajar sak karepe dhewe!, jawabnya. Ah, mbolos itu nggak apa, sanggah saya, kalau bosan sekolah, ya, mbolos tu solusi terbaik, imbuh saya sambil tergelak. Mendengar jawaban saya mata Ambon tampak berbinar. Mungkin ia merasa mendapat teman atau pembenaran terhadap ulahnya.

Aku dulu juga sering mbolos kok, Mbon. Biasanya hari Senin, biar bisa nonton bioskop dengan harga lebih murah. Oh ya, kamu ini mbolos hanya karena emang lagi males sama gurumu atau apa?, tanyaku. Faktor utama ya males itu mas. Sama ingin diperhatikan orang tua. Bapak Ibu sibuk dagang, mas. Saya anaknya nggak pernah diurusin. Emang sih saya minta apa-apa dikasih. Mereka bilang pokoknya saya harus sekolah. Dulu saya sekolahnya SMA, mas. Tapi aslinya saya nggak mau. Saya maunya otomotif, STM. Bapak Ibu saya pingin saya nanti kuliah hukum, jadi harus masuk SMA!, sosor Ambon dengan menggebu. Lhah, itu minta apa aja dikasih kok kamu bilang nggak diurusin?, cecarku. Maksudnya diurusin itu diberi kasih sayang, mas. Perhatian!, jawabnya sengit.

Kontan saya terbahak. Anak ini cerdas sebenarnya. Ia nakal dengan sadar, hanya cari perhatian terhadap orang tuanya. Capernya pun hanya tingkat mbolos. Setidaknya ia tidak nyewek atau narkoba. Atau mungkin bagian itu tidak diceritakannya pada saya. Akhirnya cerita Ambon terputus. Tiba-tiba datang beberapa teman ceweknya. Sikap Ambon pun berubah. Tampak ia memasang tampang lebih dewasa. Secara perlahan ia menyingkir dari obrolan. Saya diam saja sambil mengambil satu batang Dji Sam Soe miliknya…

0

Rijsttafel, Akulturasi Lidah Barat dan Pribumi

Rijsttafel. Foto: wisataindonesia.ga

Rijsttafel. Foto: wisataindonesia.ga

Apakah anda mengenal menu makanan yang bernama: rijst, sajoers loddeh van kool, frikadel djagoeng, ikan goreng tjoeka, sambal van tomaten, atjar ketimoen, dan kroepoek[1]? Mungkin secara samar kita masih mengenalinya, meski agak aneh karena memakai bahasa Belanda. Hal ini tidaklah mengherankan karena nama menu makanan di atas memang diambil dari sebuah menu hidangan rijsttafel[2].

Rijsttafel adalah suatu budaya makan pada masa kolonial Belanda. Menurut Surjatini N. Ganie, istilah ini disematkan oleh orang-orang Belanda untuk jamuan hidangan Indonesia yang ditata komplet di atas meja makan (Rahman, 2011: 7-8). Keberadaan rijsttafel ini tidak bisa dilepaskan dari persinggungan antara kebudayaan Belanda/Barat dengan kebudayaan pribumi Nusantara.

Selain China, Barat mesti diakui mempunyai kontribusi besar dalam membentuk wajah kuliner Indonesia. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonialisme bangsa Eropa di Indonesia sejak abad ke-16 hingga paruh pertama abad ke-20. Meski penjajahan telah lama berakhir, jejak-jejak kebudayaan dalam bidang kuliner ini masih tetap kita rasakan sampai sekarang. Beberapa menu makanan yang kita santap sehari-hari, ternyata adalah hasil dari sebuah persinggungan kebudayaan yang sangat intens.

Siapa sangka jika ternyata bergedel berasal dari frikadel, semur dari smoor, dan bistik dari biefstuk. Hidangan tersebut awalnya merupakan hidangan Barat yang akhirnya disesuaikan dengan kondisi di Hindia Belanda, baik dalam komposisi bahan maupun cara penyajiannya.

Rijsttafel, Akulturasi Lidah Barat dan Pribumi

Perkembangan khazanah kuliner di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari persentuhannya dengan berbagai kebudayaan. Persentuhan ini mengakibatkan dua hal, pertama, mempertahankan unsur budaya asli; kedua, menerima unsur baru lantas menyesuaikannya ke dalam kebudayaan setempat.

Dalam hal ini, local genius memegang peranan yang sangat penting. Local genius  sebagai unsur-unsur atau ciri-ciri tradisional yang mampu bertahan dan bahkan memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan unsur-unsur budaya dari luar serta mengintegrasikannya dalam kebudayaan asli (Poespowardojo, 1986: 31), dapat membuat posisi budaya pribumi, sebagai budaya bangsa yang terjajah, menjadi sangat kuat.

