“Detroit itu sebuah boulevard panjang yang kosong. Toko-toko besar yang ditinggalkan. Bar-bar yang mati. Gedung opera yang tidak didatangi orang. Saya berjalan di sana, saya teringat kota Gotham…”  

Teks di atas adalah salah satu cuplikan dari lakon “Visa” karya Goenawan Mohamad yang bercerita tentang orang-orang yang sedang mengantre untuk membuat visa dengan latar tempat di Kedutaan Amerika. Dalam naskah “Visa” ini, sebuah kolase tergambarkan dari berbagai pikiran, imaji, dan peristiwa yang (pernah atau akan) dialami tokoh-tokohnya di dalamnya. Salah satunya adalah kota Gotham[1].

Antrean panjang. Orang-orang berdesakan. Riuh ramai celoteh-celoteh keluar dari antrean. Berbagai karakter menyusun jalan cerita dari potongan-potongan senandika ataupun dialog yang tumpang tindih antarkarakter. Seperti halnya sebuah kerumunan yang memiliki tujuan yang sama, terjadi interaksi antarkarakter yang kadang saling bersinggungan. Semua terbentuk oleh tiga pertanyaan dasar: “Siapa Anda?”, “Apa tujuan Anda pergi ke Amerika?”, dan “Mengapa hendak pergi?”

Lalu cerita-cerita atau lebih tepatnya alasan berkumpul di Kedutaan Amerika tersebut mengemuka. Ada tokoh C, seorang aktivis gagap yang ingin membuat sejarah di Amerika. Ada tokoh B, pengusaha berdarah China necis tipikal pebisnis yang ingin melebarkan usahanya. Ada tokoh D, seorang ibu tua bernama Dumilah yang ingin menengok cucu, dan karakter-karakter lain dengan sejuta alasannya ingin ke Amerika.

Ya—sekali lagi—Amerika adalah negeri tujuan semua orang, apa pun alasannya. Namun, tidak semudah itu pergi ke Amerika, terlebih sejak peristiwa luluh lantaknya menara kembar World Trade Centre (WTC) yang seperti membuat negara adidaya itu paranoid dengan kata “teroris”, dan seperti halnya naskah “Visa” ini, urusan membuat visa menjadi sebuah urusan yang njlimet. Verifikasi yang sangat hati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan, seperti kutipan dialog berikut:

WAJAH: Baiklah. Jadi Omar Aliamanu ini, yang menurut Ibu bukan orang Arab, yang kasih ongkos Ibu ke Honolulu?

D: Ya, benar.

WAJAH: Untuk apa?

D: Supaya saya bisa menengok cucu saya.

WAJAH: Maksudnya, anak Omar Aliamanu dengan Siti Ramalah binti Mohamad Ikhsan?

D: Betul.

WAJAH: Apa pentingnya anak itu bagi Ibu?

D: Dia cucu saya!

WAJAH: Oke, oke. Tapi apa pentingnya cucu?

D: Apa pentingnya? Tuan tanyakan apa pentingnya cucu?

WAJAH: Ya.

D: Penting, Tuan, sangat penting….

WAJAH: Kenapa penting?

D: (TAK MENJAWAB)

WAJAH: Kok diam saja?

D: (TAMPAK BINGUNG)

(Mohamad, 2009: 115-116)

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu lalu seakan menjadi pertanyaan standar dan utama dalam sebuah formulir permohonan visa, seperti hendak meringkas sejarah hidup, ideologi serta diri seseorang.

Lakon ini seperti hendak menyajikan ironi sebuah realitas berlapis-lapis yang tercampur dalam berbagai gambar, kesan atau bentuk sehingga membentuk sebuah anggapan yang dilabeli “lazim” untuk kaitannya dengan keamanan negara.

Amerika seperti sudah menjadi pusat dunia. Mulai dari ekonomi hingga menjadi polisi. Oleh karena itu, menjadi sangat wajar ketika “sang penguasa dunia” itu menerapkan lapisan-lapisan pelindung untuk menyaring orang-orang yang ingin memasukinya, mulai dari peliknya mengurus visa.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang harus diawasi setelah kehadiran musuh dengan stempel teroris beraroma Islam. Imbasnya adalah menjadi ruwetnya birokrasi pengurusan visa. Amerika harus sangat hati-hati, jangan sampai kemasukan orang dari negara lain, terlebih dari negara-negara Timur, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat.

