Apa arti sebuah perubahan di lingkungan sekitar bagi seorang anak kecil? Tanyakan itu pada Anna de la Mesa maka ia akan menyalahkan Fidel Castro!!! 😀

Image

Ya, itulah cerita dari sebuah film yang berjudul Blame It On Fidel. Sebuah film Perancis buatan tahun 2006. Berlatar tahun 1970-an awal ketika marak pergerakan revolusioner di Perancis. Hidup Anna mendadak berubah gara-gara orangtuanya tiba-tiba menjadi aktivis politik radikal. Anna yang sebelumnya hidup nyaman dalam rumah yang besar dan mempunyai kebun sendiri harus hidup berpindah ke flat yang sempit. Pengasuhnya pun selalu berganti dari orang Kuba, Yunani hingga Vietnam.

Tiba-tiba rumahnya penuh dengan kamerad-kamerad kawan ayahnya yang rata-rata berjanggut lebat tidak pernah bercukur yang selalu berdiskusi tentang revolusi hingga tengah malam. Ibunya pun selalu sibuk menerima tamu berbagai macam wanita yang ingin konsultasi tentang masalah aborsi. Tradisi “Hari Minggu untuk Keluarga” pun mendadak hilang karena kesibukan orangtuanya. Belum lagi orangtuanya tidak lagi memasukkannya dalam pelajaran Injil. Semuanya berubah!!!

Film ini seakan memotret perubahan yang kadang membuat “masa kecil” menjadi tidak nyaman. Menonton film ini seperti dejavu. Saya teringat sekitar akhir 1990-an, di mana mendadak semuanya berubah ketika saya masuk kelas 2 SMP. Saya sekolah di sebuah asrama pesantren di Solo. Pada suatu siang di sebuah pertokoan tempat di mana saya biasa main ding dong, mendadak terdengar ledakan dari luar arena bermain. Perempatan di depan pertokoan telah penuh dengan asap hitam. Beberapa ban bekas dan sepeda motor telah dibakar di tengah jalan. Suasana begitu kacau, teman-teman saya ada yang menjarah sepatu namunkanan semua, ada yang menjarah toko kaset, saya yang hanya terbengong pulang dengan tangan hampa sambil melewati gedung bioskop GALAXY yang telah ditulisi “Milik Haji Waluyo”.

Pada waktu itu, perubahan saya rasakan sangat menegangkan. Mendadak para siswa tidak boleh keluar malam. Keluar asrama pun harus ijin pengurus asrama. Tempat main ding dong saya pun telah jadi abu. Saya menduga, sesuatu yang lebih hebat akan terjadi. Salah satunya adalah dalam mata pelajaran dan sekolah. Kami tidak lagi diwajibkan menghapalkan nama-nama menteri kabinet, libur sekolah sebulan penuh di bulan Ramadan, hingga begitu banyaknya orang berdemonstrasi sampai saya bosan melihatnya.

Saya tidak seperti Anna yang sangat sewot terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Setelah reformasi saya merasa biasa-biasa saja. Ibu saya termasuk orang yang sangat gembira ketika Gus Dur menjadi presiden hingga hendak menamai adik bungsu saya dengan nama Abdurrahman Wahid jika ia lahir laki-laki. Ibu saya juga sangat sedih ketika Gus Dur dimakzulkan.

Saya bukan aktivis mahasiswa 98 yang katanya “mereformasi” negeri ini. Saat itu, saya hanya seorang anak kecil yang menjadi saksi mata terbakarnya tempat main ding dong saya. Kalaupun saya mau menyalahkan seperti Anna, maka sepertinya saya harus menyalahkan mereka yang membakar arena ding dong. Hingga sepuluh tahun lebih, tempat ding dong tidak pernah direnovasi. Konon banyak yang mati terbakar di pertokoan tersebut.

Ya begitulah… perubahan selalu memakan korban. Bagi saya reformasi hanya mempersulit saya untuk main ding dong dan nonton bioskop kelas dua yang sering memutar film “saru”. Sekian.

[tulisan ini sebelumnya telah saya muat di tumblr saya dua tahun yang lalu]

Iklan