Apa yang kalian bayangkan jika mendengar kata skizofrenia? Gila, tidak waras, edan atau sakit jiwa? Hm, sama saja sebetulnya, meski ada beda pada setiap kata tersebut. Dalam buku Psikologi Abnormal, skizofrenia diartikan sebagai gangguan psikotik[1] menetap yang mencakup gangguan pada perilaku, pikiran, emosi dan persepsi (Nevid, 2005: 103). Skizofrenia mungkin merupakan sindrom klinis yang paling membingungkan dan melumpuhkan. Skizofrenia merupakan gangguan psikologis yang paling berhubungan dengan pandangan populer tentang gila atau sakit mental[2].

 

Tema tentang skizofrenia pun sering diangkat dalam berbagai karya seni, baik sastra, film maupun pertunjukan. Seniman atau sastrawan yang diduga penderita skizofrenia pun tidak kalah banyak[3]. Salah satu karya sastra yang mengangkat tema skizofrenia adalah cerita pendek Catatan Harian Orang Gila[4] (selanjutnya disebut CHOG) karya Lu Xun. Cerpen tersebut adalah karya pertama Lu Xun sebagai seorang sastrawan.

Catatan Harian Orang Gila
Catatan Harian Orang Gila

Dalam CHOG, cerpenis bernama asli Zhou Shuren ini, bercerita tentang tokoh aku yang secara tidak sengaja mendengar kabar, bahwa salah satu dari dua bersaudara yang menjadi sahabat karibnya ketika sekolah menengah atas, tengah menderita sakit yang serius. Ketika tokoh aku menyempatkan diri singgah ke tempat mereka untuk menengok, ia hanya bertemu dengan salah satu dari mereka, yang kemudian memberitahu bahwa yang sakit itu adalah adiknya (Xun, 2007: 1).

Dari sini cerita pun mengalir. Tokoh aku diperlihatkan oleh sang kakak catatan harian yang ditulis oleh adiknya. Menurut sang kakak, dengan membaca catatan harian sang adik, karakter penyakit masa lalu adiknya dapat diketahui.

Setelah membaca sampai khatam, tokoh aku menyimpulkan jikalau penyakit yang diderita sang adik adalah skizofrenia. Tokoh aku—yang sepertinya berprofesi sebagai tenaga medis—telah menyalin sebagian untuk memanfaatkannya sebagai subyek penelitian medis[5]. Cerita selanjutnya pun berkisah tentang catatan harian yang ditulis oleh sang adik yang terdiri dari 13 bagian.

Awal mula gejala skizofrenia sang adik tampak pada bagian kedua. Dalam catatan hariannya, sang adik teringat akan kejadian “dua puluh tahun yang silam”.

Bertambah-tambahlah keherananku. Salah apa aku dengan Tuan Chao dan orang-orang di jalanan itu. Aku tak dapat memikirkan apa pun kecuali bahwa dua puluh tahun yang silam aku telah menginjak-injak kertas catatan Tuan Ku Chiu dan tampaknya ia tak senang” (CHOG: 4)

Ku Chiu sendiri berarti “Zaman Kuno”. Adegan penginjakan “Zaman Kuno” dalam cerpen ini tampaknya menjadi biang keladi dari penyakit sang adik. Sang adik seperti mendapat sebuah kutukan yang terus memburunya. Sejak saat itu, sang adik mengidap skizofrenia paranoid[6] tertentu terhadap sekitarnya. Ia merasa Tuan Chao melihatnya dengan tatapan aneh seolah-olah ingin membunuhnya. Orang-orang di sekitarnya pun membicarakannya dengan berbisik-bisik.

Pada penderita skizofrenia paranoid, waham[7] mereka sering kali mencakup tema-tema kebesaran, persekusi[8] atau kecemburuan. Mereka meyakini, contohnya, bahwa pasangan atau kekasih mereka tidak setia, tanpa peduli akan tiadanya bukti. Mereka juga sangat gelisah, bingung dan ketakutan (Nevid, 2005: 119).

Setelah kejadian penginjakan kertas catatan Tuan Ku Chiu, serentetan gangguan psikotik pun mendera sang adik. Dimulai dari gangguan pikiran saat sang adik berpapasan dengan Tuan Chao.