Persentuhan budaya antara Barat dan pribumi ini menjadi babakan yang sangat penting dalam sejarah kuliner di Indonesia. Persentuhan dan perpaduan budaya ini bahkan membuahkan sebuah budaya baru yang dikenal dengan kebudayaan Indis (Soekiman, 2000: 26-27). Kebudayaan campuran layaknya kebudayaan Indis ini memang jamak terjadi. Dalam tatanan masyarakat jajahan, kaum Eropa menempati strata yang paling tinggi dan senantiasa menjaga eksklusivitasnya. Meski begitu, keeksklusivitasan ini tidak kuasa menolak pengaruh dari kebudayaan pribumi/setempat sebagai akibat dari adanya persinggungan sosial.

Dua kebudayaan tersebuat saling mempengaruhi dan saling menyerap dalam mentalitas keseharian mereka secara pelan namun pasti. Perpaduan ini mencakup segala bidang, mulai dari arsitektur, mode/fashion, bahasa, dan tentu saja, makanan[3]. Maka lahirlah rijsttafel, sebuah perpaduan budaya makan pribumi dan Eropa. Perpaduan ini bahkan hingga dalam hal pelayanan, tata cara makan hingga jenis hidangannya[4].

Keberadaan rijsttafel tidak dapat dipisahkan dari riwayat hubungan sosial budaya orang Belanda dengan pribumi. Dalam pandangan umum orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda, rijsttafel selalu dikesankan dengan kemewahan dan kemasyhuran[5]. Kesan-kesan tersebut merupakan hal unik dan menarik sebagai konsep budaya makan tradisonal pertama di Indonesia.

Embrio rijsttafel ini diperkirakan muncul sejak awal abad ke-19. pada masa tersebut orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia umumnya adalah para pria yang hidup sendiri di negeri koloninya tanpa istri dan anak-anak mereka. Kondisi ini jelas menyulitkan kehidupan biologis mereka, salah satunya adalah dalam hal makan sehari-hari. Di negeri jajahannya, sulit bagi mereka untuk menemukan makanan Eropa. Hal ini disebabkan, selain tidak adanya kaum wanita Eropa yang biasa mengurus hidupnya, juga disebabkan sulitnya menemukan bahan-bahan makanan Eropa tersebut. Jarak tempuh pelayaran laut yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya serta belum ditemukannya teknologi pengawetan bahan makanan sebelum tahun 1870, membuat bahan makanan Eropa begitu langka adanya; sekalipun ada umumnya sangat mahal sekali[6].

Dalam mengatasi permasalahan ini, maka mereka mengawini wanita-wanita pribumi yang masa itu dikenal dengan penamaan “nyai-nyai” untuk mengurus hidup mereka. Di tangan para nyai inilah, pria-pria Belanda tersebut terbiasa untuk makan nasi berikut hidangan lokal pribumi. Namun setelah dibukanya Terusan Suez pada 1869, makin banyaklah kaum wanita Belanda yang berangkat ke Hindia Belanda, sehingga percampuran budaya pun semakin cepat dan luas cakupannya[7].

Maka mudahlah mendapatkan hidangan Eropa dengan dibukanya Terusan Suez dan membanjirnya wanita Eropa. Namun ada satu hal yang tidak bisa diubah, yaitu iklim di tanah jajahan yang sangat berbeda dengan iklim di Eropa. Pengaruh iklim ini sangat nyata mengubah kehidupan orang-orang Belanda di Hindia, terutama kebiasaan makan mereka.

Selain di rumah, sarana seperti hotel, restoran, pasanggrahan, dan societeit (tempat perkumpulan) yang makin menjamur pada akhir abad 19 menjadi tempat-tempat utama dilangsungkannya rijsttafel[8]. Satu hal yang patut digarisbawahi dari rijsttafel di sini adalah kemasyhuran serta keeksotisannya, sehingga membuat para turis yang berkunjung ke Hindia Belanda penasaran untuk menikmatinya. Bayangkan saja, untuk melayani para tamu di tempat-tempat tersebut di atas membutuhkan tenaga pelayan pribumi yang berjumlah rata-rata 30 hingga 40 orang dengan memakai pakaian ala Jawa berpadu Eropa. Mereka bertugas membawa sekitar 40 hingga 60 jenis masakan[9].

 Rijsttafel di keluarga Belanda. Sumber: Wikipedia

Seperti halnya yang berlaku pada masyarakat pribumi, keluarga Eropa makan tiga kali sehari. Pada waktu itu, kebiasaan makan di lingkungan Eropa masih sederhana, yaitu nasi dengan tambahan ikan bakar dan sayur lodeh. Sementara pada keluarga Eropa kaya kebiasaan makan nasi setidaknya dilakukan sekali saja pada waktu makan siang dengan pilihan hidangan relatif banyak dalam menu makan mereka, seperti nasi dengan tambahan kuah-kuahan (sausen), sayur-sayuran (groentesausen), daging (ayam, sapi, babi), ikan laut dan sungai, udang,  telur serta sambal[10].