Kemudian terjadi pergolakan batin dalam diri setiap karakter, perihal penting atau tidak, perlu atau tidak, ataupun bisa atau tidak pergi ke Negeri Paman Sam tersebut. “Pergi atau tak pergi/itulah persoalannya/Air yang berpisah dari muara/Bukan lagi hujan yang jatuh/Tepung sari yang bergantung angin/Akhirnya buah di hutan lain//”, senandika dari tokoh E itu akhirnya seperti menjadi titik balik dari kebimbangan setiap karakter yang sebelumnya ragu-ragu.

Akhir cerita menjadi absurd dengan kembalinya para karakter membentuk garis antrean, entah itu jadi pergi ke Amerika atau kembali hidup dengan nyaman di negeri sendiri. Sementara ada seseorang yang tiba-tiba muncul dari sebuah sudut memegang paspor dengan tersenyum lebar, berjalan ke luar, dan yang lain hanya bisa memandang dengan tercengang.

Impian Amerika dan Remah-remah Sejarah

“Visa” terdapat dalam buku Tan Malaka dan Dua Lakon Lain yang terbit tahun 2009. Selain “Visa” terdapat pula lakon “Tan Malaka” dan “Surti dan Tiga Sawunggaling”. “Visa” dalam buku tersebut merupakan versi kesekian dengan beberapa tambahan setelah beberapa kali dipentaskan (Mohamad, 2009: 6).

Tan Malaka dan Dua Lakon Lain - Goenawan Mohamad
Tan Malaka dan Dua Lakon Lain – Goenawan Mohamad

Dalam “Visa” berbagai macam karakter tokoh muncul dengan beragam cerita yang melatarbelakanginya. Karakter-karakter itu adalah sebuah gagasan yang berlapis. Realita tak sekadar dilontarkan begitu saja. Seakan dialog memegang peranan yang lebih penting daripada seni peran. Hal ini bukan tanpa resiko, karena jika sutradara tidak cermat, pertunjukan akan jauh dari menarik dan berkesan monoton.

Naskah ini pun sarat paradoks dan ironi. Apakah kita sudah tak lagi nyaman dengan negeri sendiri? Mengapa kita harus pergi ke Amerika? Apa pentingnya sebuah “Impian Amerika”? Filsuf Jacob Needleman, dalam esainya “Two Dreams of America,” menawarkan gagasan yang berbeda secara radikal tentang kata mimpi. Yang pertama adalah sebuah visi tentang apa yang mungkin, bahkan apa yang seharusnya. Ia merupakan mercu suar yang memberi petunjuk arah kehidupan yang sejahtera. Impian kedua, seperti yang digambarkan Profesor Needleman, adalah sebuah penipuan, sebuah kepalsuan yang memiliki nama dan warna yang sama. Ia menyarankan bahwa dalam rangka memperdalam keotentikan impian Amerika, penting artinya untuk bangun dari mimpi yang ini[2].

Ada apa dengan Amerika yang mengilhami harapan begitu besar? Para pendukung Konstitusi menantang generas-generasi hingga jauh ke masa depan. Dengan semboyan “kehidupan, kemerdekaan dan mengejar kebahagiaan,” mereka menetapkan batasan yang jauh melampaui sistem politik atau ekonomi. Tawaran “kesempatan” itu seperti pepatah “Ada Gula Ada Semut”. Maka berbondonglah seluruh pencari “kesempatan” di seluruh dunia menyongsong impiannya.

Di dalam naskah juga tidak ada konteks sejarah hidup lakon satu dengan yang lainnya. Si gagap (tokoh C) yang lahir di Bedugul, 1960. Apa yang terjadi di sana pada tahun-tahun itu? Apakah ada pergolakan politik yang dahsyat? Ayahnya pun sengaja dihilangkan oleh sejarah. Ibunya menjadi pemarah jika ia menanyakan ayahnya. Maka, gagaplah ia.