Ia menatapku dengan tatapan aneh dan was-was, seolah-olah dia ingin membunuhku. Tujuh atau delapan orang yang lain membicarakanku dengan setengah berbisik” (CHOG: 3)

Gangguan pikiran tersebut langsung menimbulkan pengaruh pada perilaku sang adik. Sang adik merasa sekujur tubuhnya kedinginan karena salah seorang dari yang membicarakannya menyeringai ke arahnya. Perilaku “kedinginan” ini sangat tidak wajar, mengingat dalam cerita tidak diceritakan sedang tidak ada hujan dan tidak ada angin.

Karena perasaan tertekan terus menerus, persepsi sang adik terhadap lingkungan sekitar pun turut terganggu. Ia melihat “semua orang yang berwajah hijau dan bergigi panjang itu mulai tertawa mengejek” (CHOG: 5). “Gigi mereka putih dan berkilau; mereka semua adalah kanibal” (CHOG: 6). Hingga akhirnya, ketika sang adik dibawakan makan siang oleh Chen Tua berupa sayuran dan semangkuk ikan kukus, ia “tidak dapat lagi membedakan apakah potongan-potongan tipis ini adalah ikan atau daging manusia” (CHOG: 8).

Semua bayangan tentang kanibalisme—yang menurut sang adik terjadi di Desa Anak Serigala—telah membuat emosinya menjadi terganggu. Emosinya menjadi datar dalam menganggapi suatu hal. Hal ini tampak dalam percakapan sang adik dengan “seseorang” pada bagian delapan. Sang adik bertanya: “apakah boleh memakan daging manusia?” (CHOG: 13). Jawaban tokoh seseorang tidak dapat memuaskannya sama sekali. Sehingga sang adik menarik kesimpulan:

Dia pasti telah diajari oleh kedua orangtuanya. Dan aku takut kalau dia sudah mengajari putranya. Itulah sebabnya bahkan anak-anak pun melihat ke arahku dengan buasnya” (CHOG: 15).

Selain waham persekusi, sang adik juga mendapat gangguan isi pikiran berupa waham dikendalikan. Hal ini tampak pada bagian tujuh dalam catatan harian tersebut:

Aku memahami cara-cara mereka; mereka tidak berkeinginan untuk membunuh seseorang di luar hukum, sekaligus tidak benar-benar berani, karena takut akan akibat-akibatnya. Malah sebaliknya, mereka bersekutu dan membuat jebakan di mana-mana, untuk memaksaku agar bunuh diri” (CHOG: 12).

Akhirnya, semua paranoid sang adik bertumpu pada satu orang, sang kakak. Menurutnya, sang kakak lah yang mengakibatkan semua masalah dalam hidupnya. Sang kakak yang terlalu superior membuat sang adik lambat laun tersiksa dalam suasana inferior. Bahkan, sang adik pun menyangka kakaknya lah yang telah membunuh adik perempuan mereka, seperti yang tergambar dalam kutipan berikut:

Kupungut sumpitku. Pikiranku hanya tertuju pada satu titik: kakakku; aku tahu kini bagaimana adik perempuanku meninggal. Tidak salah lagi, dialah pembunuhnya. Saat itu, adikku baru berumur lima tahun. Masih segar dalam ingatanku betapa memikat dan memelas wajah kakakku setelah peristiwa itu. Ibu menangis dan menangis, tapi dia mengiba agar ibu jangan menanmgis, mungkin karena dia sendiri yang telah memakan adik, dan tangisan ibu membuatnya malu. Seandainya dia memiliki secuil rasa malu….” (CHOG: 19).

Paranoid terhadap kakaknya berujung pada suatu kesimpulan. Sang adik menyadari telah lama hidup dalam teritori kanibal. Dan menurutnya, hal tersebut sudah berlangsung selama ribuan tahun.