Dari menu hidangan di atas, dapat kita lihat betapa dominannya hidangan pribumi atas lidah Eropa. Hanya pada menu makan malam orang Eropa memilih untuk menyantap roti[11]. Pandangan terhadap rijsttafel pun mulai berubah. Mereka menciptakan suatu pandangan yang ideal tentangnya. Wujud pandangan ideal tersebut ialah “kemewahan”.

Kemewahan dalam aspek hidangan dan pelayanan rijsttafel sekilas memiliki keserupaan dengan tradisi dan kebiasaan makan di keraton-keraton Jawa pada masa lalu. Anggapan ini pada dasarnya dikaitkan oleh melimpahnya hidangan dalam penyajian serta besarnya penggunaan tenaga pelayan yang setia mengabdi kepada keluarga raja, yang dianggap sebagai peralihan dari manifestasi pengiriman upeti bahan-bahan makanan yang diterapkan kalangan istana (Onghokham melalui Rahman, 2011: 41-42).

Fenomena rijsttafel sebagai bentuk gaya hidup sebenarnya semacam penekanan seni boga adiluhung (haute cuisine) terhadap hidangan pribumi. Dalam pandangan orang Eropa, syarat haute cuisine umumnya tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahan-bahan makanan yang dapat diolah menjadi beragam jenis makanan. Usaha-usaha untuk menjadikannya suatu seni memasak tingkat tinggi menjadi latar belakang mengapa tradisi ini justru diangkat di kalangan orang Belanda. Tidak menonjolnya tradisi kuliner Belanda mungkin menjadi alasan utama mengapa mereka memanfaatkan kehidupan di Jawa ini dan menonjolkan kesan-kesan mewah serta istimewa[12].

Keberadaan rijsttafel sendiri lebih ditekankan sebagai salah satu rangkaian proses akulturasi antara budaya makan pribumi dan Belanda. Sikap dan karakter orang pribumi yang relatif terbuka terhadap kebudayaan luar turut mempermudah proses akulturasi ini.

Menurut Rahman (2011: 43), rijsttafel pada dasarnya merupakan fenomena yang muncul dari kebiasaan, lalu membentuk ciri khas budaya makan yang unik. Rijsttafel sendiri memang sangat identik dengan budaya orang-orang Belanda di wilayah koloninya, meskipun kenyataannya, jika melihat unsur hidangan, unsur pribumi begitu dominan.

Namun, rijsttafel sendiri pernah mengalami penyusutan seiring berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda yang digantikan kekuasaan militer Jepang di Indonesia. Semakin meningkatnya semangat nasionalisme membuat banyak orang Indonesia masa 1942 menolak kebudayaan dan kebiasaan orang-orang Belanda, termasuk salah satu diantaranya adalah rijsttafel. Meski begitu, tanpa disadari banyak unsur budaya makannya yang memberikan warisan bagi kuliner Indonesia. Bukan hanya makanan berupa perkedel (dari frikadel), semur (smoor), dan suar-suir ayam (zwartzuur) saja, namun pengubah-suaian tradisi makan ini kemudian dapat dilihat dari prasmanan sebagai gaya penyajian yang dipakai masyarakat Indonesia masa sekarang[13].

[Khothibul Umam – 2012]

Esei ini pernah dimuat dalam MIXMAGZ vol.7 “KULINER” edisi November 2012. Dapat diunduh di sini

Daftar Pustaka:

Lombard, Denys. 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian I: Batas-batas Pembaratan (Cet. Ketiga). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Poespowardojo, Soerjanto. 1986. “Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya.

Rahman, Fadly. 2010. Selayang Pandang Sejarah Budaya Makan Rijsttafel. URL: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2010/12/21/selayang-pandang-sejarah-budaya-makan-rijsttafel/ .

_______. 2011. Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Soekiman, Djoko. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX). Yogyakarta: Bentang.


[1] Beberapa nama menu makanan tersebut diambil dari buku Het Geheim van de Rijsttafel karya Oliefabriken Calve (Rahman, 2011: 105-107).

[2] Rijsttafel adalah istilah yang amat populer di Hindia Belanda pada paruh kedua abad ke-19. Rijst berarti “nasi” dan tafel yang secara bahasa sebenarnya berarti “meja”, namun lebih diartikan sebagai “hidangan.” Kedua kata itu dipadukan lalu dihasilkanlah kata rijsttafel. Istilah ini kemudian dipakai dan dikenal oleh orang Belanda dan keturunannya dari generasi-generasi terhadap hidangan Indonesia yang ditata komplet di atas meja makan. Lihat Fadly Rahman (2010), Selayang Pandang Sejarah Budaya Makan Rijsttafel,

URL: http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2010/12/21/selayang-pandang-sejarah-budaya-makan-rijsttafel/ , dilihat 06 Juni 2012, pukul 10.28 WIB.

[3] Untuk persinggungan dan perpaduan antara Barat dan pribumi dalam bidang sosial dan budaya, lihat Denys Lombard (2005), Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian I: Batas-batas Pembaratan, terutama bab III: Kerumitan Warisan Konseptual.

