Pukul 04.17 pagi hari. Kereta yang aku tumpangi mulai masuk Stasiun Tawang. Sayup-sayup terdengar melodi Gambang Semarang. Ah, lama sekali aku tidak mendengar lagu ini. Keretaku meleset satu jam lebih dari waktu kedatangan yang tertera di jadwal. Tidak apa. Yang penting selamat sampai tujuan.

            Satu per satu para penumpang mulai berdiri dari tempat duduknya. Mencoba mengusir kantuk dan melawan dinginnya udara pagi. Aku ambil ranselku kemudian mulai berjalan ke pintu keluar gerbong.

            Dan mulailah kesibukan di peron stasiun ketika sebuah kereta api datang. Penjaja makanan, petugas stasiun, para penumpang dan porter barang. Untuk yang terakhir ini aku melihat mereka banyak yang berseragam dengan tulisan Pramu Antar di punggungnya. Bahkan para pedagang asongan pun banyak yang berseragam.

            Hm, pasti Kiki belum bangun sepagi ini. Dengan langkah gontai dan masih mengantuk aku berjalan ke sebuah kafe untuk mencari secangkir kopi. Kafe yang aku tuju merupakan kafe langgananku jikalau berada di stasiun ini. Namanya My Café. Terletak di sebuah kios di seberang ruang tunggu. Aku sudah kenal dengan penjaganya. Seorang pemuda bernama Deny yang agak lemah gemulai pembawaannya. Namun aku tak yakin Deny bertugas di pagi ini.

            Aku masuk ke My Café. Sangat sepi. Hanya terdengar lagu dari sound system yang terpasang di dindingnya. Sebuah lagu 80-an milik Obbie Mesakh. Aku mengambil kursi di pojokan sambil menunggu kemana perginya si penjaga kafe. Beberapa saat kemudian muncul seseorang dari arah dapur. Ternyata Deny. Tumben anak itu dapat jatah jaga sepagi ini.

            “Lho, Mas Alfa! Baru dateng ya?”

            “Ya. Baru aja. Naik Senja Utama. Gimana kabarmu Den?”

            “Ya gini lah, Mas. Biasa aja. Minum apa, Mas? Seperti biasa?”

            “Yap!”

            Deny sudah hafal dengan pesananku. Kopi Kothok Spesial tanpa gula. Pahit dan kental. Tidak butuh waktu lama, pesananku pun sudah tersaji di meja.

            “Trims, Den. Tumben kamu dapat jatah jaga pagi-pagi?”

            “Iya, Mas. Tukeran sama Roni. Si Roni sekarang kuliahnya pagi terus, jadi kita tukeran”

            “Ow, gitu!”

            “Baru dateng dari mana to, Mas? Keliling Indonesia lagi ya?”

            “Enggak. Dari Jakarta aja. Habis ngunjungin temen”

            “Oh. Cuma main to. Eh, ntar ya, Mas”

            Deny pun mengakhiri pembicaraan kami karena ada dua orang calon pembeli yang masuk ke kafenya. Satu pria satu wanita dengan usia paruh baya. Tampak seperti pasangan suami istri. Mereka berdua langsung duduk di seberangku. Tidak ada yang menarik pada diri mereka. Biasa saja. Wajah yang lelah karena perjalanan tampak jelas. Sebuah wajah yang sama, yang aku yakin juga sedang terpasang di wajahku.

            Hanya pakaian mereka yang agak janggal. Mereka memakai jubah hitam panjang seperti di negeri sub tropis. Dua-duanya memakai kacamata hitam seperti di film Men In Black. Mereka juga tidak tampak membawa barang bawaan.

            Mereka mencoba tersenyum padaku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Aku sedang malas berbasa-basi. Si pria mengambil rokok sedangkan si wanita asyik bermain telepon genggam. Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Tampak Deny mengantarkan dua gelas minuman dan dua mangkuk mie. Walau pesanan telah datang, mereka tidak tampak buru-buru menyantapnya.

            “Yah! Mati deh!”. Teriakan itu muncul dari mulut wanita di seberang. Rupanya batere telepon genggamnya telah habis. Sambil memasang muka jengkel, wanita itu mulai menyantap mie yang telah berada di depannya sedari tadi. Rupanya aktifitas yang bernama “makan” adalah prioritas setelah telepon genggam mati.

