Apa yang kita harapkan dari sebuah “sastra”? Menghibur dan berguna sesuai dengan adagium dulce et utile-nya Horatio? “Menghibur” para pembaca di kala senggang saat membaca koran sehingga “berguna” untuk memberikan pencerahan terhadap suatu rumus “kebenaran”? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering mengemuka dalam perbincangan sastra Indonesia mutakhir, terutama di tengah serbuan sastra koran, sastra cyber, hingga industrialisasi sastra.

Sastra koran mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu peletak pondasi sastra Indonesia. Di dalam rentang panjang sejarah sastra Indonesia (Melayu), evolusi sastra koran dapat dilacak sejak masa pra-sastra Indonesia modern. Buku-buku sejarah kesusastraan Indonesia menyebut novel Si Djamin dan Si Djohan hasil saduran Merari Siregar dari novel Jan Smees karya Justus van Maurik sebagai novel Indonesia pertama yang terbit pada awal abad ke-20 (l9l9). Baru kemudian lahir novel asli Indonesia yang pertama, Azab dan Sengsara (l920), juga karya Merari Siregar[1].

Namun jauh sebelum itu, dimulai dari akhir akhir abad 19, muncullah berbagai karya sastra, terutama cerita pendek dan cerita bersambung di berbagai surat kabar yang terbit di Hindia Belanda. Terbitan di akhir abad 19 ini lebih liberal dibanding terbitan di paruh pertama abad 19.

Perubahan ke arah liberal ini terjadi ditandai dengan terbitnya Semarangsch Nieuws—en Advertentieblad di Semarang pada tahun 1852, kemudian pada tahun 1853 terbit Oospost yang berganti nama menjadi Soerabajaasch Handelsblad, sedangkan di Batavia terbit De Java Bode. Sementara itu, terbit juga surat kabar berbahasa Jawa Bromartani (1855), Surat Khabar Melayu (1856), dan Selompret Melayu yang dapat bertahan sampai tahun 1911. Pertumbuhan pers itulah yang kemudian memunculkan Mas Marco Kartodikromo sebagai pengarang dengan kisahnya Mata Gelap (1914), Syair Rempah-rempah (1919), Student Hijo (1919), dan Rasa Merdika (1924)[2].

Student Hijo
Student Hijo

Peran surat kabar atau media massa dalam sastra semakin kuat ketika muncul majalah Poedjangga Baroe pada dekade 1930-an dengan tokohnya S. Takdir Alisjahbana, M. Yamin, Rustam Effendi, Amir Hamzah, Armijn Pane dan Sanusi Pane. Disusul dengan majalah Kisah pada dekade 1950-an yang mengutamakan cerita pendek. Tidak lama kemudian terbit juga majalah Prosa (1955), Seni (1955), Budaya (1953-1962), Konfrontasi (1954-1962), dan Kompas[3].

Setelah dekade 1960-an, praktis hanya majalah Horison yang mampu bertahan hingga sekarang. Horison seakan menjadi rujukan akan keabsahan sebuah karya sastra dengan redaksinya yang mumpuni semacam Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Zaini, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin (Arif Budiman), dan D.S. Moeljanto[4].

Sejak terbit, terutama sepanjang l970-an sampai awal l980-an, Horison mampu membangun citra dirinya sebagai majalah sastra yang benar-benar berwibawa. Para penyair, cerpenis, eseis/kritikus dan pengamat sastra pada umumnya, seperti kurang lengkap referensi bacaannya jika tidak membaca Horison. Keberadaan mereka–penyair, cerpenis, eseis dan kritikus sastra–juga seperti belum sah jika belum mampu menembus gawang Horison untuk mempublikasikan karya-karya mereka di majalah tersebut.

Sastra dan Orde Baru

Memasuki dekade 1980-an, Indonesia dengan Orde Barunya juga semakin mapan. Semua gangguan yang menjurus pada “disintegritas bangsa” dijinakkan oleh militer dan kakitangannya atas nama Pancasila dan stabilitas nasional. Pergerakan mahasiswa dirumahkan dengan NKK/BKK. Semua organisasi massa diawasi ketat dan harus berasaskan tunggal, Pancasila.

Pada saat yang sama muncul Orang Kaya Baru (OKB) akibat booming minyak. Dengan “stabilitas nasional” muncul pula “stabilitas ekonomi” yang menghasilkan kelas menengah baru di perkotaan.