[4] Lihat Fadly Rahman (2011), Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942, hal. 8.

[5] Ibid.

[6] Lihat Fadly Rahman (2010), op cit.

[7] Lihat Djoko Soekiman (2000), Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII-Medio Abad XX), hal. 7-8.

[8] Hotel terkemuka seperti Des Indes di Batavia serta Savoy Homan dan Beau Sejour (Lembang) di Bandung, tercatat adalah contoh hotel yang menyediakan menu dan pelayanan ala rijsttafel. Lihat Fadly Rahman (2010), op cit.

[9] Lihat Fadly Rahman (2010), op cit.

[10] Lihat Fadly Rahman (2011), op cit, hal. 40.

[11] Ibid, hal. 41.

[12] Ibid, hal. 42.

[13] Lihat Fadly Rahman (2010), op cit.

2

Media Sosial: Sebuah Jejaring yang Penuh Kemungkinan

"Media Sosial". Foto: comparecamp.com

“Media Sosial”. Foto: comparecamp.com

Pada 17 Juli 2009, sebuah bom meledak kembali di Hotel JW Marriot. Peristiwa ini merupakan peristiwa kedua setelah bom Marriot pertama yang terjadi pada 5 Agustus 2003. Daniel Tumiwa melalui akun Twitter-nya, @DanielTumiwa, tercatat sebagai salah satu orang yang mengabarkan kejadian tersebut lewat Twitter.

Bom Marriot II di Mega Kuningan, Jakarta, bersama dengan pesawat US Airways yang jatuh di Sungai Hudson, Mumbai Terrorist Attack, demo protes hasil pemilihan presiden di Iran dan kebakaran hebat yang menghanguskan hutan Australia bagian selatan adalah contoh peristiwa yang disampaikan kepada publik via Twitter (Lubis, 2011: 83).

Dari berbagai peristiwa di atas, jejaring sosial sekarang telah berubah menjadi sebuah media alternatif. Jejaring sosial yang awalnya hanya mengabarkan apa yang terjadi di sekitar seseorang secara personal, kini berubah menjadi sebuah kanal “berita” baru. Twitter tak ubahnya menjelma menjadi “media” bagi pemilik akun.

Media Sosial dan Saluran Ekspresi Diri

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content (2010: 59-68).

Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi, meliputi blog, social network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Sementara itu, jejaring sosial adalah situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan umpan balik secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Saat teknologi internet makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses Facebook atau Twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone atau smart phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi, tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia.

Karena kecepatannya, media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita. Ketika membuka Facebook kita bisa tahu apa yang sedang happening saat itu lewat status-status yang dibuat oleh teman-teman kita. Lewat trending topic Twitter, semua hal yang sedang trend an sering diperbincangkan akan tampak.

Pesatnya perkembangan media sosial ini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai konten model lainnya.

Jejaring sosial, khususnya Twitter, dapat menggambarkan suasana psikologis seseorang. Sosiolog Cornell University, Michael Macy melaporkan jika orang-orang paling optimis di waktu sarapan, suasana hati memburuk selama siang hari, kemudian rebound di sekitar makan malam hingga ke tempat tidur (kesimpulan.com).

Sebagai pemilik akun, setiap pengguna jejaring sosial dengan bebas bisa “bersuara”. Jejaring sosial menjadi implementasi kemerdekaan berkspresi. Setiap sudut kehidupan pribadi, lingkungan sekitar, hingga isu-isu nasional mendapatkan tempatnya di sini. Mulai dari sekedar narsis, curhat, berbagi informasi lalu lintas dan cuaca hingga menggalang sesuatu demi tujuan tertentu. Apakah hal ini buruk? Tergantung. Dalam kasus yang dialami oleh Daniel Tumiwa, pengabaran yang dilakukannya tentang Bom Marriot II lebih dari dari sekedar berbagi. Twit-twit-nya selain mengabarkan peristiwa dan memposisikan dirinya sebagai saksi mata, telah berhasil membuka mata dunia tentang dahsyatnya sebuah jejaring sosial.

Jejaring sosial dan internet telah melakukan tugasnya dengan baik sebagai “anak kandung modernisme”. Kebebasan berekspresi dan kebangkitan demokrasi merupakan sebuah culture matters, di mana budaya ikut bicara[1]. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada “kebangkitan rakyat” yang berjenjang dari akar rumput lewat beragam organisasi politik, sosial dan keagamaan. Selain itu, lahir dan tumbuh juga gerakan masyarakat madani meski perannya belum tampak dan bermakna dalam membawa perubahan (Oetama, 2004: 36).

Hal ini cukup berguna di tengah keseragaman berita yang disampaikan oleh berbagai media, baik elektronik maupun cetak. Selain itu, tidak dipungkiri pula, berbagai korporasi media hanya menyampaikan informasi yang sesuai dengan kepentingan pemiliknya.