            Pria pasangannya masih asyik menikmati rokoknya. Sama sekali tidak menggubris ketika telepon genggam pasangannya mati. Mungkin peristiwa tersebut adalah hal yang sangat wajar di hidupnya. Pandangannya pun kosong entah kemana. Mereka bersama, namun entah kenapa ada di dua kehidupan yang berbeda.

            Aku mulai membayangkan mereka adalah mata-mata negara asing yang dikirim ke Indonesia dan menyamar sebagai pasangan suami istri. Atau mereka adalah teroris yang mencoba meledakkan fasilitas umum seperti stasiun. Atau yang lebih parah lagi, mereka adalah sepasang alien yang mencoba menyamar menjadi Homo Sapiens dengan tujuan menginvasi bumi ini dan dimulai dengan Semarang. Oh, tidaaakkk!!!

            Aku tertawa sendiri. Rupanya mereka sadar kalau sedang ditertawakan hingga menoleh padaku. Langsung saja aku pura-pura sibuk dengan diriku. Aku ambil novel yang ada di tas ranselku dan pura-pura membacanya. Semoga saja sampul bukunya tidak terbalik seperti di film-film ketika seorang spionase ketahuan bohong karena mereka membaca koran dengan terbalik.

            04.29. Aku mencoba mengirim sms ke Kiki. Mengabarkan kalau aku sudah sampai di Tawang. Tidak kusangka, tanpa menunggu lama, aku sudah mendapatkan balasannya.

***

            Matahari masih malu-malu bersinar. Hawa kantuk sedikit menyergapku. Di sebelahku Kiki menyetir  dengan tenang. Suara Kurt Cobain mengalun serak lewat pemutar MP3. Lagu-lagu dari album Unplugged In New York milik Nirvana selalu menjadi “soundtrack of the day” yang wajib diputar tiap hari oleh Kiki. Apalagi saat menyetir. Album ini merupakan album terakhir Nirvana, karena setelah album ini Nirvana bubar karena Kurt Cobain mati bunuh diri.

            “Kamu kok masih saja suka sama pria gondrong bersuara aneh yang udah di alam baka itu sih?”

            “Lha kamu kok masih saja suka sama si tua bangka bergitar bolong yang nggak mati-mati itu sih?”

            Lalu derai tawa bersama karena baru saja mencerca idola masing-masing. Kiki sangat menyukai Nirvana seperti aku menyukai Bob Dylan, meski tanpa alasan yang sentimental. Sedari kecil ia sudah mengoleksi semua hal yang berbau Nirvana. Hal yang agak janggal bagi gadis manis seusianya. Jika anak gadis lain mengoleksi pernik-pernik Agnes Monica, Chikita Meidy, Trio Kwek-kwek atau Sailormoon serta berlangganan Tabloid Fantasi dan Majalah Bobo maka Kiki sudah hafal Smells Like Teen Spirit walau dengan bahasa Inggris yang tidak jelas serta berlangganan Majalah Hai demi bonus poster Nirvana. Jika ditanya kenapa dia suka Nirvana, maka Kiki akan menjawab: “Keren aja!”, sambil nyengir.

            Ketika aku pindah ke rumah Om Kusno saat itu Kiki sangat sedih dan berduka. Idolanya si pria gondrong bersuara aneh a.k.a Kurt Cobain baru saja meninggal karena bunuh diri. Kata Tante Mira, suami Om Kusno, Kiki sudah dua hari tidak masuk sekolah karena sakit dan berduka. Ketika aku tanya berduka karena apa, Tante Mira hanya menjawab dengan sedikit sewot, “Tanya aja sendiri ya! Siapa tahu kamu nanti bisa menghiburnya”.

            Kiki hanya diam ketika aku tanya ia berduka karena apa. Matanya memandang lurus ke dinding kamar di mana banyak tertempel poster Nirvana. Matanya masih sembab karena kebanyakan menangis. “Fa, Kurt Cobain meninggal. Bunuh diri!”. Dan mendadak ia menangis di pundakku. Aku yang juga baru saja mendapatkan musibah, bingung harus melakukan apa. Ketika aku melihat ke pintu kamar, Om dan Tante Kusno tertawa ngikik berbarengan. Mungkin mereka menganggap lucu dua orang saudara sepupu yang masih SD saling berpelukan dan salah satunya menangisi kematian seorang rockstar.

