Bre Redana. Foto: www.aseanliteraryfestival.com
Bre Redana. Foto: http://www.aseanliteraryfestival.com

Berapa nama alias atau pseudonym yang biasanya dipunyai oleh seorang penulis? Biasanya lebih dari satu. Salah satu penulis Indonesia yang sering memakai nama pena dengan bukan nama aslinya adalah Bre Redana. Pria yang dalam dunia jurnalisme dikenal dengan Don Sabdono ini lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957. Tahun 1981 lulus dari Departemen Bahasa jurusan Bahasa Inggris Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Tahun 1986-1987 mengikuti program di Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun 1990-1991 melanjutkan studi di School of Journalism and Media Studies, Darlington, Inggris[1].

Sejak 1982 bekerja sebagai wartawan Kompas dengan selingan di antaranya ikut mengelola Serambi Indonesia di Aceh. Cerpen-cerpennya dimuat di harian Kompas, Suara Pembaruan, Republika, tabloid Aura, majalah Belanja, dan lain-lain. Sejumlah cerpennya hampir setiap tahun terpilih sebagai cerpen yang diterbitkan dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas. Kumpulan cerpennya yang telah terbit di antaranya adalah Urban Sensation! (1993), Dongeng Untuk Seorang Wanita (1999), Sarabande (2002), dan Rex (2008). Selain itu terbit pula kumpulan eseinya yang berjudul Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002).  Dengan nama pena yang lain, Gitanyali, telah terbit dua novel, yaitu Blues Merbabu (2011), serta lanjutannya, ‘65’ (2012).

Proses Awal: Mahasiswa dan Wartawan

Bre Redana menjalani masa-masa kecilnya sebagai siswa SD Kanisius (1970) dan SMP Negeri 2 (1973) di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa Tengah. Waktu kuliah itulah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dengan aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. Ayahnya adalah seorang kader PKI di Salatiga, Gondo Waluyo. Sang ayah adalah seorang yang terpelajar, dijemput dan ditahan di tempat yang tidak diketahui ketika Bre berusia delapan tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia rajin menulis untuk pers di kampusnya. Karangannya juga coba dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka-lah ia berjodoh. Tulisannya banyak dimuat. Ia beroleh honor yang memadai sebagai penulis di harian ibu kota itu. Ironisnya, baru saja lulus sarjana muda dari Satya Wacana, tahun 1981, Bre Redana malah diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya.

Sebagai jurnalis pemula, pria Salatiga ini ditempatkan di bagian yang menangani kolom ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Seterusnya ia pindah ke bagian kota, olah raga, dan luar negeri, sampai akhirnya bertugas di bagian yang mengelola kolom budaya—pekerjaan yang sangat disukainya. Baginya sangat nyaman menangani kolom budaya yang sesuai dengan bakat dan minatnya, terutama kesenian tradisonal[2]. Petualangannya dengan kesenian tradisional usai selepas mengikuti kuliah kajian media di Darlington College of Tehnology, Inggris, 1990-1991.

Fokus tulisan Bre Redana beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan masyarakat Jakarta, seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko mewah Mark and Spencer. Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’.

Panutannya dalam menulis adalah Umberto Eco. Menurut Bre Redana, Umberto Eco sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan[3].

Kisah Urban dan Sejarah Diri

Cerita-cerita Bre Redana adalah cerita sehari-hari kaum urban yang bergelut dengan nasib dan dunianya. Tokoh-tokohnya dengan sangat mudah kita temui di berbagai pelosok kota, di terminal, mall, gedung bioskop, pasar, hingga sudut pantai. Tokoh-tokohnya berserakan dari kota kecil hingga kota besar, dengan aroma nasib masing-masing. Mulai dari percintaan, perselingkuhan, cemburu hingga cinta monyet[4].

Dalam Urban Sensation—kumpulan cerita pendek yang terbit pertama kali tahun 1993 dan dirilis ulang tahun 2008—bertebaran tentang kenangan-kenangan seorang petualang urban akan kampung halamannya. Mulai dari kota masa kecil yang telah jauh berubah, cinta monyet di masa muda, hingga kenangan akan kenakalan masa remaja yang dikisahkan dalam “Mbak Marem”.

