Minggu ini adalah minggu yang sibuk. Banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. Membaca dan terus membaca. Ada 10 novel yang harus dibaca dan saya hanya punya dua. Saya hanya punya novelnya Nawal El Sadawi dan John Steinbeck. Itu pun sudah lupa jalan ceritanya karena saya membacanya beberapa tahun yang lalu.

Setidaknya saya sangat suka kegiatan membaca. Jadi saya tidak akan menganggap tugas membaca 10 novel dalam empat hari menjadi sebuah beban. Mungkin suka membaca adalah salah satu alasan kenapa saya masuk kuliah di jurusan sastra. Alasan yang lain adalah karena saya tidak suka pelajaran yang ada angkanya.

Dulu, waktu saya masih kecil, saya lebih memilih dibelikan majalah Bobo daripada mainan. Saya selalu gembira jika diajak saya pergi ke kota. Karena di kota, saya bisa meminta dibelikan majalah Bobo. Menginjak usia SMP saya mulai mengoleksi novel Lima Sekawan, Trio Detektif dan novel misteri karya S. Mara Gd. Khusus untuk novel S. Mara Gd saya beberapa mencurinya dari perpustakaan keliling yang mampir di sekolahan saya. Saya paling suka dengan serial Daud Hakim & Trista karya S. Mara Gd.

”]Selain novel misteri saya juga akrab dengan beberapa komik buatan Eropa, seperti Lucky Luke, Tintin dan Asterix. Entah mengapa saya kurang begitu suka dengan komik buatan Jepang. Satu-satunya komik buatan Jepang yang saya suka adalah Detektif Conan. Itu pun dengan alasan karena Detektif Conan adalah komik misteri dan detektif.

Menginjak SMA saya juga kena imbas booming film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Sosok misterius dan sastrawi yang melekat pada Rangga berimbas pula pada lingkungan saya. Teman-teman saya yang dulu urakan dan tidak peduli pada buku bacaan, mendadak menjadi sok cool dan menenteng buku puisi kemana-mana sambil sesekali mojok di sudut kelas. Sendirian.

”]Sewaktu SMA pula saya kenal sama yang namanya puisi. Guru Bahasa Indonesia saya pada waktu itu banyak meracuni saya. Walau beliau mengajar saya secara singkat, kesan yang ditimbulkan sangat dalam. Saya sekarang membayangkan sosoknya seperti Robin Williams dalam film Dead Poets Society.

Yah, begitulah. Ketika kuliah tentu saja saya banyak membaca buku, terutama fiksi. Hampir 70% buku saya adalah fiksi. Mulai dari novel, cerpen, drama hingga puisi. Kuliah saya di jurusan sastra yang mempelajari teori sastra pun tidak membuat saya jatuh cinta untuk mempelajari teori. Buku non fiksi koleksi saya pun kebanyakan adalah buku sejarah. Hanya beberapa buku teori sastra, itu pun dapat dihitung dengan jari.

Entah kebetulan atau tidak, saya pun mempunyai pacar yang juga hobi membaca. Sekarang kalau membeli buku pun sering patungan. Meski saya yang sering dibelikan buku olehnya. Konon pacar saya jatuh pada saya bukan karena cinta pada pandangan pertama terhadap saya, tapi cinta pada pandangan pertama pada buku-buku koleksi saya. Alamak!!! Tidak apalah. Setidaknya saya berhasil memikat wanita dengan koleksi buku saya yang sangat β€œberharga” πŸ™‚

 

Iklan