CHOG dan Sindiran Terhadap Bangsa China

Apa kira-kira yang membuat Lu Xun susah-susah menulis tentang catatan seorang penyandang skizofrenia? Apakah sewaktu Lu Xun menulis CHOG, skizofrenia sudah menjadi fenomena yang umum seperti sekarang? Hm, banyak spekulasi tentang hal ini. Banyak kritikus yang menafsirkan CHOG dengan kondisi sosio-kultural China pada masa itu. China pada waktu itu sedang mengalami masa gejolak yang sangat besar. Lu Xun sendiri terlibat dalam gerakan penggulingan Dinasti Qing yang disebut Guang Fu Hui[9]. Gerakan ini timbul oleh rasa frustrasi karena penolakan Dinasti Qing untuk melakukan reformasi serta karena kelemahan Cina terhadap negara-negara lain, membuat timbulnya revolusi yang terinspirasi oleh ide-ide Sun Yat-sen untuk menghapuskan sistem kerajaan dan menerapkan sistem republik di Cina[10].

Praktis ia pun menjadi saksi dan pelaku sejarah. Ia melihat bagaimana kota-kota besar di Tiongkok dijarah dan dibagi-bagi seenaknya oleh kaum imperialis Jepang dan Eropa. Keputusannya banting stir dari dunia medis dan kedokteran ke dunia seni dan pergerakan adalah sebuah pilihan yang niscaya baginya.

Dalam “Panggilan Berjuang”. Lu Xun menegaskan bahwa selain dengan keyakinannya sendiri, ia tidak bisa menghilangkan harapan yang dijanjikan masa depan. “Aku tak bisa mengelak akan keniscayaan harapan itu”[11], tulisnya. Ia menganggap sastra lah yang paling baik untuk mewujudkan tujuan dan harapannya dalam pergerakan.

Parahnya, sedari awal perjuangan Lu Xun adalah perjuangan yang bertolak dari mimpi dan kesepian. Walau karya sastranya condong ke arah “kiri” ia sama sekali bukan komunis. Keterasingan Lu Xun kentara sekali dalam setiap karyanya. Keterasingan ini timbul entah dari kehidupannya yang penuh kegetiran atau kekecewaan masa lalu yang mendalam[12].

Skizofrenia sendiri biasanya timbul dari individu yang mengalami kesulitan untuk bisa melakukan penyesuaian dengan persoalan yang dihadapi. Mereka bahkan gagal melakukan koping[13] yang sesuai dengan tekanan yang dialami (Siswanto, 2007: 69).

Latar belakang inilah yang memicu lahirnya CHOG. Orang gila—atau skizofrenia dalam cerita ini—adalah representasi dari kehidupan bangsa China itu sendiri. Sang adik secara tidak sadar ternyata hidup dalam wilayah para kanibal, yang bisa diasosiasikan dengan China yang selalu dilanda perang saudara dan secara tidak sadar mulai dijajah oleh para imperialis asing.

Ada sisi satir dalam cerpen ini. Sang adik yang menderita skizofrenia, ternyata adalah satu-satunya orang yang sadar dengan kondisi “kanibalisme” yang terjadi di desanya, yaitu Desa Anak Serigala. Bahkan setelah sadar pun, sang adik tetap mempunyai pengharapan walau terlambat, sebagaimana kutipan berikut:

Bagaimana mungkin seorang manusia seperti diriku, setelah empat ribu tahun tersekap dalam sejarah kawanan kanibal—meskipun pada mulanya aku tidak mengetahui apa-apa mengenainya—pernah berharap untuk menghadapi manusia yang sebenarnya?” (CHOG: 20-21).

Angka empat ribu tahun di sini bisa berarti banyak. Mungkin untuk memberi kesan saking lamanya sang adik terjebak dalam wilayah kanibal itu. Atau itu hanya coretan seorang penderita skizofrenia yang tidak paham tentang konsep ruang dan waktu.

Empat ribu tahun juga sebuah rentang waktu yang mengisi sejarah bangsa China. Dinasti pertama China yang tercatat dalam sejarah adalah Dinasti Xia yang kekuasaannya berlangsung antara tahun 2100 SM – 1600 SM. Jika dihitung hingga CHOG ditulis maka muncullah angka + 4000 tahun. Apakah ini kebetulan? Saya rasa tidak. Lu Xun telah membuat sebuah sindiran tentang bangsanya sendiri dengan cukup cerdas. Selama rentang waktu 4000 tahun, China selalu diwarnai politik kekuasaan, perang saudara, dan perebutan wilayah[14].

