Apa yang bisa kita berikan dari diri kita untuk dunia ini? Apa yang bisa kita bagi untuk sesama? Benarkah apa yang telah menjadi bagian darti diri kita “penting” untuk kita? Semua pertanyaan-pertyanyaan tersebut secara beruntun menghujam benak saya setelah membaca cerita pendek Oscar Wilde yang berjudul “Pangeran Yang Bahagia”.

            Alkisah seekor burung layang-layang hendak migrasi ke Mesir. Migrasi ini merupakan migrasi tahunan yang harus dilakukannya guna bertahan hidup. Burung layang-layang sendiri sudah tertinggal beberapa bulan dari kawanannya karena ia asyik bercinta dengan rumput alang-alang. Ketika akhirnya tiba saatnya ia meninggalkan kekasihnya, si alang-alang, untuk migrasi ke Mesir, ia mampir ke sebuah kota untuk beristirahat.

Di kota itu ia beristirahat di bawah sebuah patung di tengah kota. Patung itu ternyata adalah patung seorang Pangeran. Penduduk kota tersebut menyebutnya patung Pangeran Yang Bahagia. Patung itu dibuat sedemikian rupa hingga menjadi kebanggaan seluruh penduduk kota.

Seluruh tubuhnya dilapisi oleh lempengan-lempengan tipis emas dengan kualitas terbaik, dua batu safir biru bercahaya di kedua matanya, dan sebuah batu rubi merah delima yang besar menghiasi pangkal pedangnya” (Pangeran Yang Bahagia).

Burung layang-layang pun akhirnya mendarat di kaki patung Pangeran Yang Bahagia. Namun, nasib memang telah mempertemukan mereka. Pangeran Yang Bahagia sedang menangis ketika burung layang-layang beristirahat. Ketika hal itu ditanyakan kepada Sang Pangeran, maka Pangeran Yang Bahagia menjawab:

Saat aku hidup dan memiliki jantung yang berdegup, aku tidak mengetahui apa itu air mata, karena aku tinggal dalam Istana Sans-Souci, di mana duka tidak diijinkan untuk masuk. Pada siang hari aku bermain dengan teman-temanku di taman, dan pada malam hari aku memimpin tarian di Aula Utama. Di sekeliling taman dibangun dinding yang tinggi, tetapi aku tidak pernah peduli dan bertanya apa yang ada di luar dinding tersebut, semua tentangku menjadi sangat indah. Para punggawa istana memanggilku Pangeran Yang Bahagia, dan aku betul-betul bahagia. Jika kesenangan adalah kebahagiaan, maka aku hidup dan meninggal dalam kebahagiaan. Setelah aku mati, mereka menaruhku di atas kolom ini begitu tingginya sehingga aku dapat melihat semua kejelekan dan semua kesengsaraan dari kotaku, dan walaupun hatiku kini terbuat dari timah, namun aku tidak bisa berhenti menangis” (Pangeran Yang Bahagia).

Burung layang-layang pun dimintai bantuan oleh Pangeran Yang Bahagia untuk mengirim “kebahagiaan” pada setiap penduduk kota yang sengsara dengan cara mempreteli setiap lapisan emas dan baru mulia yang ada di tubuhnya dan diberikannya pada yang membutuhkan.

Pangeran yang Bahagia
Pangeran yang Bahagia

Bahkan sebuah patung emas pun dapat menangis ketika melihat kesengsaraan di sekitarnya. Hal ini merupakan sebuah sindiran terhadap realita masyarakat pada saat cerita ini dibuat dan masih tetap relevan pada masa sekarang. Kadang kita sibuk dan silau melihat sebuah monumen di sebuah kota, entah karena memperingati peristiwa yang bersejarah, atau karena sebuah prestasi besar yang telah diraih. Namun, kalau ditelisik dengan cermat, di sekitar monumen sebuah kota, hampir dipastikan ada kesengsaraan.

Hal ini terjadi pula pada setiap individu masyarakat. Kadang kita begitu mengagungkan “bungkus” visual yang menyelimuti tubuh kita, entah pangkat, harta, atau hal-hal duniawi yang lain. Celakanya, tanpa itu semua, kita sebagai manusia pun masih tetap hidup dan sehat.

Pangeran Yang Bahagia pun merasa tidak berguna sebagai seorang “pangeran” ketika dihadapkan pada kenyataan. Hal ini sangat bertolak belakang ketika ia masih hidup dan “diasingkan” dari realita yang sebenarnya. Saya curiga, di negeri ini setiap pemimpinnya diasingkan dari “realita” yang sebenarnya dan kehidupannya pun dibuat laksana Pangeran Yang Bahagia oleh “lingkaran terdalamnya”. Lalu, apakah setiap pemimpin kita harus mati dulu dan dibuat patung emasnya untuk menyadari kesengsaraan yang terjadi di negeri ini??? Semoga tidak!!!

Iklan