"Media Sosial". Foto: comparecamp.com
“Media Sosial”. Foto: comparecamp.com

Pada 17 Juli 2009, sebuah bom meledak kembali di Hotel JW Marriot. Peristiwa ini merupakan peristiwa kedua setelah bom Marriot pertama yang terjadi pada 5 Agustus 2003. Daniel Tumiwa melalui akun Twitter-nya, @DanielTumiwa, tercatat sebagai salah satu orang yang mengabarkan kejadian tersebut lewat Twitter.

Bom Marriot II di Mega Kuningan, Jakarta, bersama dengan pesawat US Airways yang jatuh di Sungai Hudson, Mumbai Terrorist Attack, demo protes hasil pemilihan presiden di Iran dan kebakaran hebat yang menghanguskan hutan Australia bagian selatan adalah contoh peristiwa yang disampaikan kepada publik via Twitter (Lubis, 2011: 83).

Dari berbagai peristiwa di atas, jejaring sosial sekarang telah berubah menjadi sebuah media alternatif. Jejaring sosial yang awalnya hanya mengabarkan apa yang terjadi di sekitar seseorang secara personal, kini berubah menjadi sebuah kanal “berita” baru. Twitter tak ubahnya menjelma menjadi “media” bagi pemilik akun.

Media Sosial dan Saluran Ekspresi Diri

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content (2010: 59-68).

Media sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi, meliputi blog, social network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Sementara itu, jejaring sosial adalah situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan umpan balik secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Saat teknologi internet makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses Facebook atau Twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone atau smart phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi, tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia.

Karena kecepatannya, media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita. Ketika membuka Facebook kita bisa tahu apa yang sedang happening saat itu lewat status-status yang dibuat oleh teman-teman kita. Lewat trending topic Twitter, semua hal yang sedang trend an sering diperbincangkan akan tampak.

Pesatnya perkembangan media sosial ini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai konten model lainnya.

Jejaring sosial, khususnya Twitter, dapat menggambarkan suasana psikologis seseorang. Sosiolog Cornell University, Michael Macy melaporkan jika orang-orang paling optimis di waktu sarapan, suasana hati memburuk selama siang hari, kemudian rebound di sekitar makan malam hingga ke tempat tidur (kesimpulan.com).

Sebagai pemilik akun, setiap pengguna jejaring sosial dengan bebas bisa “bersuara”. Jejaring sosial menjadi implementasi kemerdekaan berkspresi. Setiap sudut kehidupan pribadi, lingkungan sekitar, hingga isu-isu nasional mendapatkan tempatnya di sini. Mulai dari sekedar narsis, curhat, berbagi informasi lalu lintas dan cuaca hingga menggalang sesuatu demi tujuan tertentu. Apakah hal ini buruk? Tergantung. Dalam kasus yang dialami oleh Daniel Tumiwa, pengabaran yang dilakukannya tentang Bom Marriot II lebih dari dari sekedar berbagi. Twit-twit-nya selain mengabarkan peristiwa dan memposisikan dirinya sebagai saksi mata, telah berhasil membuka mata dunia tentang dahsyatnya sebuah jejaring sosial.

Jejaring sosial dan internet telah melakukan tugasnya dengan baik sebagai “anak kandung modernisme”. Kebebasan berekspresi dan kebangkitan demokrasi merupakan sebuah culture matters, di mana budaya ikut bicara[1]. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada “kebangkitan rakyat” yang berjenjang dari akar rumput lewat beragam organisasi politik, sosial dan keagamaan. Selain itu, lahir dan tumbuh juga gerakan masyarakat madani meski perannya belum tampak dan bermakna dalam membawa perubahan (Oetama, 2004: 36).

Hal ini cukup berguna di tengah keseragaman berita yang disampaikan oleh berbagai media, baik elektronik maupun cetak. Selain itu, tidak dipungkiri pula, berbagai korporasi media hanya menyampaikan informasi yang sesuai dengan kepentingan pemiliknya.

