Menurut cerita, matahari pernah diletakkan pada sebuah arloji. Arloji itu sekarang kupakai pada pergelangan tangan sebelah kiri, berbentuk aneh dengan dua knop pemutar, yang satu pemutar hari dan yang satu pemutar hati.

 

Cerita bagaimana matahari itu diletakkan dalam arloji itu, aku kurang begitu tahu, namun pernah ada yang bilang padaku, bahwa arloji itu dulu adalah milik Batara Surya yang jatuh cinta pada Dewi Kunti.

 

Dalam arloji tersebut, ada dua gambar katak yang saling berkejaran, yang satu berjalan kencang, yang satu berlari pelan. Tak pernah sekalipun mereka bertemu, kecuali pada saat Dewi Kunti dan Batara Surya dirundung rindu.

 

Nah, pada saat dua insan tersebut dirundung rindu, Batara Surya akan menjelma menjadi sebuah matahari dan masuk ke dalam arloji pemberiannya. Dewi Kunti akan memandangi arlojinya setiap saat dengan sukacita.

 

Begitulah ceritanya, arloji tersebut akhirnya diwariskan secara turun temurun oleh keturunan Batara Surya dan Dewi Kunti, hingga tadi malam ibuku memberikan arloji tersebut kepadaku: “jaga arloji ini baik-baik ya nak!” katanya.

 

Semarang-2006

 

Iklan