Hari ini adalah 30 September 2011. Empat puluh enam tahun sebelumnya, negeri ini mendapati kejadian yang sangat spesial yang kondang disebut G 30 S. Sampai sekarang belum jelas bagaimana kejadia yang sebenarnya. Terlalu banyak teori, spekulasi, dan konspirasi yang pernah disusun untuk kejadian tersebut.

Saya termasuk generasi yang termakan oleh sejarah yang ditulis oleh Orde Baru. Sejak SD saya selalu disuruh nonton film “Pengkhianatan G30S/PKI” oleh guru saya. Sampai sekarang pun saya masih merinding jika menonton film besutan Arifin C. Noer itu. Saya tidak tahu, apakah filmnya yang memnag bagus, atau kengerian yang selalu diceritakan oleh guru-guru saya tentang kekejaman PKI yang membuat saya selalu merasa “takut” jika mendengar kata “PKI”.

Hari ini adalah 30 September 2011. Saya tidak tahu apakah para generasi muda masih mengingat kejadian 46 tahun yang lalu. Media massa hanya beberapa yang menulisnya. Negeri ini seakan ingin “melupakan” masa lalunya. Di tengah “amnesia sejarah” tersebut, saya iseng membuka Facebook dan mendapatkan undangan dari teman saya Adhitia Armitrianto. Si do’i ini adalah seorang wartawan dan mantan aktivis kampus plus seniman kugiran kota Semarang. Mungkin, dia sedikit manusia di negeri ini yang belum dilanda penyakit “lupa”.

Adhit mengundang saya untuk hadir dalam acara yang bertajuk “Melawan Lupa” yang diselenggarakan di bekas kampus Sastra Undip Pleburan. Kondisi kampus yang tidak terawat, entah mengapa membuat kesan acara ini menjadi semakin “syahdu”. Beberapa politisi muda, seniman dan aktivis hadir dalam acara ini. Ada yang baca puisi, performance art, main musik dan ditutup dengan diskusi.

Viki Rahman sedang performance art

 

Yang menarik adalah sebuah performance art dari salah satu rekan saya dalam kelompok seni pertunjukan amatir yang bernama Roda Gila dan Kelab Kelip Bersaudara, yaitu Viki Rahman. Performance art-nya kali ini berjudul “Mencabut Bulu Kaki”. Sudah berkali-kali performance art ini ditampilkan namun dengan konteks acara yang berbeda-beda. Kali ini ia becerita tentang khotbah jumat di masjid kampungnya yang terlihat dangkal menyikapi kejadian G 30 S.

[Viki Rahman – Mencabut Bulu Kaki]

Menurutnya tidak patut sebuah khotbah jumat menghakimi kejadian G 30 S hanya dari kacamata PKI=kejam=dosa karena tidak bertuhan.

Acara ini ditutup dengan pembacaan puisi oleh senior saya, Kustam Ekajalu, seorang seniman kugiran dari Jepara. Melihat beliau baca puisi, saya serasa terlempar ke masa delapan tahun yang lalu ketika saya masih menjadi mahasiswa baru. πŸ˜€

[Kustam Ekajalu membaca puisi]

Yah, saya tidak tahu “Melawan Lupa” akan selalu relevan atau tidak. Jangankan peristiwa 46 tahun yang lalu, janji kampanye pemilu yang lalu pun sudah banyak yang lupa. Hmm, jadi bolehkah saya bilang, “Ya, setidaknya ada yang ingat peristiwa 46 tahun yang lalu!!!”. Β πŸ˜€

 

Iklan