… Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat…[1]

Kutipan sajak karya Chairil Anwar di atas seakan meneguhkan pentingnya sebuah catatan sejarah. Manusia dan peristiwa apa pun layak dicatat dengan kadar masing-masing. Begitu juga dalam sastra.

Aku Ini Binatang Jalang - Chairil Anwar

Namun, sering sejarah sastra ditaklukkan pada sejarah umum, sehingga karya sastra dan penulisnya ditempatkan dalam rangka yang disediakan oleh ilmu sejarah umum (Teeuw, 1984: 311). Contoh nyata adalah masalah periodisasi dan angkatan dalam sastra. Dalam sejarah sastra Indonesia, momentum sosial-politik dipergunakan sebagai ancangan periodisasinya, yaitu: Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, geger politik dan tragedi nasional 30 September 1965, dan reformasi politik 21 Mei 1998[2]. Memang periodisasi berdasarkan momentum politik ini untuk memudahkan acuan teoritis sejarah sastra, namun hal ini juga membuktikan jikalau sejarah sastra tidak dapat dipisahkan sama sekali dari konteks sosial-politik di mana ia hidup.

Dengan demikian, ilmu sejarah sastra menjadi ilmu yang “padat karya”. Para peneliti sejarah sastra harus mengetahui setiap konteks peristiwa ketika sebuah karya sastra dibuat, siapa penulisnya, latar belakang kehidupan penulis, hingga dengan cara apa sebuah karya itu bisa terbit. Dari sini, sebuah wawasan estetik karya sastra dapat ditelusuri.

Oleh karena itu, sejarah sastra menjadi suatu hal yang sangat penting. Bukan hanya bagi para peneliti atau akademisi, namun juga bagi para penulis karya sastra. Setidaknya dengan mengetahui sejarah sastra, para penulis bisa melihat wawasan estetik apa saja yang dulu pernah ada.

Hal ini bisa menjadi keuntungan sekaligus tantangan bagi para penulis sastra. Keuntungan jika dilihat dari perspektif pengetahuan akan sejarah dunianya, namun akan menjadi tantangan jika dilihat dari kacamata eksistensi si penulis itu sendiri. Eksistensi ini bisa dibaca dengan kaitannya “posisi” si penulis dalam sejarah sastra yang telah berlangsung.

Eksistensi ini bukanlah hal yang main-main. Banyak seniman melakukan berbagai cara agar namanya dicatat dalam sejarah. Dari sini biasanya timbul berbagai macam “tegangan” antara seniman/penulis dan peneliti/akademisi. Para peneliti akan meneliti sebuah karya sastra yang dianggap “layak”, sedangkan penulis pasti akan beranggapan jikalau semua karyanya adalah “layak”.

Maka dari sini muncullah adanya “kompetisi”. Setiap karya yang telah dilahirkan secara tidak langsung telah diterjunkan pada “rimba raya” kehidupan. Sebuah karya harus siap untuk “ditelan” atau “dibuang” oleh pembaca. Namun, alangkah sayang jika yang dicatat hanyalah yang “besar”. Yang “tenggelam beratus ribu” pun harus mendapat tempat. Selanjutnya, tugas siapakah yang mencatat hal tersebut???

(Khothibul Umam)

Daftar Pustaka:

Anwar, Chairil. 2000. Aku Ini Binatang Jalang. Cet. ke-VIII. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yudiono K.S. 2010. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Cet ke-II. Jakarta: Grasindo.


[1] Chairil Anwar, “Catetan Th. 1946”, dalam kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang (2000, cet. ke-VIII), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

[2] Lihat Yudiono K.S., Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2010, cet. ke-II), hal. 50-51, Jakarta: Grasindo.

Iklan