Dalam khasanah sastra, John Steinbeck (1902–1968) dikenal sebagai seorang pengarang humanis yang setia mengungkap persoalan-persoalan getir manusia dalam karya-karyanya. Dalam novelnya, Of Mice and Men, dia bertutur tentang persahabatan dua manusia terbuang, George dan Lennie. Novel ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Pramoedya Ananta Toer menjadi Tikus dan Manusia.

Tikus dan Manusia
Tikus dan Manusia

George Milton adalah sesosok laki-laki kecil berotak cemerlang, licik, temperamen, dan seorang pemimpi. Sedangkan Lennie Small adalah lelaki bertubuh besar dengan otak bocah, bodoh, selalu bergantung pada George, dan mempunyai kemampuan mental yang terbatas. Layaknya manusia-manusia lain, mereka pun punya mimpi tentang masa depan yang indah.

Jalan hidup membawa keduanya mengadu nasib di sebuah peternakan. Namun, malang tak dapat ditolak, di sana mereka menemui bencana. Lennie tanpa sengaja membunuh istri majikannya, seorang bekas pelacur yang genit. Angan-angan dan rencana masa depan seorang anak manusia pun porak-poranda oleh sebab-sebab yang terjadi di luar kendalinya.

Novel ini ditulis pada saat Amerika Serikat mengalami resesi ekonomi. Bisa dikatakan, cerita dalam novel ini menggambarkan situasi Amerika Serikat pada masa itu. Kemiskinan, buruh, impian, peternakan, hasrat perubahan dalam hidup, menjadi perbicangan yang lazim dalam novel ini.

Terkadang hanya mimpi dan harapan yang dapat membuat kita tetap bertahan hidup. Entah bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut. George ingin memiliki ladang sendiri, sedangkan Lennie selalu ingin memiliki binatang peliharaan sendiri. Tanpa sadar, impian mereka lah yang membuat mereka selalu bersama-sama, selain sikap saling bergantung di antara keduanya.

Membaca Tikus dan Manusia seperti membaca seluruh karakter orang Amerika Serikat. Sikap bagaimana mereka keluar dari kesulitan, kelicikan mengakali keterbatasan, kegetiran hidup yang mereka resapi, kekejaman terhadap sesama, dan impian yang membuat mereka menjadi sebuah “bangsa”.

 

Iklan