Media Sosial Versus Media Mainstream

Dalam dunia media massa, dua hal berlangsung hampir serentak di Indonesia: datangnya kebebasan pers hasil reformasi prodemokrasi serta berlangsungnya revolusi teknologi informasi (Oetama, 2004: 28). Pada saat bersamaan, media informasi dan komunikasi semakin membuat manusia tergantung padanya. Bahkan, komunikasi dua arah yang menjadi ciri forum tradisional dapat difasilitasi pula oleh teknologi informasi dengan internet dan segala fasilitasnya. Media massa yang dahulu menjadi “sumber” satu-satunya pun mendapatkan tantangan baru.

Media seharusnya menjadi saluran yang bebas dan netral, di mana semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan pandangannya secara bebas. Bahkan, C.P. Scott dari The Manchester Guardian berpendapat “Opini itu bebas, tetapi fakta adalah suci” (Oetama, 2004: 29). Pandangan semacam ini ditolak oleh kaum kritis.

Pandangan kritis melihat media bukan hanya alat dari kelompok dominan, tapi juga memproduksi ideologi dominan (Eriyanto, 2001: 36). Media membantu kelompok dominan menyebarkan gagasannya, mengontrol kelompok lain, dan membentuk konsensus antaranggota komunitas. Lewat medialah, ideologi dominan, apa yang baik dan apa yang buruk dimapankan (Barrat, 1994: 51-52).

Jadi, media bukanlah sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkontrol realitas, lengkap dengan pandangan, bias dan pemihakannya. Oleh karena itu media, terutama televisi, bisa mempengaruhi bangunan budaya masyarakat,baik pada aspek kognitif, afektif dan konatif penonton. Mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan penontonnya (Thohir, 2010).

Prof. De Volder, ahli etika media dari Universitas Leuven, Belgia, sudah sejak tahun 60-an menyebut jurnalisme sebagai obyektivitas yang subyektif (Oetama, 2004: 30). Selama sebuah media massa masih mempunyai kredibilitas serta tidak hanya menghamba pada pasar, dan mempunya wacana dan informasi yang positif kepada khalayak, masyarakat pun akan terus memberikan respon yang positif pula.

Wacana yang ditawarkan oleh media massa pun pasti selalu berbenturan dengan beragam kepentingan, mulai dari pemilik modal, kebijakan redaktur, pilihan politik, dan kepentingan komersial lainnya. Media massa akan terus mengabarkan “peristiwa” selama peristiwa itu tidak bertabrakan dengan kepentingan mereka.

Namun, penonton atau pembaca tidak selamanya bodoh. Masyarakat penonton akan terus mencari semua informasi yang mereka anggap layak dicerna. Masyarakat akan jengah ketika disuguhi sebuah “wacana dan informasi” yang itu-itu saja. Selama mereka tidak menemukan apa yang mereka cari dalam media arus utama alias mainstream, mereka pun akan memproduksinya sendiri.

Pilihan itu pun akhirnya jatuh pada media sosial. Internet dengan segala “kebebasannya” dapat mengakomodir hasrat pencarian masyarakat akan informasi yang lain. Dari sini muncullah yang namanya citizen journalist atau participatory journalist. Jurnalisme warga ini memungkinkan setiap masyarakat untuk menulis beritanya sendiri lantas mempublikasikannya.

Namun model jurnalisme warga juga tidak lepas dari kepentingan, setidaknya kepentingan personal. Banyak blog yang menahbiskan diri sebagai portal jurnalisme warga malah diisi dengan tulisan yang lebih bersifat keluhan pribadi (baca: curhat). Kondisi yang lebih parah terjadi pada akun Twitter. Karena konsep awalnya adalah “What are you doing now?”. Tagline ini mengarahkan agar pengguna berkontribusi dengan cara subjektif. Terlihat ada keintiman di situ (Lubis, 2011: 84).

Hal di atas tentu mengurangi sebuah akurasi berita. Oleh karena itu pada bulan November 2009, tagline Twitter berubah menjadi “What’s Happening?”. Perubahan ini sangat signifikan dan mengubah Twitter ke peran yang baru. Menurut Biz Stone, co-founder Twitter, layanan Twitter dapat membuat publik menjadikannya sebuah sumber informasi dari mereka yang menjadi saksi mata sebuah peristiwa (Lubis, 2011: 84).

Media arus utama pun yang posisinya sangat kuat akhirnya sadar dengan fenomena jurnalisme warga. Mereka akhirnya membuka kanal-kanal khusus untuk mengakomodasi suara warga. Baik lewat telepon, sms, status Facebook atau Twitter. Media arus utama juga memanfaatkan Twitter untuk “menjual” berita mereka. Maka dibuatlah akun Twitter untuk media arus utama. Masyarakat dapat mem-follow akun Twitter-nya. Masyarakat dapat memilih mana yang disuka atau yang tidak.

