Pernahkah anda melihat piring terbang? Atau UFO? Atau alien? Kalau sudah, maka anda termasuk orang-orang yang spesial. Cerita ini bukan bermaksud untuk bilang kalau saya adalah seorang spesial. Jujur saya pernah melihat piring terbang bahkan hampir saja diculiknya. Piring terbang yang akan menculik saya berwarna ungu menyala dengan sinar merah di sekitarnya. Suaranya berdesing seperti kipas angin rusak dan mengeluarkan bau belerang seperti di pemandian air panas. Saya melihatnya di malam satu Sura ketika langit terang dan angin tenang. Sayangnya ketika saya melihat fenomena langka tersebut, saya sedang sendirian dan sedang tidak membawa kamera untuk mengabadikan peristiwa itu. Jadi saya hanya punya cerita.

            Kejadiannya tepat sebelum jam 12 malam. Saya ingat, waktu itu saya sedang menunggu tukang sate  langganan saya lewat depan rumah. Tukang sate langganan saya biasanya mulai lewat di depan rumah saya antara jam 11 sampai 12 malam. Saya mulai menunggu di teras depan rumah sambil merokok mulai jam 11 lebih sedikit. Jalanan depan rumah masih agak basah oleh hujan yang cukup deras tadi sore. Namun malam ini langit sangat cerah walau udara terasa agak dingin. Bintang-bintang terlihat jelas di langit malam. Di ujung jalan, di mana terletak balai kampung, bapak-bapak sedang tirakatan malam satu Sura.

            Setelah habis rokok kretek dua batang, sate langganan saya akhirnya datang juga. Penjualnya bernama Cak Kadir. Orang Madura yang telah puluhan tahun hidup di rantau. Di kota ini ia mengontrak rumah kecil bersama istri dan kedua anaknya. Karena sudah langganan sejak lama, saya sering dipaksa ngutang olehnya jika sedang tidak punya uang. Cak Kadir orangnya gemuk dan berwajah bulat. Mempunyai kumis dan brewok yang lebat. Kalau saya perhatikan, muka Cak Kadir mirip seseorang yang familiar di ingatan saya, tapi saya lupa pernah berjumpa di mana.

            “Sate Cak! Satu porsi. Lontongnya dibanyakin ya!”, pinta saya. “Siap Mas”, jawab Cak Kadir dengan sigap sambil mengupas daun pisang yang membungkus lontong. Sambil menunggu sate pesanan saya  disiapkan, saya menyulut batang rokok ketiga. Saya hisap dalam-dalam sambil menerawang entah kemana. Hmm, malam yang sepi. Cak Kadir yang biasanya cerewet saat meladeni pembeli, kali ini juga ikut mengunci bibirnya. Entah kenapa. Mungkin ia juga malam yang cerah penuh bintang ini dengan khusyu’ meracik sate pesanan saya.

            “Ini Mas satenya”, kata Cak Kadir mengagetkan saya. “Oh ya Cak”, balas saya sambil menerima seporsi sate dengan lontong extra. “Wah, terlalu banyak nih Cak lontongnya!!!”, protes saya sambil memasang muka sok tidak enak. “Nggak papa Mas. Lagian sayang kalau nanti nggak kemakan. Soalnya malam ini rada sepi”, jelas Cak Kadir dengan muka tersenyum. Sebenarnya saya juga senang sih dikasih lontong “double extra”. Pas sekali dengan hawa dingin dan perut yang keroncongan. “Makasih lho Cak”, ucap saya berterimakasih setengah basa-basi dengan muka tulus dibuat-buat. Saya kemudian membayar sate lontong itu dan tidak lama kemudian Cak Kadir mendorong gerobaknya menjauh dari rumah saya menyusuri jalan hingga tidak terdengar lagi bunyi lonceng gerobaknya.

            Saya pun memakan sate di teras rumah. Walau dengan “lontong extra”, sate itu pun langsung tandas. Saya mengambil air putih di dalam rumah terus duduk di depan teras rumah lagi. Sambil merapatkan jaket, saya membakar rokok sebatang. Perut kenyang, hawa dingin, angin sepi, bintang bertaburan di langit dan sebatang rokok ternyata adalah perpaduan yang sangat syahdu.

