Apakah yang akan anda lakukan jika lahir dan hidup dalam sebuah daerah pinggiran yang penuh kriminalitas, rasisme, dan hampir tidak ada peluang untuk maju? Pertanyaan yang menohok rasa optimisme ini berulangkali menimpa Akeelah, seorang tokoh dalam novel yang juga berjudul Akeelah.

            Akeelah diterjemahkan dari sebuah novel yang berjudul Akeelah and the Bee yang ditulis oleh James W. Ellison. Mengisahkan tentang seorang gadis kulit hitam yang bernama Akeelah Anderson yang berasal dari Los Angeles Selatan dan berusia 11 tahun. Dalam novel ini, Akeelah sedang berusaha mengikuti kejuaraan bergengsi Scripps National Spelling Bee dari tingkat regional sampai dengan tingkat nasional.

Akeelah
Akeelah

Usaha Akeelah untuk mengikuti kejuaraan itu merupakan sebuah perjuangan yang luar biasa, terutama bagi seorang gadis dari Los Angeles Selatan. Sebagaimana yang telah kita ketahui, Los Angeles Selatan adalah sebuah daerah yang terbelakang daripada daerah Los Angeles lainnya.

Tantangan paling berat selain kejuaraan itu adalah ibunya sendiri, yang mana pada awalnya tidak setuju Akeelah ikut kejuaraan tersebut. Berkali-kali Akeelah berbohong kepada ibunya guna latihan mengeja di rumah Prof. Larabee. Hubungan dengan sahabat karibnya, Georgia, pun agak terganggu ketika Akeelah konsentrasi pada latihan dan kejuaaraan.

Ketika akhirnya Akeelah sampai babak akhir nasional dan mendapat helar juara, itu semua karena ia mempunyai bakat dan mau berusaha keras. Pelajaran yang lain adalah kisah dalam novel ini mampu memberikan nilai-nilai luhur tentang pendidikan yang pada dasarnya memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang tanpa membedakan warna kulit, agama, dan status sosial apapun.

Akeelah adalah salah satu novel yang bagus dalam mengangkat isu pendidikan. Di mana dalam keterbatasan Akeelah masih tetap bisa berprestasi. Cerita dalam Akeelah seakan menegaskan bahwa setiap anak dengan dukungan orang-orang terdekat, baik keluarga maupun lingkungan, dapat menjadi apa yang mereka inginkan. Kasih sayang tentu saja memegang peranan penting. Kesempatan harus diberikan kepada setiap anak untuk berkembang. Hal ini memang menjadi isu yang sensitif, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat, yang menjadi latar cerita ini.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Pendidikan di negeri ini malah semakin kacau. Pendidikan telah dikomersilkan sebegitu rupa, sedangkan mutunya tidak jelas sama sekali. Pelajar Indonesia berulangkali menang Olimpiade, namun banyak sarana prasarana sekolah yang tidak terawat, terutama di daerah terpencil. Kurikulum selalu berubah, minimal ganti menteri ganti kurikulum, dan anggaran pendidikan yang tidak layak. Serta ada satu masalah besar yang menghantui: KORUPSI!!! Lantas, apakah kita akan lebih sungguh-sungguh mengurus pendidikan di negeri ini? Atau kita tetap bersikap “biasa saja”, toh, ternyata pendidikan di Amerika Serikat “tidak bagus-bagus amat”!!!

Iklan