* Pentas ”Makan Malam Jahanam”

LAMPU neon temaram tepat di atas meja kayu bundar. Di sekelilingnya, empat kursi berisi empat tokoh yang memperbincangkan sesuatu hal. Asap rokok mengepul dari sela-sela bibir mereka yang menghitam.

Sejenak perbincangan itu terasa penting dan sangat rahasia. Kata ”revolusi”, ”berita”, ”buruh”, ”pemilu” bertebaran di sana-sini. Seketika bersuara keras, namun sedetik kemudian berbisik. Sementara, jam dinding yang terus berdetak menerbitkan suasana genting.

Demikianlah suasana tegang dan kelam terbangun sepanjang setengah jam pentas ”Makan Malam Jahanam”, Senin (31/10) malam di Joglo Fakultas Syariah IAIN Walisongo. Sebuah pertunjukan yang sangat berbeda dari konsep standar Roda Gila dan Kelap Kelip Bersaudara.

Makan Malam Jahanam [foto: Arif Slam Nugroho]
Makan Malam Jahanam [foto: Arif Slam Nugroho]

Kelompok yang dikomandani Khotibul Umam itu memang acap menampilkan pertunjukan eksperimental dengan menabrak segala dramaturgi yang selama ini diugemi. Tapi kemarin, empat aktor, Anton Sudibyo, Vickirrahman, Bagus Taufiqurrahman, dan Galih diarahkan untuk bermain realis.

Dari dialog, gerak, langkah kaki bahkan cecapan kopi, tawa dan hisapan rokok harus teks book. Hampir tak ada dispensasi untuk improvisasi.

Tapi Roda Gila tetaplah Roda Gila. Perhatikan saja dialognya, kenakalan tetaplah menjadi nafas mereka.

Tengok saja, adakah yang penting dalam dialog-dialog yang berseling-seling antara kemarahan, tawa, dan keheningan itu? Perbincangan tentang rencana sebuah revolusi itu hanya dibuat menjadi seolah-olah penting dengan topeng karakter vokal, volume, nada, artikulasi, moving dan blocking yang tertata.

Penonton pun seperti disirep sejak mula oleh setting panggung melingkar yang membiaskan keseriusan. Seperti menyaksikan talkshow di televisi berisi perdebatan tentang sengkarut persoalan yang menentukan nasib bangsa.

”Memang itulah yang kami bidik, sehari-hari kita disuguhi perdebatan elite politik di berbagai media, semua menganggap diri dan pendapatnya penting padahal semuanya omong kosong,” kata Umam.

Celakanya, menurut mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro itu, perdebatan ala panggung politik juga menjangkiti pekerja teater. ”Kita sibuk berkoar tentang korupsi dan kebobrokan mental bangsa di panggung, sementara dalam keseharian kita tak lebih baik dari apa yang dikecamnya sendiri.”

Kritik sekaligus otokritik yang sangat pedas dari Roda Gila itu menjadi sebuah kado yang manis untuk hari lahir ke 29 Teater Asa. Melengkapi kado pertunjukan yang sudah ditampilkan lebih dulu dari beberapa kelompok teater kampus Semarang pada siang harinya.

Di antaranya Teater Wadas, Metafisis, Kaplink, Mimbar, Dipo, SS, G-TherWhas, Buih, Getar (Salatiga). Tak ketinggalan, musik etnik dan mokong sosial, termasuk pertunjukan penuh perenungan ”Kereta Waktu” dari tuan rumah. (Leonardo ABP-39)

Artikel/reportase pementasan ini diambil dari Suara Merdeka edisi 02 Nopember 2011. Versi aslinya dapat dilihat di sini

Iklan