            Ketika rokok di tangan saya tinggal separuh batang, saya mencium bau yang aneh. Baunya mengingatkan saya ketika piknik ke Baturaden. Saya kemudian bangkit dan mencari-cari sumber bau tersebut. Saat sibuk mengkembangkempiskan hidung mencari sumber bau, saya mendengar suara desingan benda logam jauh di atas saya. Kontan saya langsung menengadah ke atas. Jauh di atas saya, terlihat semburat warna ungu dan merah. Berputar-putar dalam sebuah lingkaran raksasa. Seperti bulan purnama, namun sepuluh kali lebih besar. Saya hanya tertegun dan terpana melihatnya. Tidak mungkin itu bulan purnama. Karena ini malam Satu Sura, saatnya bulan mati. Sumpah demi para koruptor yang terkutuk!!! Baru kali ini dalam hidup saya melihat pemandangan seperti itu.

            “Piring terbaaaang!!!”, teriak saya sambil tercekat. Sebenarnya tidak layak juga kalau disebut teriak, karena saya sendiri pun tidak mendengar teriakan saya. Saya hanya bisa memandang pemandangan di atas kepala saya tanpa bisa beranjak. Kami tenggengen. Fenomena yang membuat tubuh hanya terbujur kaku tidak bergerak sama sekali karena saking takutnya atau saking shock-nya. Saya semakin membeku ketika piring terbang, rembulan ungu merah raksasa atau entah apa itu namanya mulai mendekati bumi di mana kaki saya berpijak.

            Kalau di film-film, adegan inilah yang mungkin paling menegangkan. Adegan di mana sang tokoh utama, yang sayang sekali dalam cerita ini diperankan oleh saya, mencoba mencerna dengan akal sehat apa yang terlihat dengan mata kepalanya. Sebuah fenomena yang masih menjadi perdebatan dalam ranah intelektual dan menjadi komoditas seni populer yang lumayan meraup untung banyak. Ditambah pula dengan bumbu-bumbu teori konspirasi, Perang Dingin, sampai eksistensi manusia yang ternyata tidak hidup “sendirian” di alam jagat raya ini. Jadilah waktu itu, antara percaya dan tidak, sambil mencoba mencubit kulit pergelangan tangan kiri saya, piring terbang itu mendarat pas di depan rumah saya.

            Piring terbang yang harusnya terlihat sangat besar ketika tadi mengangkasa, mendadak menciut dan muat di jalan sempit di depan rumah. Saya sempat tidak menerima dengan akal sehat fenomena tersebut, hingga akhirnya saya sadar kalau mereka adalah makhluk luar angkasa yang naik piring terbang, yang tentu saja selalu terlihat lebih canggih daripada semua peradaban manusia di bumi tercinta ini. Yang selalu punya senjata laser dengan sinar warna-warni. Yang bisa mengendalikan pikiran manusia semau mereka. Yang planetnya hancur dan berniat menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka yang baru. Oh tidaaakkk!!!

            Mendadak terbukalah sebuah celah kecil pada benda aneh yang tidak teridentifikasi itu. Entah itu pintu entah itu jendela, keluarlah dari piring terbang itu sebuah mahluk yang berwarna kuning keemasan. Mahluk itu turun dari piring terbang dengan pergerakan yang mulus. Sepertinya, hukum gravitasi bumi tidak berlaku pada mereka. Setengah meter dari permukaan tanah, mahluk itu berjalan mengambang ke arah saya. Ketika sudah satu meter di depan saya, sebuah rongga kecil di kepala mahluk itu, yang rupanya berfungsi sebagai mulut, membuka dan mengeluarkan suara: “Assalamualaikum!!!”. Dan, mulutku menganga. Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba semuanya gelap.

***

            Kepalaku masih terasa berat ketika aku mencoba membuka mata. Semua terlihat berwarna putih. Terdengar suara menderu namun lembut. Seperti igauan atau ombak laut. Aku mencoba untuk bangkit, namun kepalaku masih terasa berat dan pening. Setelah aku berhasil duduk, aku mencoba mengamati ruangan itu dengan lebih seksama.

            Ruangan itu ternyata tidak hanya berwarna putih. Warna putih hanya mendominasi bagian atas ruangan. Bentuknya pun sukar dipastikan. Dindingnya tidak lurus tapi melengkung. Namun tidak juga ruangan itu berbentuk bulat karena saya bisa melihat dengan jelas ada sudut berjumlah empat di ruangan itu.

            Ketika melihat ruangan ini saya jadi ingat tentang kapal selam Kapten Nemo. Yang saya alami mirip dalam novel 20.000 Mil Di Bawah Laut karya Jules Verne. Di mana Aronnax, Conseil dan Ned Land tiba-tiba terbangun di sebuah ruangan serba putih yang ternyata adalah sebuah ruangan dalam kapal selam.