Simpulan

Sebuah karya sastra tidak dapat mengelak dari kondisi masyarakat dan situasi kebudayaan tempat karya itu dihasilkan (Kleden, 2004: 8). Begitu pula dengan karya-karya Lu Xun. Tidak hanya berkutat pada kritik pada penguasa, borjuisme, dan para intelektual yang ternyata juga merupakan makhluk serakah[15].

Pengaruh sosial ini tentu saja mempunyai hubungan kausalitas dengan karya sastra. Hubungan kausal ini dapat dianggap sedemikian kuatnya, sehingga sebuah narasi sastra dipandang tidak lain dari refleksi struktur sosial di mana seorang pengarang menghasilkan karyanya (Kleden, 2004: 9).

Meskipun berpandangan revolusioner, Lu Xun tetap seorang pengarang yang terkenal dan tangguh, yang selalu mempertahankan ekspresi sastra dan kebebasan yang dibutuhkan. Ungkapannya yang sangat terkenal adalah:

Walaupun semua sastra adalah propaganda, tidak semua propaganda adalah sastra; seperti semua bunga punya warna (saya anggap putih sebagai warna), tidak semua benda berwarna adalah bunga. Di samping semboyan, slogan, pengumuman, telegram dan textbook, revolusi membutuhkan sastra—hanya karena sastra adalah sastra” (Fokkema, 1998: 133)

Oleh karena itu, karyanya berhasil menukik lebih dalam. Masuk ke dalam setiap sendi kehidupan. Seperti karya Maxim Gorkhi yang melayangkan kritik lewat kehidupan pribadi pelajar, buruh, gelandangan dan orang-orang desa di Rusia pada masa sebelum dan setelah revolusi[16].

Tentu saja pilihan Lu Xun ini bukan tanpa resiko. Ia kerap bersebarangan pandang dengan “kamerad-kamerad” berjiwa “revolusioner”. Lu Xun merasa, sastrawan-satrawan sejawatnya banyak yang telah meloakkan idealismenya. Yang paling tidak diterima Lu Xun adalah sikap sewenang-wenang Partai yang mengatur profesi kepengarangan seseorang[17].

Sikap borjuisme Partai, China yang menjadi wilayah rebutan bangsa imperialis, pertarungan ideologi antar elit politik, laksana perilaku kanibal yang merupakan ladang kritik nan tiada habisnya dibajak oleh Lu Xun.

Dengan membaca CHOG, kita semua dipaksa untuk merenung. Di tempat apakah kita hidup selama ini? Apa yang akan kita wariskan pada generasi setelah kita? Benarkah kita masih menjadi “manusia”? Ada baiknya kita kutip kembali paragraf terakhir dalam CHOG:

Pertanyaannya kemudian, masih adakah anak semua bangsa dari generasi paling baru yang belum dirasuki hawa jahat kanibalisme itu? Barangkali ada. Maka selamatkanlah mereka….” (CHOG: 21)

 

Daftar Pustaka:

Fokkema, D.W; Elrud Kunne-Ibsch. 1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kleden, Ignas. 2004. “Pengantar Penulis: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan” dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Nevid, Jeffrey S; Spencer A. Rathus; Beverly Greene. 2005. Psikologi Abnormal (Edisi Kelima – Jilid 2). Jakarta: Penerbit Erlangga & Pusat Perbukuan Depdiknas.

Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia (cetakan ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.

Xun, Lu. 2007. “Catatan Harian Orang Gila” dalam Catatan Harian Orang Gila. Yogyakarta: Jalasutra.

_______. 2007. “Panggilan Berjuang” dalam Catatan Harian Orang Gila. Yogyakarta: Jalasutra.

 

Situs:

A Literary Calling to Arms, pada situs http://www.editoreric.com/greatlit/authors/LuHsun.html, dilihat pada tanggal 19 Oktober 2011, pukul 23.13 WIB.