Penutup

Kenapa jejaring sosial begitu berkembang di Indonesia? Jawabannya ada pada kebebasan dan demokrasi. Di internet semua bebas berbicara. Semua bebas melakukan apa saja. Hal-hal yang dulu sangat sulit dicari, sekarang sangat mudah ditemui di Internet.

Apakah hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk sosial? Mungkin saja. Atau kebetulan pas dengan pameo orang Indonesia yang suka ngerumpi? Bisa jadi. Masyarakat tidak lagi bersosialisasi atau nongkrong di warung atau rumah tetangga, namun pindah ke forum-forum internet dan timeline Twitter.

Kebebasan dalam dunia maya juga bukan tanpa resiko. Penyebaran pornografi adalah salah satunya. Hal lain yang harus diwaspadai adalah terorisme. Kontrol ada pada setiap individu. Selama media sosial bisa memuaskan hasrat masyarakat, maka media sosial akan terus hidup dan berkembang.

Jejaring sosial pun bergerak menjadi saluran aspirasi masyarakat. Segala keluh kesah keseharian, ketidakpuasan pelayanan publik, hingga rencana revolusi yang terjadi di Timur Tengah atau China semuanya dikumandangkan lewat jejaring sosial.

Hal tersebut cukup mengganggu bagi beberapa otoritas tertentu, sehingga beberapa negara menerapkan aturan sensor yang ketat untuk arus internet. Mereka menutup paksa beberapa blog yang kritis dan menolak hadirnya situs asing yang berseberangan ideologi dengan pemerintah.

Media arus utama pun tidak bisa lagi memonopoli arus informasi. Bahkan kadang mereka memanfaatkan berita yang didapat dari jurnalisme warga. Tinggal kita semua yang dihadapkan pada banyaknya pilihan. Mau pilih yang mana? Menunggu berita, menulis sendiri peristiwa di sekitar kita, atau diam saja dan berlagak tidak peduli pada dunia.

[Khothibul Umam] – 2011

 

Daftar Pustaka:

Barrat, David. 1994. Media Sociology. London & New York: Routledge.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Kaplan, Andreas M; Michael Haenlein. 2010. “Users of The World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media” dalam Business Horizons edisi 53.

Lubis, Uni Z. 2011. “Twitter: Antara Jurnalisme, Saluran Berita dan Ekspresi Personal”, dalam Rollingstone Indonesia edisi 79 [November 2011].

Oetama, Jakob. 2004. “Antara Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna”, dalam Esei-esei Bentara 2004. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Thohir, Mudjahirin. 2010. ”Menyoal Tayangan Televisi”, dalam http://staff.undip.ac.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/tayangan-televisi/. Dilihat 17 November 2011 pukul 12.10 WIB.

Situs Web:

“Twitter Menegaskan Pola Leksikon Suasana Hati Seharian”, dalam http://www.kesimpulan.com/2011/10/twitter-menegaskan-pola-leksikon.html. Dilihat 17 November 2011, pukul 11.03 WIB.


[1] Samuel P. Huntington dan Laurence E. Harrison menulis fenomena ini dalam Culture Matter How Value Shape Human Progress (Oetama, 2004: 36).

0

Bre Redana, Sensasi Urban, dan Sejarah Diri

Berapa nama alias atau pseudonym yang biasanya dipunyai oleh seorang penulis? Biasanya lebih dari satu. Salah satu penulis Indonesia yang sering memakai nama pena dengan bukan nama aslinya adalah Bre Redana. Pria yang dalam dunia jurnalisme dikenal dengan Don Sabdono ini lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957. Tahun 1981 lulus dari Departemen Bahasa jurusan Bahasa Inggris Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Tahun 1986-1987 mengikuti program di Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun 1990-1991 melanjutkan studi di School of Journalism and Media Studies, Darlington, Inggris[1].

Sejak 1982 bekerja sebagai wartawan Kompas dengan selingan di antaranya ikut mengelola Serambi Indonesia di Aceh. Cerpen-cerpennya dimuat di harian Kompas, Suara Pembaruan, Republika, tabloid Aura, majalah Belanja, dan lain-lain. Sejumlah cerpennya hampir setiap tahun terpilih sebagai cerpen yang diterbitkan dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas. Kumpulan cerpennya yang telah terbit di antaranya adalah Urban Sensation! (1993), Dongeng Untuk Seorang Wanita (1999), Sarabande (2002), dan Rex (2008). Selain itu terbit pula kumpulan eseinya yang berjudul Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002).  Dengan nama pena yang lain, Gitanyali, telah terbit dua novel, yaitu Blues Merbabu (2011), serta lanjutannya, ‘65’ (2012).