20000 Mil Di Bawah Laut
20000 Mil Di Bawah Laut

            Tiba-tiba salah satu dari keempat dinding ruangan itu menghitam. Ternyata hitam yang saya lihat adalah sebuah lubang. Hmm, mungkin hal ini lebih maklum kalau disebut pintu. Suara menderu nan lembut masih terdengar. Dari lubang atau pintu itu muncullah sesosok mahluk berkepala besar. Sebuah lubang kecil dibawah matanya sepertinya memberikan isyarat senyuman pada saya. Saya juga mencoba membalasnya dengan senyuman. Lubang kecil di mulutnya mengeluarkan sebuah suara. Mungkin lebih tepat kalau disebut bebunyian. Namun saya tidak begitu paham bunyi apakah itu.

            Ketika semakin mendekat ke arah saya, keluarlah sebuah suara. Suara yang menimbulkan bahasa. “Siapa namamu?”, tanyanya dalam bahasa Indonesia. “Heh! Nama saya, Idrus!”, jawab saya asal. “Oh, halo Idrus. Nama saya Kul”, katanya sambil mengulurkan sebuah benda dari badannya yang ternyata berfungsi sebagai tangan. Jujur saya agak ragu menerima uluran tangannya untuk berkenalan. Namun, apa salahnya dicoba.

            Tangannya sangat dingin. Walau tidak sedingin es. Ada desiran aneh ketika kulit tangan saya bersentuhan dengan tangannya. “Kalau boleh tahu, saya ada di mana?”, tanya saya. Mahluk berkepala besar itu hanya mengeluarkan bebunyian yang nampaknya seperti suara tawa. “Kamu ada di dalam pesawat saya. Kamu aman di sini. Saya datang ke planet ini dengan maksud damai. Kami hanya singgah sebentar lantas melanjutkan perjalanan ke sebuah bintang yang kalian sebut matahari”, jelasnya panjang lebar.

            “Lantas kenapa kalian membawaku?”, tanyaku dengan masih menyimpan keheranan. “Kami biasa mengajak seorang penghuni dari tempat yang kami singgahi untuk kami ajak jalan-jalan mengelilingi alam semesta”, jawabnya dengan penuh keyakinan. Saya pun hanya terdiam mendengar jawabannya. Masih antara percaya atau tidak. Mimpi atau nyata.

            “Kamu santai saja. Tidak usah khawatir tentang kehidupanmu saat ini. Kamu di sini aman. Tujuan kami membawa penghuni setempat adalah untuk memberikan cakrawala baru kepada mahluk pribumi. Harapan kami, setelah kamu kami ajak jalan-jalan, kamu bisa menceritakan pengalamanmu pada kaummu!”, jelas alien itu. Saya hanya ternganga mendengar penuturannya. Lama-lama perkataannya seperti pidato seorang motivator setiap Minggu malam pada salah satu stasiun televisi swasta.

            “Tapi jika saya ikut jalan-jalan dengan kalian, bagaimana dengan kehidupanku nanti? Jujur saya banyak tanggungan di dunia ini!”, keluhku sambil membayangkan tagihan listrik, PAM, iuran RT, surat tilang yang belum saya tebus, siapa yang memberi makanan kucing, siapa yang menyiram tanaman dan saya belum membuat paper untuk presentasi kuliah seminar besok siang di kampus.

            “Sudah kami bilang. Kamu tidak usah khawatir. Kami mempunyai teknologi yang bisa merekayasa waktu. Kami bisa dengan mudah mengulur dan memendekkan waktu. Jadi, selama apapun kamu ikut berpetualang dengan kami, kami bisa dengan mudah mengembalikan waktumu ke masa apapun. Kamu tinggal pilih untuk kembali ke waktu atau masa yang mana”, jawabnya dengan tersenyum.

            Terlintas sebuah pikiran di otak saya. Saya tidak bisa menyebutnya baik atau buruk. Yang jelas pikiran itu timbul begitu saja. Bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya dan belum mempunyai bayangan yang cerah tentang masa depan, hidup di negeri ini terasa memuakkan. Ikut jalan-jalan dengan alien dan piring terbang sepertinya menjadi sebuah jalan keluar yang masuk akal bagi saya.

            “Baiklah. Saya ikut. Kemana pun kalian akan membawaku!”, ujarku dengan tersenyum. “Kalau begitu, silahkan istirahat sebentar. Perjalanan akan dimulai beberapa saat lagi. Kamu bisa menikmati ruangan ini dengan sebebas-bebasnya. Kalau kamu ingin makanan, kamu tinggal minta. Kamu hanya tinggal berdiri di tengah ruangan, tengadahkan muka, terus minta apa yang kau mau. Dalam sekejap, keinginanmu akan terwujud!”, kata Kul dengan berwibawa. [bersambung]

Iklan