Dunia kesenian tradisional dengan segala intriknya juga muncul dalam “Sri Tanjung Edan” dan “Mahesa Wulung”. Romantika rombongan kethoprak tobong, kehidupan para pemainnya mempertahankan eksistensi kesenian tradisional cukup apik dikisahkan Bre Redana dengan sudut pandang yang agak berbeda.

Sedangkan dalam Rex, Bre Redana berkutat dalam pertanyaan: apakah fiksi? Apakah realitas? Apakah mitos? Apakah sejarah? Dalam kumpulan cerpen ini, semua hal, semua obyek, sebenarnya tidak terdefinisikan oleh dirinya sendiri, melainkan bagaimana suatu teks mengungkapkannya. Rata-rata cerita pendek dalam kumpulan ini mencoba mengungkapkan secara sederhana apa yang disebut obyek, realitas, masa kini, masa lalu, cinta, kenangan, dan kebanyakan dibalut dalam penokohan seorang wanita.

Nuansa agak berbeda ditemui dalam Blues Merbabu dan ‘65’. Kedua novel yang ditulis dengan nama pena Gitanyali ini semacam biografi fiksi yang memakai gaya penceritaan apa adanya. Beberapa bagian agak terkesan kering dan kurang dramatis, namun mungkin hal ini memang disengaja oleh penulisnya.

Dua novel tersebut mengingatkan pada gaya menulis Haruki Murakami yang sering memakai gaya penulisan serupa. Blues Merbabu dan ‘65’ dengan sangat lancar tanpa tedheng aling-aling bercerita sejarah hidup tokoh Aku sedari kecil sebagai anak PKI hingga besar hingga berkarir pada sebuah media massa. Yang membuat novel ini berbeda dengan novel bertema tragedi 1965 yang lain adalah lugasnya penulis bercerita, seperti kutipan berikut: “Pernah aku harus mencari surat tidak tersangkut G30S/PKI. Aku ditanyai ada atau tidak hubunganku dengan PKI. Dalam hati aku ingin menjawab: “Seorang komunis menyetubuhi perempuan Sunda, lalu lahirlah aku….”.

Simpulan

Dalam dunia Bre Redana, Don Sabdono atau Gitanyali hidup adalah menjalani. Meski telah menjadi korban sejarah ia mengaku tidak akan dendam terhadap masa lalu. Bre sendiri merasa ia seperti tokoh Tomas dalam novel Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera. Dalam novel tersebut, Tomas adalah orang yang ingin melepaskan diri dari semua ikatan yang berlaku, baik dalam hal perempuan maupun ideologi[5].

Dengan semua karya-karyanya, Bre Redana seakan hanya ingin mencatat, terutama hal-hal kecil yang kadang luput dan dianggap tabu, termasuk sejarah diri sendiri yang kadang tidak ingin kita bagi.

[Khothibul Umam]

 

Daftar Pustaka:

Azwar, Nasrul. 2007. “Bre Redana”. URL: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687045-bre-redana/.

Christanty, Linda. 2009. “Namaku Bre Redana” dalam Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan Tentang Politik, Islam, dan Gay. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Rampan, Korrie Layun. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Grasindo: Jakarta.


[1] Lihat Korrie Layun Rampan (2000), hal: 209.

[2] “Sejak pertama masuk Kompas, saya lebih tertarik pada kebudayaan massa ketimbang adiluhung, seperti teater rakyat, kethoprak, sandiwara keliling. Ini kesenian yang hidup di masyarakat dan saya menulis kesenian lebih untuk menulis masyarakat ketimbang keseniannya sendiri,” katanya”. Lihat Linda Christanty (2009), hal: 78.

[3] Lihat Nasrul Azwar (2007), “Bre Redana”,URL: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687045 -bre-redana/, dilihat 24 Juni 2012, pukul 21.08 WIB.

[4] Tema-tema cerita tersebut senada dengan pengakuan Bre Redana yang melihat bahwa masyarakat sudah berubah. Menurutnya yang paling mencerminkan masyarakat kontemporer adalah mall, kafe, bioskop 21. Bre juga menulis budaya pop atau budaya massa agar orang mengerti kapitalisme itu apa sehingga sadar terhadap keburukannya dan tidak terlena. Lihat Christanty, op. cit, hal: 83.

[5] Ibid, hal: 86-87.

Iklan