            Setelah kejadian itu, aku baru tahu kegemaran Kiki akan Nirvana. Walau Kurt Cobain meninggal, Kiki tetap setia dengan Nirvana. Bahkan lebih fanatik daripada sebelumnya. Dia dengan tegas menolak kehadiran band-band lain di kehidupannya. Kiki menolak tegas Hanson, The Moffats, Limp Bizkit dan terutama serbuan boyband pada akhir 90-an. Ia kerap sekali memaki ketika Backstreet Boys, Boyzone atau 98 Degrees lewat di MTV. Sering pula ia mencoba memaksakan kehendaknya untuk mencekokiku dengan mazhab Nirvananya.

”]

            “Heh, kok malah ngelamun sih kamu!”, kata Kiki mengagetkanku.

            “Enggak, cuma liat jalan kok”, jawabku mencoba menyembunyikan lamunan sambil senyam-senyum sendiri. Aku lemparkan pandangan ke luar jendela mobil. Jalanan mulai terlihat ramai. Mobil kami baru saja melewati perempatan Metro di mana selalu ada pasar tiban setiap pagi. Pasar tiban itu mulai ramai pukul sebelas atau dua belas malam hari. Dan mencapai puncaknya pukul lima pagi. Aku pernah mengantarkan temanku yang anak fotografi untuk hunting foto di pasar ini.

            “Hey, kenapa kamu senyam-senyum?”, tanya Kiki penasaran.

            “Hehehe, aku ingat pas aku pertama kali pindah ke rumahmu dan liat kamu nangis gara-gara Kurt Cobain meninggal Ki!”, jawabku sambil tidak kuat menahan ketawa.

            “Yeeee, diungkit-ungkit lagi!”, kata Kiki sambil manyun. “Kamu tau nggak? Kematian Kurt Cobain itu adalah pengalaman kehilanganku yang pertama kali lho”. Dheg!!! Kata-kata Kiki tentang “kehilangan” sontak membuatku menghentikan tawa. Aku tiba-tiba terdiam. Aku lemparkan lagi pandangan ke arah luar jendela. “Aku sangat sedih waktu itu. Aku seperti kehilangan seorang kakak!”. Dan senyumku hilang dari wajahku. “Hm, tapi untung ada kamu, Fa. Kamu datang pada saat yang tepat. Saat aku butuh temen. Walau kamu nggak seganteng Kurt Cobain, sih!”, kata Kiki sambil ngakak.

            Akhirnya aku ikut tertawa. Ini adalah ironi. Betapa kehilangan kadang menerbitkan tawa. Betapa kehilangan telah menumbuhkan kebersamaan antara aku dan Kiki. Betapa kehilangan akan membuatku selalu pulang ke rumah itu. Rumah Kiki sekeluarga.

            “Kenapa kamu pulang Fa?”, tanya Kiki. Pertanyaan sederhana yang tiba-tiba menyentakku. Tanpa Kiki sadari, dia sudah dua kali membuatku tersentak di pagi ini. Aku benar-benar tidak menyangka Kiki akan bertanya seperti itu. Tidak sepagi ini, ketika kita baru saja berjumpa.

            “Hmm, pulang ya pulang aja. Mungkin aku sudah bosan jalan-jalan”, jawabku sekenanya. Sambil nyengir aku coba menjawab sesantai mungkin. Kiki pun hanya manggut-manggut dan tersenyum simpul. “Kesibukanmu apa selain ngurus Horoscope?”, tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

            “Nggak ada. Hidupku hanya untuk Horoscope saat ini”. Selarik senyum muncul dari bibir Kiki. Aku suka senyum itu. Senyum yang optimis. “Sekarang ini Horoscope lagi ramai-ramainya”

            “Saking ramainya, hingga membuat kamu nggak tidur sampai pagi ya?”

            “Yeee, itu kan dalam rangka menjemput kamu Tuan Besaaaarrr!!!”

            “Oh ya? Terima kasih Nona. Walaupun begitu kamu tetap harus istirahat, kan?”

            “Heh! Sejak kapan kamu jadi perhatian kayak gitu?”

            “Sejak hayat dikandung badan dong!”

            “Kampret, ah! Kamu tahu nggak? Pegawaiku yang dua orang sepertinya tidak cukup lagi. Aku kasihan setiap malam melihat mereka keteteran meladeni pelanggan”.

            “Terus kenapa tidak menambah pegawai?”

            “Hm, sudah kupertimbangkan, Fa. Mungkin dalam minggu-minggu ini. Yang nyari pegawai baru pun juga pegawaiku yang lama, si Tomi. Mungkin temannya nanti yang ngisi. Jadi biar lebih enak kerjanya, karena mereka sudah kenal duluan”.