Di tengah suasana yang serba dibatasi hampir di semua bidang kehidupan, generasi 90-an pun muncul. Sebagian dari mereka melanjutkan estetika sebelumnya, namun dengan latar sosial-politik yang berbeda. Mereka dibesarkan sebagai massa mengambang secara politik, sementara pada saat yang sama mereka berada bukan hanya pada posisi tidak seiring sejalan dengan pemerintah, melainkan memilih jalan pertentangan[5].

Represi pemerintah mencapai puncaknya ketika Tempo, Editor dan Detik dibredel pada paruh awal 1990-an. Media massa pun dibungkam jikalau melancarkan salah satu tugasnya sebagai alat kontrol sosial (baca: kontrol Pemerintah). Dalam keadaan seperti ini, sastra pun mengambil peran sebagai “suara kebenaran” (baca: alternatif). Hal ini dicetuskan oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) lewat kredonya “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.

Menurut SGA, jika jurnalisme bicara dengan fakta, maka sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan[6]. Perkembangan ini pun seakan mendapatkan momentumnya pada dekade 1990-an.

Sastra Koran di Hari Minggu yang Senggang

Entah sengaja atau tidak, pada tahun 1992 Harian Kompas menerbitkan buku kumpulan cerpen terbaiknya yang pertama yang berjudul Kado Istimewa. Tradisi penerbitan cerpen terbaik ini terus berlanjut hingga sekarang dengan hanya satu kali absen, yaitu pada tahun 1998. Penerbitan cerpen terbaik ini bukanlah sekedar pengumpulan cerpen terbaik setahun dalam satu antologi. Lebih dari itu, pengumpulan cerpen koran ini menjadi semacam “dokumentasi” yang terkadang lebih jernih dibandingkan dengan berita-berita dalam koran itu sendiri.

Meminjam perkataan Nirwan Dewanto, manusia telah hidup dalam kesementaraan dan kesesatan sehari-hari. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai peristiwa besar yang tidak terhingga banyaknya. Sebagian besar peristiwa tersebut tidak kita alami dan kita lihat, sehingga kita mempercayai media massa seperti, surat kabar, radio dan televisi. Banjir berita tersebut membuat kita “tersedak” dan tidak mampu memilih dan memilah apa yang kita butuhkan dan perlukan[7].

Maka, agar tidak “tersedak”, surat kabar pun menyediakan rubrik sastra dan budaya yang setiap minggu menampilkan sajak, cerpen, kritik, esei, dan cerita bersambung. Wajarlah apabila perhatian pengarang pada dekade 1990-an hingga sekarang tidak lagi terpusat pada Horison. Dengan kata lain, berkembanglah jalur sastra koran yang kemudian memantapkan kedudukan sastra populer[8].

Pilihan memasukkan rubrik sastra dan budaya dalam surat kabar merupakan sebuah fenomena yang unik (baca: khas Indonesia). Kuntowijoyo mengatakan bahwa sepatutnya para sastrawan dan penulis berterimakasih kepada koran. Berkat mereka lahirlah sastra koran[9]. Artinya, cerita rekaan yang sengaja dikemas supaya sesuai dengan jatah pemuatan koran, rata-rata enam sampai delapan halaman kwarto dua spasi. Bahkan ada koran yang menganjurkan cerpen ditulis dalam lima halaman. Berapa pun jumlah ruangan yang tersedia untuk cerpen, masyarakat sastra merasa beruntung karena koran-koran kita sanggup menganggung resiko dengan menghadirkan cerpen yang termasuk fiction, padahal seharusnya mereka hanya memuat fact. Koran-koran besar di luar negeri, seperti The New York Times, tidak pernah memuat cerpen, sehingga sastra koran mungkin khas Indonesia[10].

Koran dengan segala keterbatasannya ternyata mampu mengancam “rezim sastra” yang terlebih dahulu mapan, semisal Horison. Sastra tidak lagi menjadi eksklusif yang hanya terdapat pada majalah sastra dan budaya. Sastra akhirnya menjadi konsumsi sehari-hari bersanding dengan berita politik, kriminal, olah raga dan iklan minyak rambut. Mungkin fungsi dulce et utile menemukan jodohnya di sini. Sastra koran menjadi sangat berguna sekaligus menghibur bagi para pembacanya. Para pembaca fact mau tidak mau akan berhadapan dengan rubrik sastra dan budaya. Sedangkan para pembaca fiction belum merasa cukup jika belum membaca rubrik sastra dan budaya dalam koran minggu.