Biografi Lu Xun, pada situs http://www.marxists.org/archive/lu-xun/biography.htm, dilihat pada tanggal 19 Oktober 2011, pukul 14.00 WIB.

Diary of a Madman (short story), oleh Nikolai Gogol pada situs http://en.wikipedia.org/wiki/Diary_of_a_Madman_(short_story) , dilihat pada tanggal 19 Oktober 2011, pukul 13.36 WIB.

Orang-Orang Kreatif Rawan Depresi, pada situs http://chillinaris.wordpress.com/tag/skizofrenia/, dilihat pada tanggal 19 Oktober 2011, pukul 13.10 WIB.

Sejarah Cina, pada situs http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Cina, dilihat pada tanggal 19 Oktober 2011, pukul 14.05 WIB.


[1] Gangguan mental yang sudah berupa disorganisasi jiwa yang berat sekali, sehingga penderitanya seringkali sulit untuk disembuhkan (Siswanto, 2007: 72).

[2] Hal ini seringkali menimbulkan rasa takut, kesalahpahaman dan penghukuman, bukannya simpati dan perhatian. Skizofrenia menyerang jati diri seseorang, memutus hubungan yang erat antara pemikiran dan perasaan serta mengisinya dengan persepsi yang terganggu, ide yang salah dan konsepsi yang tidak logis (Nevid, 2005: 103)

[3] Menurut salah satu hasil penelitian yang diterbitkan About Suicide dari American Foundation for Suicide Prevention pada tahun 2000, manusia kreatif jauh lebih rawan terkena depresi, sehingga bunuh diri. Studi-studi biografi sastrawan dan seniman besar secara konsisten memperlihatkan tingginya rata-rata depresi, depresi parah (manic depression), dan angka bunuh diri (http://chillinaris.wordpress.com/tag/skizofrenia/)

[4] Judul yang sama juga pernah dipakai oleh Nikolai Gogol untuk cerpen karyanya. Cerpen satir ini ditulis pada tahun 1835 untuk mengkritik kebobrokan birokrasi di Rusia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Diary_of_a_Madman_(short_story))

[5] Hal ini cukup menarik mengingat latar belakang pendidikan Lu Xun yang pernah berkuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Sendai, Jepang. Dengan latar belakang pendidikan seperti ini, tema cerita pendek yang mengangkat dunia medis pasti sangat dikuasainya.

[6] Paranoid sendiri merupakan salah satu tipe dari skizofrenia. Tipe yang lain adalah katatonik dan disorganisasi (Nevid, 2005: 117).

[7] Waham adalah keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata, serta dibangun atas unsur-unsur yang tidak berdasarkan logika (KBBI, 1990: 1006). Waham dapat memiliki bentuk yang berbeda. Beberapa yang umum adalah: waham persekusi, waham referensi, waham dikendalikan dan waham kebesaran (Nevid, 2005: 111).

[8] Waham persekusi melibatkan tema-tema tentang adanya konspirasi untuk menentang dirinya, diikuti, dikhianati, dimata-matai, diracun atau diberi obat, atau di lain pihak difitnah atau diberi perlakuan salah. Orang dengan waham semacam ini mungkin berulang-ulang menuntut tindakan pengadilan, bahkan mungkin melakukan tindakan kekerasan, melawan orang-orang yang mereka anggap bertanggung jawab dalam melakukan perlakuan yang salah ini (Nevid, 2005: 108)

[11] “Panggilan Berjuang” dalam Catatan Harian Orang Gila, halaman xxiii.

[12] “Panggilan Berjuang” dalam Catatan Harian Orang Gila, halaman xv.

[13] Koping merupakan cara-cara yang digunakan oleh individu untuk menghadapi seituasi yang    menekan (Siswanto, 2007: 68).

[15] “Lu Xun: Tentang Penulis dan Karyanya” dalam Catatan Harian Orang Gila, halaman x

[16] “A Literary Calling to Arms” dalam (http://www.editoreric.com/greatlit/authors/LuHsun.html)

[17] “Lu Xun: Kiri yang Bukan Komunis” dalam Catatan Harian Orang Gila, halaman xiii

Iklan