Seno Gumira Ajidarma
Seno Gumira Ajidarma

Sangatlah jarang ada seorang sastrawan sekaligus seorang akademisi. Apalagi dengan produktivitas yang cukup tinggi. Kalau mau menyebut nama, ada Sapardi Djoko Damono, Kuntowijoyo, Umar Kayam, hingga nama yang mutakhir seperti Seno Gumira Ajidarma (SGA). SGA sendiri selain sebagai seorang akademisi di Institut Kesenian Jakarta juga berprofesi sebagai jurnalis.

Sebenarnya tidaklah mengherankan jika sebagai seorang sastrawan Seno Gumira Ajidarma (SGA) juga berprofesi sebagai seorang akademisi. Ia hidup di tengah-tengah lingkungan akademik Bulaksumur, sebuah pemukiman dosen Universitas Gadjah Mada. Ayahnya adalah seorang guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada bernama Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo (alm). Ibunya, Poestika Kusuma Sujana (alm), adalah dokter spesialis penyakit dalam[1].

SGA lahir di Boston, 19 Juni 1958. Setelah lulus SMA de Brito, Yogyakarta, ia melanjutkan studinya di Jurusan Film, Institut Kesenian Jakarta. Ia mula-mula menulis puisi dengan menggunakan nama Mira Sato. Tahun 1976 ia mulai menulis cerita pendek “Sketsa dalam Satu Hari” yang dimuat di harian Berita Nasional, Yogyakarta. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi Sinema Indonesia (1980), redaktur Zaman (1983-1984), dan sejak 1985 bekerja di Majalah Jakarta-Jakarta.

Dengan menggunakan nama Mira Sato ia sempat menerbitkan kumpulan puisi Granat dan Dinamit (1975, bersama Ajie Sudarmadji Mukhsin), Mati Mati Mati (1975), Bayi Mati (1978), Catatan-catatan Mira Sato (1978). Sejak itu ia menulis dan menerbitkan buku-bukunya dengan nama asli, seperti: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta; Negeri Kabut; Jazz, Parfum dan Insiden (1996), Iblis Tidak Pernah Mati; Atas Nama Malam (1999), Wisanggeni (2000), Kitab Omong Kosong; Nagabumi; Mengapa Kau Culik Anak Kami?;, dan lain-lain[2].  

Selain itu, SGA juga menulis beberapa karya nonfiksi, seperti: Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997), Layar Kata; Kisah Mata; Surat dari Palmerah (2002), Affair: Obrolan Tentang Jakarta; Sembilan Wali dan Siti Jenar (2007), Kentut Kosmopolitan (2008), dan Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan (2011).   

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara

SGA berproses kreatif ketika negeri ini masih diliputi oleh rezim Orde Baru. Sebuah orde pemerintahan yang mengekang demokrasi dan kebebasan berpendapat dalam segala bidang. Sebuah rezim korup yang hanya mengijinkan suara tunggal untuk berpendapat, dan celakanya hal itu merupakan buatan rezim itu sendiri.

Dalam kondisi serba terkekang itulah, apalagi ketika terjadi pembredelan terhadap Tempo, Detik dan Editor, SGA mungkin salah satu sastrawan yang berhasil menyusun kredo kepengarangannya yang ia sebut “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”[3]. Menurut SGA, jika jurnalisme bicara dengan fakta, maka sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan[4].

Latar belakang SGA sebagai seorang jurnalis lah yang menuntutnya untuk “berbicara”. Ketika reportase dan investigasi seorang jurnalis tidak bisa diterbitkan karena represi sebuah rezim politik, maka fiksi dapat menjadi jalan keluar. Menurut SGA, kesusasteraan hidup di dalam pikiran. Di dalam sejarah kemanusiaan yang panjang, kebenaran dalam sastra akhirnya menjulang dengan sendirinya, di tengah hiruk pikuk macam apa pun yang diprogram secara terperinci lewat media komunikasi massa[5].

Karya “setengah reportase setengah fiksi”, sebagai akibat dari kredonya, sangat tampak pada karya SGA sekitar 1990-an. Ia banyak menulis tentang penembakan misterius, tragedi Dili, konflik Dayak Madura, DOM di Aceh, hingga tragedi 65. Dengan pilihan tema seperti itu, SGA seakan menulis ulang sejarah dengan versinya sendiri. Karya macam ini muncul dalam Penembak Misterius, Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, dan drama Mengapa Kau Culik Anak Kami.

Dengan “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”, SGA seakan meneguhkan jika kebenaran dalam kesusasteraan adalah sebuah perlawanan bagi historisisme, sejarah yang hanya diciptakan bagi pembenaran kekuasaan. Kebenaran di dalam kesusasteraan sama sekali tidak tergantung pada tanah dan karas—keduanya alat tulis Jawa Kuno—maupun komputer, tetapi oleh visi dalam kepala yang dengan sendirinya antikompromi terhadap pemalsuan sejarah[6].