            “O, gitu”. Dan kami pun terdiam. Dari audio mobil terdengar Something In The Way. Dari semua lagunya Nirvana, aku paling suka lagu ini. Baik yang versi asli di album Nevermind maupun yang versi unplugged. Terutama pada bagian refrain ketika Cobain mengulang-ulang …something in the way…dengan selingan hmmmm…..di setiap ulangannya.

[Nirvana – Something In The Way (unplugged)]

            Mobil Kiki pun sudah mulai masuk ke kawasan rumahnya. Sebuah perumahan menengah di Semarang atas. Entah kenapa hatiku mendadak berdegup kencang. Seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Ah, udara pagi! Apakah kau tahu perasaan macam apa ini? Seperti rasa nyaman yang telah lama tidak aku rasakan. Apakah ini perasaan ketika burung-burung pulang ke sarang?

            Akhirnya sampailah kami di rumah Kiki. Pekarangan rumah itu tampak asri dan hijau. Tante Mira yang gemar berkebun sangat tahu bagaimana caranya membuat rumah agar tetap nyaman ditinggali. Nyaris tidak ada perbedaan dengan saat aku pergi dari rumah ini.

            “Oke! Sampailah kita di rumah, Tuan Besar. Selamat datang di gubug kami yang mungil ini!”

            Aku hanya tertawa mendengar celotehan Kiki. Rasa lelahku sedikit hilang dengan candaannya. Aku ambil ransel di bagasi. Matahari mulai panas menyengat walau udara masih terasa segar.

            “Kamarmu udah dibersihkan sama Mbah Yem. Langsung pake aja!”

            “Okay. Sambel petenya juga sudah disiapkan belum?”

            “Pastilah. Makan sambel pete tanpa kamu seperti makan sayur tanpa garam, tanpa kuah, tanpa mangkuk, tanpa piring dan tanpa sendok!”

            Aku hanya tertawa mendengar omongan Kiki. Sepupuku yang satu ini memang sahabatku yang terbaik. Dia sangat tahu bagaimana caranya membuat suasana menjadi riang. Aku mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Sangat sepi. Hanya terdengar suara televisi yang menyiarkan berita pagi.

            “Kok sepi? Pada kemana?”

            “Papa dan Mama ke luar kota. Di dapur ada Mbah Yem kayaknya”

            Kulangkahkan kaki ke dapur. Aku lihat Mbah Yem masih sibuk memasak. Mbah Yem tidak menyadari kehadiranku yang sudah berdiri di depan pintu dapur.

            “Mbah Yem!”

            “Weee! Mas Alfa! Baru aja dateng ya?”

            “Iya Mbah”

            “Wah, Mbah Yem kangen lho sama Mas Alfa. Saking kangennya sampe dua minggu kemaren itu Mbah Yem ngimpi Mas Alfa”

            “Ngimpi saya, Mbah? Ngimpi apa?”

            “Ngimpi Mas Alfa meninggal. Tapi saya bersyukur. Kata orangtua, kalo ada yang ngimpi meninggal itu tandanya bakalan berumur panjang!”

            “Ow, gitu! Amin kalo gitu Mbah. Hehehe. Masak apa, Mbah?”

            “Masak sambel terong bakar dan pete goreng. Kesukaan Mas Alfa. Kemaren udah dibilangin sama Mbak Kiki kalo hari ini Mas Alfa pulang. Jadi Mbah sengaja masak menu ini”

            “Wah, nggak sia-sia saya pulang nih, Mbah. Ya, udah, saya istirahat dulu, Mbah. Cuaapeekk!!!”

            “Ya Mas. Istirahat dulu. Mandi terus maem ya!”

            Dan aku meninggalkan dapur itu dengan perasaan ringan. Tanpa kusadari, aku menyunggingkan senyum ketika berjalan ke kamarku. Ah, aku tidak sabar makan pagi.

            Kurebahkan badanku di kasur. Nyaris tidak ada yang berubah dengan interior kamar ini. Terlihat rutin dibersihkan. Pasti Tante Mira atau Mbah Yem yang berbaik hati membersihkan kamarku. Mereka berdua memang perempuan yang hebat.

            Kupandangi langit-langit kamar, dan aku sadar kalau aku telah merumah…

[Cerita ini merupakan bagian kedua dari sebuah cerita bersambung/novel. Silahkan meninggalkan komentar untuk ide cerita, kritik atau saran untuk cerita selanjutnya. Terima kasih!]  🙂

Iklan