Remah-remah sejarah tokoh seperti berpilin dan berkelindan satu sama lain. Saling tubruk antara hasrat masa depan dan kenangan masa lalu. Tidak saling berhubungan memang, tetapi cukup menjelaskan bahwa mereka adalah satu di antara orang-orang yang tercerabut dari sejarah. Mereka punya masalah dalam silsilah. Mereka ingin menghilangkan sejarah yang melekat buruk dari hidupnya.

Yang menggelitik, misalnya, wawancara petugas dengan Dumilah. “Apa pentingnya cucu?” Pertanyaan yang menohok sisi manusiawi sebetulnya. Sederhana sekaligus rumit karena berbicara tentang nurani atau mungkin eksistensi. Dumilah tak bisa menjawabnya. Apakah hanya tak bisa menjawab pertanyaan itu, lalu visa urung diberikan[3].

Ilustrasi di atas seakan menegaskan sebuah kontradiksi. Amerika Serikat yang dalam Konstitusinya menjamin kebebasan namun sangat paranoid terhadap ancaman yang belum tentu benar adanya. Karl Marx menegaskan hal ini dalam The Eighteen Brumaire, sebagai berikut:

“Negara terlibat, mengontrol, mengatur, mengawasi, dan mengelola masyarakat sipil dari pelbagai ekspresinya yang paling mencakup semua hal sampai gerakan-gerakannya yang paling tidak signifikan, dan dari bentuk-bentuk eksistensinya yang paling umum sampai kehidupan pribadi individu-individual” (Bocock, 2007: 21)

Demi sebuah stabilitas nasional, bangsa sebesar Amerika Serikat akhirnya “menyerah” kepada “janji-janji kebebasan”. Hal ini dengan cukup menarik dilukiskan dalam dialog berikut:

 WAJAH (KINI DALAM KOSTUM ROBOT, SEMACAM R2D2 DALAM “STAR WARS”): Coba kalian pikirkan baik-baik, kenapa kalian mau ke Amerika. Apa arti Amerika bagi kalian? Republik tempat kemerdekaan manusia terjaga lebih 200 tahun? Atau negeri yang berdosa kepada mereka yang tak bisa membalas?

SEMUA DIAM. BERPANDANG-PANDANGAN (Mohamad: 2009: 121-122).

            Dengan pola pikir yang paranoid, semua calon pendatang yang membuat tidak “nyaman” si Tuan Rumah, yang penuh remah-remah sejarah, yang menyandang nama berbau “teroris”, akhirnya akan selalu ditolak dan dipaksa untuk selalu menunggu. Padahal, apakah mereka tahu jika mereka berhasil pergi ke Amerika, kota di sana tidak lebih dari kota Gotham yang muram??? Wallahua’lam…

[Khothibul Umam]

DAFTAR PUSTAKA:

Bocock, Robert. 2007. Pengantar Komprehensif Untuk Memahami Hegemoni. Yogyakarta: Jalasutra

Mohamad, Goenawan. 2009. Tan Malaka dan Dua Lakon Lain. Depok: Penerbit KataKita.

Padron, Eduardo J. 2007. Memperdalam Impian Amerika, dilihat 12 April 2012 pukul 23.37 WIB. URL: http://www.commongroundnews.org/article.php?id=21685&lan=ba&sp=0

Wahid, Ismi. 2011. Visa, Oh Visa, dilihat 11 April 2011 pukul 13.01 WIB, URL: http://salihara.org/community/2011/06/08/visa-oh-visa .


[1] Gotham adalah kota fiksi di mana Batman tinggal dan menjalankan aksinya. Baik dalam komik maupun filmnya, Gotham sering digambarkan sebagai kota yang gelap dan penuh dengan kejahatan. Apakah ada hubungannya dengan aksi Batman yang sering beraksi di malam hari? Ini cukup menarik untuk diteliti. Ada yang bilang jikalau kota New York dijadikan model untuk kota Gotham.

[2] Eduardo J. Padron, Memperdalam Impian Amerika (2007). Dilihat 12 April 2012 pukul 23.37 WIB. URL: http://www.commongroundnews.org/article.php?id=21685&lan=ba&sp=0

[3] Ismi Wahid dalam Visa, Oh Visa (2011), URL: http://salihara.org/community/2011/06/08/visa-oh-visa , dilihat 11 April 2011 pukul 13.01 WIB.

Iklan