Proses Awal: Mahasiswa dan Wartawan

Bre Redana menjalani masa-masa kecilnya sebagai siswa SD Kanisius (1970) dan SMP Negeri 2 (1973) di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu kuliah itulah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dengan aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. Ayahnya adalah seorang kader PKI di Salatiga, Gondo Waluyo. Sang ayah adalah seorang yang terpelajar, dijemput dan ditahan di tempat yang tidak diketahui ketika Bre berusia delapan tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia rajin menulis untuk pers di kampusnya. Karangannya juga coba dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka-lah ia berjodoh. Tulisannya banyak dimuat. Ia beroleh honor yang memadai sebagai penulis di harian ibu kota itu. Ironisnya, baru saja lulus sarjana muda dari Satya Wacana, tahun 1981, Bre Redana malah diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya.

Sebagai jurnalis pemula, pria Salatiga ini ditempatkan di bagian yang menangani kolom ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Seterusnya ia pindah ke bagian kota, olah raga, dan luar negeri, sampai akhirnya bertugas di bagian yang mengelola kolom budaya—pekerjaan yang sangat disukainya. Baginya sangat nyaman menangani kolom budaya yang sesuai dengan bakat dan minatnya, terutama kesenian tradisonal[2]. Petualangannya dengan kesenian tradisional usai selepas mengikuti kuliah kajian media di Darlington College of Tehnology, Inggris, 1990-1991.

Fokus tulisan Bre Redana beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan masyarakat Jakarta, seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko mewah Mark and Spencer. Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’.

Panutannya dalam menulis adalah Umberto Eco. Menurut Bre Redana, Umberto Eco sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan[3].

Kisah Urban dan Sejarah Diri

Cerita-cerita Bre Redana adalah cerita sehari-hari kaum urban yang bergelut dengan nasib dan dunianya. Tokoh-tokohnya dengan sangat mudah kita temui di berbagai pelosok kota, di terminal, mall, gedung bioskop, pasar, hingga sudut pantai. Tokoh-tokohnya berserakan dari kota kecil hingga kota besar, dengan aroma nasib masing-masing. Mulai dari percintaan, perselingkuhan, cemburu hingga cinta monyet[4].

Dalam Urban Sensation—kumpulan cerita pendek yang terbit pertama kali tahun 1993 dan dirilis ulang tahun 2008—bertebaran tentang kenangan-kenangan seorang petualang urban akan kampung halamannya. Mulai dari kota masa kecil yang telah jauh berubah, cinta monyet di masa muda, hingga kenangan akan kenakalan masa remaja yang dikisahkan dalam “Mbak Marem”.

Dunia kesenian tradisional dengan segala intriknya juga muncul dalam “Sri Tanjung Edan” dan “Mahesa Wulung”. Romantika rombongan kethoprak tobong, kehidupan para pemainnya mempertahankan eksistensi kesenian tradisional cukup apik dikisahkan Bre Redana dengan sudut pandang yang agak berbeda.

Sedangkan dalam Rex, Bre Redana berkutat dalam pertanyaan: apakah fiksi? Apakah realitas? Apakah mitos? Apakah sejarah? Dalam kumpulan cerpen ini, semua hal, semua obyek, sebenarnya tidak terdefinisikan oleh dirinya sendiri, melainkan bagaimana suatu teks mengungkapkannya. Rata-rata cerita pendek dalam kumpulan ini mencoba mengungkapkan secara sederhana apa yang disebut obyek, realitas, masa kini, masa lalu, cinta, kenangan, dan kebanyakan dibalut dalam penokohan seorang wanita.

Nuansa agak berbeda ditemui dalam Blues Merbabu dan ‘65’. Kedua novel yang ditulis dengan nama pena Gitanyali ini semacam biografi fiksi yang memakai gaya penceritaan apa adanya. Beberapa bagian agak terkesan kering dan kurang dramatis, namun mungkin hal ini memang disengaja oleh penulisnya.

Dua novel tersebut mengingatkan pada gaya menulis Haruki Murakami yang sering memakai gaya penulisan serupa. Blues Merbabu dan ‘65’ dengan sangat lancar tanpa tedheng aling-aling bercerita sejarah hidup tokoh Aku sedari kecil sebagai anak PKI hingga besar hingga berkarir pada sebuah media massa. Yang membuat novel ini berbeda dengan novel bertema tragedi 1965 yang lain adalah lugasnya penulis bercerita, seperti kutipan berikut: “Pernah aku harus mencari surat tidak tersangkut G30S/PKI. Aku ditanyai ada atau tidak hubunganku dengan PKI. Dalam hati aku ingin menjawab: “Seorang komunis menyetubuhi perempuan Sunda, lalu lahirlah aku….”.

Simpulan

Dalam dunia Bre Redana, Don Sabdono atau Gitanyali hidup adalah menjalani. Meski telah menjadi korban sejarah ia mengaku tidak akan dendam terhadap masa lalu. Bre sendiri merasa ia seperti tokoh Tomas dalam novel Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera. Dalam novel tersebut, Tomas adalah orang yang ingin melepaskan diri dari semua ikatan yang berlaku, baik dalam hal perempuan maupun ideologi[5].

