Ketika membaca sebuah karya sastra, apakah anda pernah menjumpai teksnya mengandung daftar belanjaan, menu atau resep? Ketika menonton sebuah film, apakah anda langsung teringat pada sebuah acara televisi lama? Hanya saja yang ini tidak asli dan mungkin durasinya lebih panjang. Ketika menyaksikan sebuah pertunjukan teater, apakah ada monitor-monitor video di atas panggungnya? Apakah tampak seperti parodi terhadap sesuatu namun tidak lucu? Apakah mungkin kita lebih menyukai pertunjukan teater macam itu—dan lebih mudah ketiduran—dibanding seni pertunjukan gaya lama? (Handy, 1988: 61).

            Kalau jawaban anda adalah “IYA”, maka anda telah menjadi “korban” dari sebuah karya seni postmodern. Kita seperti dihadapkan pada sebuah karya seni yang “tidak penting”, penuh gaya yang ­campur bawur, dan tanpa batasan “isme”.

Istilah postmodernisme digunakan pertamakali oleh para seniman di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk menyebut gerakan baru yang membebaskan diri dari orde lama. Istilah ini pun cepat menyebar ke disiplin lain (O’Donnell, 2009: 8). Berbagai gaya dan zaman sengaja dicampuradukkan, bahkan kadang secara ironis. Para seniman tidak percaya lagi pada gaya yang dominan. Mereka tidak lagi dari zaman mereka, namun melangkah melampaui zaman mereka sendiri.

“Post” berarti “sesudah”, dan “modern” adalah up to date atau “sekarang”. Jadi istilah postmodern dapat diterjemahkan dengan “sesudah sekarang” (O’Donnell, 2009: 6). Apa artinya, atau apa perasaannya berada pada “sesudah sekarang ini”? Mungkin cepat, sedang berlalu, selalu berubah dan mengalir. Mungkin juga seperti hidup di tapal batas, di pinggiran.

Sedangkan postmodernisme sendiri adalah nama yang diberikan pada serangkaian pendirian filsafat dan gaya estetika yang sudah berkembang sejak tahun 1950-an. Postmodernisme merupakan gerakan yang berbeda-beda, dengan beberapa paham yang bertentangan.

Tidak seperti modernisme yang terkesan “setia” pada paham tertentu, postmodernisme selalu memungkinkan adanya daftar-daftar “isme”, seolah-olah kebudayaan adalah acara obral cuci gudang dengan segala baik dan buruknya. Kita bisa bebas berburu dan meramu berbagai aliran dari berbagai macam kebudayaan. Kita boleh menciptakan mitos-mitos baru yang terkesan lebih keren dari mitos dunia kuno.

Hal ini tidak lepas dari pengetahuan manusia yang sangat terbatas pada wacana manusia itu sendiri. Jadi, narasi besar jenis apa pun, baik yang bersifat keagamaan, filsafat maupun ilmiah, terbatas dan terkondisikan secara historis. Mereka cacat dan tidak utuh karena keniscayaannya.

Generasi masa kini lebih sadar akan dirinya secara ironis lebih dari generasi terdahulu (O’Donnell, 2009: 29). Kita menyadari bahwa kita adalah anak zaman kita, dan kita bermain-main dengan ide dan gaya dari zaman lain dengan sengaja.

Seorang seniman atau penulis postmodern berada dalam posisi seorang filosof. Teks yang ia tulis, karya yang ia hasilkan secara prinsip tidak ditentukan oleh aturan yang sudah ada dan tidak bisa dinilai berdasarkan penilaian yang sudah baku dengan menggunakan kategori-kategori yang umumnya dipakai untuk melihat teks ataupun karya tersebut. Aturan dan kategori itulah yang justru dicari oleh karya-karya tersebut (Lyotard, 1984: 81).

Bagi sebagian penikmat seni, karya postmodern terkesan asal tempel dari berbagai aliran. Seperti puzzle atau kolase yang asal susun. Bahkan dalam karya seni tertentu, sulit membedakan apakah itu sebuah karya seni atau sebuah “sampah”. Dari berbagai pertanyaan yang ada pada awal tulisan ini misalnya, mungkin pembaca nantinya tidak dapat membedakan antara catatan belanja dan sebuah puisi.