SGA dan Ranah Filsafat

Lalu, jika rezim yang ditentang telah runtuh, namun kehidupan sosial belum juga tampak baik, atau mungkin lebih parah, apa yang akan dilakukan seorang sastrawan seperti SGA? Tidak lain ia tetap menulis. Tentu dengan gaya yang berkembang. Pada dekade 2000-an hingga sekarang, SGA sering menulis dengan bumbu-bumbu filsafat. Hal ini tidak lepas dari studinya tentang filsafat pada Program Pascasarjana UI. Yang paling menonjol adalah Kitab Omong Kosong, Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk dan Nagabumi II: Buddha, Pedang dan Penyamun Terbang.

Kitab Omong Kosong ditulis oleh SGA dengan latar kisah Ramayana. Walau berlatar Ramayana, novel ini bukanlah sebuah penceritaan ulang atau dekonstruksi atas Ramayana. Kitab Omong Kosong mengambil sudut penceritaan setelah tragedi penyerbuan balatentara Sri Rama atas negeri-negeri Anak Benua dengan pencerita seorang Togog. Penyerbuan itu mengakibatkan rusaknya tatanan peradaban manusia dan hanya bisa disembuhkan dengan mempelajari Kitab Omong Kosong karya Sang Hanoman. Dalam novel ini, berbagai ajaran filsafat dituangkan oleh SGA lewat Kitab Omong Kosong[7].

Sedangkan dalam serial Nagabumi SGA mengambil kisah dari dunia persilatan dengan latar Tanah Jawa sekitar abad 8-9 Masehi ketika Borobudur sedang dibangun. Tokohnya adalah seorang pendekar yang bernama Pendekar Tanpa Nama, yang mencari kesempurnaan hidup lewat jalan silat dan filsafat[8].

Ketiga novel tersebut memang dibuat dengan warna yang sama. Sama-sama meminjam tangan “pencerita kedua” dalam penceritaannya. Sama-sama tokohnya melakukan perjalanan dan pencarian. Sama-sama menggeluti perbincangan tentang “Ada” dalam ranah filsafat dan pemikiran. Cerita dalam tiga novel ini sangat jelas terpengaruh oleh tesisnya tentang fisafat fotografi dan disertasinya tentang komik Panji Tengkorak.

Penutup

SGA adalah sedikit sastrawan Indonesia yang mampu bertransformasi dalam segala gaya dan perubahan zaman. Ketika ia masuk dalam rezim yang represif, ia tetap mampu berkarya dengan baik dan ketika rezim yang represif runtuh dan berubah menjadi “rezim yang pragmatis” ia mampu menawarkan kedalaman dalam karyanya yang filosofis. Kemauan untuk terus belajar dan berkarya lah yang membuat SGA selalu menjadi “Pendekar Sastra Indonesia”.

[Khothibul Umam]

 

Daftar Pustaka:

Ajidarma, Seno Gumira. 2010. Trilogi Insiden: Saksi Mata; Jazz, Parfum & Insiden; Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Bentang.

_______. 2004. Kitab Omong Kosong. Yogyakarta: Bentang.

_______. 2009. Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk. Jakarta: Gramedia.

_______. 2011. Nagabumi II: Buddha, Pedang dan Penyamun Terbang. Jakarta: Gramedia.

Hartiningsih, Maria. 2005. Transformasi Seno Gumira. URL: http://duniasukab.com/seno-gumira-ajidarma/ .

Rampan, Korrie Layun. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Umam, Khothibul. 2012. “Sastra Koran di hari Minggu yang Senggang”. URL: https://sindikatpencurijeruk.wordpress.com/2012/05/03/sastra-koran-di-hari-minggu-yang-senggang/ .


[1] Lihat Maria Hartiningsih, Transformasi Seno Gumira, URL: http://duniasukab.com/seno-gumira-ajidarma/ . Dilihat 24 Mei 2012, pukul 09.49 WIB.

[2] Lihat profil Seno Gumira Ajidarma dalam Korrie Layun Rampan, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), hal. 611.

[3] Lihat Khothibul Umam, “Sastra Koran di hari Minggu yang Senggang” (2012), URL: https://sindikatpencurijeruk.wordpress.com/2012/05/03/sastra-koran-di-hari-minggu-yang-senggang/ . Dilihat 24 Mei 2012, pukul 11.30 WIB.

[4] Seno Gumira Ajidarma, “Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran”, dalam Trilogi Insiden: Saksi Mata; Jazz, Parfum & Insiden; Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (2010), h. 325.

[5] Ibid.

[6] Ibid, hal. 329.

[7] Lihat Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong (2004).

[8] Lihat Seno Gumira Ajidarma, Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk (2009) dan Nagabumi II: Buddha, Pedang dan Penyamun Terbang (2011).

Iklan