Dengan semua karya-karyanya, Bre Redana seakan hanya ingin mencatat, terutama hal-hal kecil yang kadang luput dan dianggap tabu, termasuk sejarah diri sendiri yang kadang tidak ingin kita bagi.

[Khothibul Umam]

 

Daftar Pustaka:

Azwar, Nasrul. 2007. “Bre Redana”. URL: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687045-bre-redana/.

Christanty, Linda. 2009. “Namaku Bre Redana” dalam Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan Tentang Politik, Islam, dan Gay. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Rampan, Korrie Layun. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Grasindo: Jakarta.


[1] Lihat Korrie Layun Rampan (2000), hal: 209.

[2] “Sejak pertama masuk Kompas, saya lebih tertarik pada kebudayaan massa ketimbang adiluhung, seperti teater rakyat, kethoprak, sandiwara keliling. Ini kesenian yang hidup di masyarakat dan saya menulis kesenian lebih untuk menulis masyarakat ketimbang keseniannya sendiri,” katanya”. Lihat Linda Christanty (2009), hal: 78.

[3] Lihat Nasrul Azwar (2007), “Bre Redana”,URL: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687045 -bre-redana/, dilihat 24 Juni 2012, pukul 21.08 WIB.

[4] Tema-tema cerita tersebut senada dengan pengakuan Bre Redana yang melihat bahwa masyarakat sudah berubah. Menurutnya yang paling mencerminkan masyarakat kontemporer adalah mall, kafe, bioskop 21. Bre juga menulis budaya pop atau budaya massa agar orang mengerti kapitalisme itu apa sehingga sadar terhadap keburukannya dan tidak terlena. Lihat Christanty, op. cit, hal: 83.

[5] Ibid, hal: 86-87.

0

Minggu Sore dan Suburban Love yang Jingga

Minggu sore adalah salah satu hari yang selalu saya nantikan. Pada hari tersebut, pacar saya datang dari kampung halamannya ke Semarang, setelah selama tiga hari melakukan tugasnya untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di rumahnya.

Minggu sore kemarin (15 Juli 2012), adalah Minggu sore seperti Minggu sore yang lain. Saya menjemput pacar saya di sebuah pertigaan di mana kami sering bertemu, terus pulang ke kontrakan, lantas bercengkerama tentang aktivitas masing-masing selama berpisah tiga hari sambil minum secangkir teh. Namun, Minggu sore kemarin agak berbeda. Pada Minggu sore tersebut, kami berdua hendak menonton sebuah pertunjukan musik sebuah band Semarang yang bernama Lipstik Lipsing.

Saya pribadi tidak kenal secara langsung pada setiap personelnya. Saya tahu lagu mereka setelah mendapatkan lagunya dari seorang teman yang sialnya saya lupa namanya. Sebuah EP yang berisi tiga lagu, Early Express, Suburban Love dan Rebirth. Pada pendengaran pertama, jujur saya langsung suka🙂 Kesukaan saya pada lagu-lagu mereka pun saya tularkan pada pacar saya😀

Dan, ketika kami mendengar Lipstik Lipsing akan mengadakan sebuah pertunjukan di Tinjomoyo, maka bersukalah kami. Kami pun datang tepat waktu, sesuai edaran mereka lewat jejaring sosial yang mengatakan pertunjukan akan dimulai pukul 3 sore. Namun, ketika kami sampai tempat acara, rupanya acara belum siap. Masih terlihat para anggota band yang sedang check sound. Tidak apa. Molornya acara seakan memberi kesempatan pada kami untuk jalan-jalan terlebih dahulu di sela-sela batu sungai sambil mendengar gemericik air (halaaah)😀

Lipstik Lipsing Live @ Tinjomoyo. Sumber gambar: http://artikulasi.tumblr.com

Lipstik Lipsing Live @ Tinjomoyo. Sumber gambar: http://artikulasi.tumblr.com

Sekitar pukul 4 sore dimulailah acara. Mereka membawakan sekitar 10 lagu. Semua single mereka bawakan (setidaknya yang saya kenal) dengan beberapa lagu cover version. Secara umum, penampilan mereka luar biasa. Meski beberapa lagu agak janggal di telinga saya karena diaransemen ulang dengan tambahan biola. Beberapa lagu tampak lebih pelan dan syahdu (hiks!).

Saya membayangkan pertunjukan mereka akan sampai malam. Menyongsong matahari senja berpulang pada malam. Di benak saya sudah terbayang sebuah pertunjukan yang ketika hari gelap akan menyala lampu-lampu yang ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek yang magis. Saya membayangkan Suburban Love dimainkan saat terjadi peralihan tersebut. Hmm, namun bayangan saya tidak terjadi. Tidak apa. Penampilan mereka telah berhasil menyihir saya. Muka pacar saya memerah ketika Suburban Love disenandungkan. Ia mengaku “merinding” mendengarnya.

Sekali lagi, salut buat Lipstik Lipsing!!! Kalian luar biasa. Minggu sore kami menjadi “jingga” karenamu.

Tabik!!!🙂