Lantas dimana letak sebuah “kebenaran” jika yang ditawarkan pada kita hanya sebuah puzzle, kepingan yang tidak selesai, atau mungkin hanya ilusi??? Arthur Asa Berger menggambarkannya dengan sangat baik dalam novelnya yang berjudul Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo. Dalam novel itu seorang pakar postmodernisme yang bernama Ettore Gnocchi mati terbunuh dengan empat skenario pembunuhan. Mulai dari lubang di kening, punggung yang tertusuk pisau, pipi kanan yang tertancap panah sampai segelas anggur yang sudah diberi racun.

Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo
Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo

Sampai akhir cerita tidak jelas siapa yang telah membunuhnya, setidaknya yang pertama kali mengakibatkan kematiannya. Hingga akhirnya, Solomon Hunter, detektif yang menyelidiki kematian Ettore Gnocchi berkesimpulan jikalau tidak ada yang benar-benar telah membunuh sang profesor, karena ketika skenario pembunuhan itu dijalankan, sang profesor telah mati duluan (Berger, 2006: 179).

Dalam novel tersebut “kebenaran” seakan berebut pengakuan dan kekuasaan. Michel Foucault (1926-1984), mengikuti jejak Nietzsche dengan menegaskan bahwa semua pengetahuan dipengaruhi oleh permainan kekuasaan (O’Donnell, 2009: 42). Foucault sendiri menulis tentang sosiologi pengetahuan, sekaligus memusatkan perhatian pada perilaku seks, kegilaan, dan perlakuan terhadap pelaku kriminal[1].

Ia berbicara mengenai “arkeologi” dalam kedisiplinan. Ini adalah tataran atau lapisan pengaruh, zaman yang menentukan ide zamannya. Penelitiannya melibatkan studi sejarah secara rinci, yang mengungkapkan buku dan naskah kunci. Akhirnya, “kebenaran[2]” itu sendiri adalah ide yang didapat manusia dari kebiasaan masyarakat, yang dijaga oleh sisten kekuasaan dan jangan sampai goyah oleh pergeseran paradigma (O’Donnell, 2009: 43).

Tidak heran jika “kebenaran” pun saling berkompetisi. Dan postmodernisme yang “menghalalkan” segala sesuatu sangat ramah dengannya. Dengan sangat mudah “kebenaran” dipermainkan. Masyarakat pun mempunyai alat atau sarana yang berlimpah untuk mencari “kebenaran”-nya sendiri. Dalam hal ini, lingkup nilai pun menjadi sangat beragam. Batasan-batasan internalnya melipat ganda sampai ke titik retak.

Kemudian, bagaimana sikap kita jika “kebenaran” bisa dicapai oleh siapa pun? Terserah!!! Mungkin kita bisa memulainya dengan bersikap terbuka dan toleran terhadap segala sesuatu. Karena mungkin apa yang di otak kita pun akhirnya juga tidak selalu “benar”. Bahkan “kebenaran” itu sendiri tidak melulu “benar”.

Seperti dalam sebuah penikmatan karya seni postmodern, kita akan selalu ragu dan tidak yakin apakah itu sebuah karya seni. Sedangkan sang senimannya sendiri tidak begitu ambil pusing akan karya seninya.

 

Daftar Bacaan:

Berger, Arthur Asa. 2006. Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo. Serpong: Marjin Kiri.

Foucault, Michel. 2002. POWER/KNOWLEDGE: Wacana KUASA/ PENGETAHUAN. Yogyakarta: Bentang Budaya.

_______. 2008. Ingin Tahu: Sejarah Seksualitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Handy, Bruce. 1988. “A Spy Guide to Postmodern Everything”, dalam Spy Magazine edisi April 1988. URL: http://fawny.org/spy/spy-april-1988.html, dilihat 30 Nopember 2011, pukul 10.29 WIB.

Lyotard, Jean-Francois. 1984. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Manchester: Manchester University Press.

O’Donnell, Kevin. 2009. Postmodernisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.


[1] Foucault mengulas masalah ini dengan cukup menarik dalam bukunya La Volonte de Savoir: Histoire de la Sexualite. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Ingin Tahu: Sejarah Seksualitas (2008). Buku ini mempertanyakan perkembangan sikap dan wacana masyarakat Eropa selama tiga abad sejak zaman Victoria.

[2] Oleh Negara, sebagai salah satu representasi rezim kuasa, “kebenaran” dimengerti sebagai sebuah sistem dari prosedur-prosedur yang telah diatur untuk meberikan penjelasan-penjelasan mengenai produksi, regulasi, distribusi, sirkulasi dan operasi (Foucault, 2002: 164).

Iklan