Media Sosial Versus Media Mainstream

Dalam dunia media massa, dua hal berlangsung hampir serentak di Indonesia: datangnya kebebasan pers hasil reformasi prodemokrasi serta berlangsungnya revolusi teknologi informasi (Oetama, 2004: 28). Pada saat bersamaan, media informasi dan komunikasi semakin membuat manusia tergantung padanya. Bahkan, komunikasi dua arah yang menjadi ciri forum tradisional dapat difasilitasi pula oleh teknologi informasi dengan internet dan segala fasilitasnya. Media massa yang dahulu menjadi “sumber” satu-satunya pun mendapatkan tantangan baru.

Media seharusnya menjadi saluran yang bebas dan netral, di mana semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan pandangannya secara bebas. Bahkan, C.P. Scott dari The Manchester Guardian berpendapat “Opini itu bebas, tetapi fakta adalah suci” (Oetama, 2004: 29). Pandangan semacam ini ditolak oleh kaum kritis.

Pandangan kritis melihat media bukan hanya alat dari kelompok dominan, tapi juga memproduksi ideologi dominan (Eriyanto, 2001: 36). Media membantu kelompok dominan menyebarkan gagasannya, mengontrol kelompok lain, dan membentuk konsensus antaranggota komunitas. Lewat medialah, ideologi dominan, apa yang baik dan apa yang buruk dimapankan (Barrat, 1994: 51-52).

Jadi, media bukanlah sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkontrol realitas, lengkap dengan pandangan, bias dan pemihakannya. Oleh karena itu media, terutama televisi, bisa mempengaruhi bangunan budaya masyarakat,baik pada aspek kognitif, afektif dan konatif penonton. Mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan penontonnya (Thohir, 2010).

Prof. De Volder, ahli etika media dari Universitas Leuven, Belgia, sudah sejak tahun 60-an menyebut jurnalisme sebagai obyektivitas yang subyektif (Oetama, 2004: 30). Selama sebuah media massa masih mempunyai kredibilitas serta tidak hanya menghamba pada pasar, dan mempunya wacana dan informasi yang positif kepada khalayak, masyarakat pun akan terus memberikan respon yang positif pula.

Wacana yang ditawarkan oleh media massa pun pasti selalu berbenturan dengan beragam kepentingan, mulai dari pemilik modal, kebijakan redaktur, pilihan politik, dan kepentingan komersial lainnya. Media massa akan terus mengabarkan “peristiwa” selama peristiwa itu tidak bertabrakan dengan kepentingan mereka.

Namun, penonton atau pembaca tidak selamanya bodoh. Masyarakat penonton akan terus mencari semua informasi yang mereka anggap layak dicerna. Masyarakat akan jengah ketika disuguhi sebuah “wacana dan informasi” yang itu-itu saja. Selama mereka tidak menemukan apa yang mereka cari dalam media arus utama alias mainstream, mereka pun akan memproduksinya sendiri.

Pilihan itu pun akhirnya jatuh pada media sosial. Internet dengan segala “kebebasannya” dapat mengakomodir hasrat pencarian masyarakat akan informasi yang lain. Dari sini muncullah yang namanya citizen journalist atau participatory journalist. Jurnalisme warga ini memungkinkan setiap masyarakat untuk menulis beritanya sendiri lantas mempublikasikannya.

Namun model jurnalisme warga juga tidak lepas dari kepentingan, setidaknya kepentingan personal. Banyak blog yang menahbiskan diri sebagai portal jurnalisme warga malah diisi dengan tulisan yang lebih bersifat keluhan pribadi (baca: curhat). Kondisi yang lebih parah terjadi pada akun Twitter. Karena konsep awalnya adalah “What are you doing now?”. Tagline ini mengarahkan agar pengguna berkontribusi dengan cara subjektif. Terlihat ada keintiman di situ (Lubis, 2011: 84).

