Permasalahan antara perempuan dan laki-laki adalah salah satu masalah yang terus ada di sepanjang zaman. Perebutan kedudukan, kesetaraan jender, emansipasi, hingga keadilan selalu mewarnainya, bahkan setua umur umat manusia itu sendiri. Berbagai karya seni pun sudah sangat banyak mengambil inspirasi dari permasalahan tersebut.

            Salah satu karya seni yang cukup keras menyuarakan posisi perempuan dalam suatu kebudayaan adalah sebuah novel yang berjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Novelis Mesir ini dengan cukup jitu menggambarkannya dengan intonasi yang marah sekaligus dingin.

Perempuan di Titik Nol
Perempuan di Titik Nol

Sang tokoh dalam novel tersebut adalah Firdaus, seorang perempuan yang memiliki masa kecil menyedihkan, yang ketika besar memutuskan untuk menjadi pelacur, dan harus menanggung segala jenis penderitaan yang diakibatkan oleh penindasan para lelaki dalam hidupnya. Ia mengutarakan kisah hidupnya, bagaimana gambaran kehidupan perempuan di negeri-negeri Dunia Ketiga. Ada suatu kalimat di novel ini yang mungkin dapat memberikan gambaran tentang bagaimana sarkastisnya tokoh perempuan kita ini terhadap kaum lelaki:

Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memkasakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawainan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan”.

Hingga suatu malam, Firdaus memutuskan untuk melawan. Ia menancapkan sebuah pisau pada leher seorang germo yang telah memperalat dan mengintimidasinya. Bahkan setelah itu, ia sempat melayani seorang lelaki kaya yang menawarnya dengan harga tinggi, sebelum akhirnya membuat pengakuan dan ditahan oleh polisi.

Firdaus pun diancam dengan hukuman gantung, karena telah melakuan pembunuhan. Ada harapan dibebaskan jika Firdaus meminta surat permohonan kepada Presiden dan meminta maaf atas kejahatan yang telah ia lakukan. Tapi Firdaus menolak meminta grasi, bahkan berkata sebagai berikut:

Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan. Ketika saya membunuh. Saya lakukan hal dengan kebenaran bukan dengan pisau. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar.”

Firdaus adalah seorang tokoh wanita yang berkarakter kuat, cerdas, dan dia tidak mau menjadi salah satu budak bagi lelaki-lekaki yang menurutnya adalah penjahat. Salah satu hal yang kontradiktif dalam budaya Mesir (baca: Arab) adalah bagaimana tokoh-tokoh lelaki ini memuja-muja Tuhan, namun secara bersamaan mereka melakukan suatu tindakan tidak manusiawi terhadap perempuan. Salah satu contoh adalah budaya memukul istri jika istri memiliki kesalahan. Hal ini dibenarkan dalam budaya orang Arab, padahal menurut ajaran Islam, memukul istri adalah satu langkah terakhir untuk mengingatkan istri pada kesalahannya. Langkah terakhir yang sebisa mungkin dihindarkan.

Permasalahan dalam Perempuan di Titik Nol adalah masalah kebudayaan masyarakat Arab dewasa ini. Budaya patriarki begitu mendominasi dalam setiap sendi kehidupan. Suara-suara perempuan dibungkam begitu rupa atas nama tradisi dan agama. Nawal El Saadawi yang juga seorang penggiat feminisme, tidak bosan-bosannya menyuarakan hal tersebut.

Menurut Nawal El Sadawi, penindasan terhadap wanita bukan karena Timur atau Barat, atau karena Islam atau agama-agama lain, namun disebabkan oleh sistem patriarki yang berkelas-kelas di dalam masyarakat manusia secara keseluruhan. Akan tetapi, selama kaum perempuan masih tetap terlena dan tidak sadar akan posisinya dalam kehidupan bermasyarakat, maka “penindasan” tetap selalu ada.

Iklan