z ambon

Beberapa hari yang lalu saya nongkrong di sebuah warung makan di pojokan Taman Budaya, sembari menunggu jemputan teman yang akan mengajak jalan-jalan ke Kota Lama. Sambil minum kopi membunuh waktu saya berbincang dengan seorang anak STM, Ambon namanya.

Ambon, sepertinya sedang membolos saat itu. Ia mengaku sedang enggan masuk kelas. Apakah karena gurumu nggak asyik?, tanya saya. Iya, mas. Guru saya nggak asyik. Mentang-mentang sekolah negeri mbayarnya gratis, jadinya ngajar sak karepe dhewe!, jawabnya. Ah, mbolos itu nggak apa, sanggah saya, kalau bosan sekolah, ya, mbolos tu solusi terbaik, imbuh saya sambil tergelak. Mendengar jawaban saya mata Ambon tampak berbinar. Mungkin ia merasa mendapat teman atau pembenaran terhadap ulahnya.

Aku dulu juga sering mbolos kok, Mbon. Biasanya hari Senin, biar bisa nonton bioskop dengan harga lebih murah. Oh ya, kamu ini mbolos hanya karena emang lagi males sama gurumu atau apa?, tanyaku. Faktor utama ya males itu mas. Sama ingin diperhatikan orang tua. Bapak Ibu sibuk dagang, mas. Saya anaknya nggak pernah diurusin. Emang sih saya minta apa-apa dikasih. Mereka bilang pokoknya saya harus sekolah. Dulu saya sekolahnya SMA, mas. Tapi aslinya saya nggak mau. Saya maunya otomotif, STM. Bapak Ibu saya pingin saya nanti kuliah hukum, jadi harus masuk SMA!, sosor Ambon dengan menggebu. Lhah, itu minta apa aja dikasih kok kamu bilang nggak diurusin?, cecarku. Maksudnya diurusin itu diberi kasih sayang, mas. Perhatian!, jawabnya sengit.

Kontan saya terbahak. Anak ini cerdas sebenarnya. Ia nakal dengan sadar, hanya cari perhatian terhadap orang tuanya. Capernya pun hanya tingkat mbolos. Setidaknya ia tidak nyewek atau narkoba. Atau mungkin bagian itu tidak diceritakannya pada saya. Akhirnya cerita Ambon terputus. Tiba-tiba datang beberapa teman ceweknya. Sikap Ambon pun berubah. Tampak ia memasang tampang lebih dewasa. Secara perlahan ia menyingkir dari obrolan. Saya diam saja sambil mengambil satu batang Dji Sam Soe miliknya…

Iklan