Hal di atas tentu mengurangi sebuah akurasi berita. Oleh karena itu pada bulan November 2009, tagline Twitter berubah menjadi “What’s Happening?”. Perubahan ini sangat signifikan dan mengubah Twitter ke peran yang baru. Menurut Biz Stone, co-founder Twitter, layanan Twitter dapat membuat publik menjadikannya sebuah sumber informasi dari mereka yang menjadi saksi mata sebuah peristiwa (Lubis, 2011: 84).

Media arus utama pun yang posisinya sangat kuat akhirnya sadar dengan fenomena jurnalisme warga. Mereka akhirnya membuka kanal-kanal khusus untuk mengakomodasi suara warga. Baik lewat telepon, sms, status Facebook atau Twitter. Media arus utama juga memanfaatkan Twitter untuk “menjual” berita mereka. Maka dibuatlah akun Twitter untuk media arus utama. Masyarakat dapat mem-follow akun Twitter-nya. Masyarakat dapat memilih mana yang disuka atau yang tidak.

Penutup

Kenapa jejaring sosial begitu berkembang di Indonesia? Jawabannya ada pada kebebasan dan demokrasi. Di internet semua bebas berbicara. Semua bebas melakukan apa saja. Hal-hal yang dulu sangat sulit dicari, sekarang sangat mudah ditemui di Internet.

Apakah hal ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk sosial? Mungkin saja. Atau kebetulan pas dengan pameo orang Indonesia yang suka ngerumpi? Bisa jadi. Masyarakat tidak lagi bersosialisasi atau nongkrong di warung atau rumah tetangga, namun pindah ke forum-forum internet dan timeline Twitter.

Kebebasan dalam dunia maya juga bukan tanpa resiko. Penyebaran pornografi adalah salah satunya. Hal lain yang harus diwaspadai adalah terorisme. Kontrol ada pada setiap individu. Selama media sosial bisa memuaskan hasrat masyarakat, maka media sosial akan terus hidup dan berkembang.

Jejaring sosial pun bergerak menjadi saluran aspirasi masyarakat. Segala keluh kesah keseharian, ketidakpuasan pelayanan publik, hingga rencana revolusi yang terjadi di Timur Tengah atau China semuanya dikumandangkan lewat jejaring sosial.

Hal tersebut cukup mengganggu bagi beberapa otoritas tertentu, sehingga beberapa negara menerapkan aturan sensor yang ketat untuk arus internet. Mereka menutup paksa beberapa blog yang kritis dan menolak hadirnya situs asing yang berseberangan ideologi dengan pemerintah.

Media arus utama pun tidak bisa lagi memonopoli arus informasi. Bahkan kadang mereka memanfaatkan berita yang didapat dari jurnalisme warga. Tinggal kita semua yang dihadapkan pada banyaknya pilihan. Mau pilih yang mana? Menunggu berita, menulis sendiri peristiwa di sekitar kita, atau diam saja dan berlagak tidak peduli pada dunia.

[Khothibul Umam] – 2011

 

Daftar Pustaka:

Barrat, David. 1994. Media Sociology. London & New York: Routledge.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

Kaplan, Andreas M; Michael Haenlein. 2010. “Users of The World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media” dalam Business Horizons edisi 53.

Lubis, Uni Z. 2011. “Twitter: Antara Jurnalisme, Saluran Berita dan Ekspresi Personal”, dalam Rollingstone Indonesia edisi 79 [November 2011].

Oetama, Jakob. 2004. “Antara Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna”, dalam Esei-esei Bentara 2004. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Thohir, Mudjahirin. 2010. ”Menyoal Tayangan Televisi”, dalam http://staff.undip.ac.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/tayangan-televisi/. Dilihat 17 November 2011 pukul 12.10 WIB.

Situs Web:

“Twitter Menegaskan Pola Leksikon Suasana Hati Seharian”, dalam http://www.kesimpulan.com/2011/10/twitter-menegaskan-pola-leksikon.html. Dilihat 17 November 2011, pukul 11.03 WIB.


[1] Samuel P. Huntington dan Laurence E. Harrison menulis fenomena ini dalam Culture Matter How Value Shape Human Progress (Oetama, 2004: 36).

Iklan