Mungkin, Lelaki Tua dan Laut adalah salah satu novel paling terkenal di dunia. Novel terakhir Ernest Hemingway semasa hidup ini telah mengantarnya mendapatkan hadiah Pulitzer dan Nobel Sastra. Salah satu bukti kepopulerannya adalah berulangkali difilmkannya novel ini, baik dalam layar lebar maupun serial televisi.

Lelaki Tua dan Laut
Lelaki Tua dan Laut

Lelaki Tua dan Laut bercerita tentang perjuangan luar biasa seorang nelayan tua Kuba yang seorang diri berusaha menangkap ikan marlin raksasa di laut lepas setelah sebelumnya gagal menangkap seekor ikan pun selama 84 hari. Santiago, nama nelayan tersebut, berjuang pantang menyerah dalam mendapatkan ikan. Hal ini seakan mengajarkan kepada kita betapa kesabaran, ketabahan, dan kegigihan dalam mengarungi cobaan hidup tidak akan berakhir sia-sia.

Kisah perjuangan Santiago dalam Lelaki Tua dan Laut juga diwarnai dengan persahabatannya dengan seorang anak kecil yang bernama Manolin, yang sebenarnya dilarang bergaul dengan Santiago oleh orangtuanya, karena Santiago kurang beruntung dalam menangkap ikan. Namun Manolin masih berbakti kepada si lelaki tua tersebut. Manolin mengunjungi gubuk Santiago setiap malam, mengangkat peralatan nelayannya, memberinya makan dan membicarakan olah raga bisbol Amerika dengan si lelaki tua. Santiago berkata pada Manolin bahwa di hari berikutnya dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan, dan dia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Laut selamanya akan menjadi salah satu misteri terbesar bagi umat manusia. Bahkan bagi seorang nelayan tua seperti Santiago, seperti kutipan berikut: “Bagaimanapun, angin adalah sahabat kita, pikirnya. Kadang-kadang, tambahnya. Dan laut luas penuh dengan sahabat dan musuh. Juga tempat tidur, pikirnya. Tempat tidur adalah sahabatku. Tempat tidur itulah, pikirnya. Tidur akan menyenangkan. Terasa enteng saat kau dikalahkan. Sebelumnya aku tak tahu betapa enteng rasanya. Dan apa yang mengalahkanmu, pikirnya” (Lelaki Tua dan Laut: 131).

Mengandaikan laut sebagai “tempat tidur” membuat pikiran Santiago selalu tenang ketika menghadapi ganasnya laut. Apakah hal tersebut hanya sebagai ungkapan keputusasaan atau sebuah penyemangat? Kita tidak pernah tahu. Meski akhirnya Santiago memang berhasil menangkap ikan marlin tersebut, walau dalam keadaan tidak utuh.

Akhirnya bukanlah sebuah “hasil” yang ditawarkan oleh Hemingway dalam Lelaki Tua dan Laut, namun sebuah “proses” yang berdarah-darah dan penuh perjuangan. Santiago adalah representasi dari kegigihan umat manusia dalam mencapai tujuan sampai titik darah penghabisan. Di sini sebuah “hasil” menjadi tidak penting, karena sebuah “hasil” hanyalah sekedar imbas dari sebuah “proses”.

Iklan