Kemunculan rubrik sastra dan budaya sekali dalam seminggu ini juga merupakan fenomena yang menarik. Hari minggu yang senggang yang merupakan hari libur dijadikan “wahana rekreasi” oleh penerbit koran untuk bisa dan boleh menampilkan berita yang “enteng” (baca: sastra). Lambat laun, tanpa disadari, kehadiran cerpen di Kompas Minggu pun dinanti dengan hati yang berdebar-debar[11].

Penutup

Apakah sastra koran sudah menjadi genre sendiri? Melihat begitu banyaknya cerita pendek, puisi, hingga esei yang akhirnya terbit menjadi buku, sebelumnya telah terbit dahulu dalam bentuk sastra koran. Tentu hal ini tidak habis diperdebatkan.

Koran, sebagai salah satu media massa, telah berhasil mengkonstruksi karya sastra, baik dari segi isi maupun bentuk. Dari segi isi dan bentuk, cerpen yang dimuat di koran harus sesuai dengan ideologi dan gaya koran (baca: redaktur) tersebut.

Meski demikian, sumbangsih sastra koran bukanlah main-main. Terlepas dari visi misi koran setempat, oplah, hingga selera redaktur, sastra koran mampu menjadi oase di tengah lesunya penerbitan sastra. Sastra koran bahkan mempunyai keluwesan tersendiri dalam menyapa pembacanya. Ia mampu menyusup dalam komunitas “bukan pembaca karya sastra”. Perilaku “jemput bola” inilah yang seharusnya kita dukung.

Oleh karena itu, dengan warna estetika yang khas tersebut, sudah seharusnya sastra koran lebih dari “bacaan di kala senggang”.

[Khothibul Umam]

Daftar Pustaka:

Ajidarma, Seno Gumira. 2010. “Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran”, dalam Trilogi Insiden: Saksi Mata; Jazz, Parfum & Insiden; Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Bentang: Yogyakarta.

Dewanto, Nirwan. 2000. “Penutup”, dalam Kado Istimewa. Cet. ke-3. Kompas: Jakarta.

Herfanda, Ahmadun Yosi. 2011. “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”. URL: http://sembahyangrumputan.blogspot.com/2011/08/evolusi-genre-dan-realitas-sastra-koran.html .

Kuntowijoyo. 1999. “Pengantar Penulis”, dalam Hampir Sebuah Subversi. Grasindo: Jakarta.

Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Bentang Budaya: Yogyakarta.

Yudiono K.S. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Grasindo: Jakarta.

 


[1] Ahmadun Yosi Herfanda, “Evolusi, ‘Genre’ dan Realitas Sastra Koran”. URL: http://sembahyangrumputan.blogspot.com/2011/08/evolusi-genre-dan-realitas-sastra-koran.html (2011), dilihat 01 Mei 2012, pukul 17.05 WIB.

[2] Yudiono K.S., Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2010), h. 64.

[3] Ibid, h. 135.

[4] “Redaksi yang mumpuni” ini sering pula diartikan sebagai “rezim sastra”.

[5] Agus R. Sarjono, Sastra dalam Empat Orba (2001), h. 190.

[6] Seno Gumira Ajidarma, “Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran”, dalam Trilogi Insiden: Saksi Mata; Jazz, Parfum & Insiden; Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (2010), h. 325.

[7] Lihat Nirwan Dewanto, “Penutup”, dalam Kado Istimewa (2000, cet. ke-3), h. 153.

[8] Selain Kompas, surat kabar lain pun turut membuat rubrik sastra dan budaya, seperti Pikiran Rakyat (Bandung), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), Surabaya Post (Surabaya), Suara Indonesia (Malang), Waspada (Medan), Haluan (Padang), Sinar Harapan, Merdeka, Indonesia Raya, dan Suara Karya (Jakarta). Lihat Yudiono K.S., Op. Cit., h. 220.

[9] Ketika nanti para cerpenis menerbitkan kumpulan cerpennya dalam satu buku, rata-rata cerpen tersebut juga pernah terbit dahulu di berbagai media massa.

[10] Lihat Kuntowijoyo, “Pengantar Penulis”, dalam Hampir Sebuah Subversi (1999), h. ix.

[11] Belum ada data yang pasti tentang jumlah ketertarikan pembaca terhadap rubrik sastra dan budaya yang terbit setiap hari minggu di surat kabar. “Dinanti dengan hati yang berdebar-debar” ini lebih kepada asumsi di sekitar lingkungan penulis yang kebetulan cukup menggemari rubrik sastra dan budaya.

Iklan