Life is an adventure. Begitulah bunyi sebuah teks iklan pada sebuah iklan susu formula kelas premium di televisi. Hmm, kenapa juga “hidup adalah sebuah petualangan”? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, petualangan muncul dari kata dasar tualang yang berarti: 1 mengembara kemana-mana (tidak tentu tempat tinggalnya); berkeliaran; bergelandangan; 2 selalu pergi ke mana-mana (tidak suka tinggal di rumah); 3 berbuat sesuatu secara menekat (tidak jujur dsb). Jadi kalau hidup adalah sebuah petualangan, maka seseorang yang sudah menetap di suatu tempat, sudah punya rumah, tidak pernah berpergian, dan yang rutinitas hariannya biasa-biasa saja dan mudah ditebak adalah sudah tidak “hidup” lagi? Mungkin!

Jikalau begitu, maka para gelandangan yang berkeliaran di taman kota, backpacker kumuh bermodal Lonely Planet, atau mahasiswa perantauan yang selalu berpindah kos (baca: numpang) adalah jenis manusia yang bisa dibilang “hidup”? Hmm, bisa diperdebatkan!!! Yang jelas petualangan adalah salah satu kata yang cukup seksi dibaca, dilafalkan maupun dilakukan. Dengan cerita petualangan kita bisa menjelajah Dunia Barat yang liar lewat Winnetou-nya Karl May. Sehabis menonton petualangan Alexander Supertramp dalam Into The Wild, seorang teman saya tiba-tiba berhasrat untuk keliling Indonesia. Dan saya sendiri sedari kecil hidup dalam petualangan yang saya ciptakan sendiri setelah membaca Lima Sekawan, Asterix dan Lucky Luke.

salah satu adegan dalam film Into The Wild

Terus mengapa iklan susu formula tersebut begitu provokatif? Mungkin karena kita sebagai manusia memang memendam hasrat untuk bebas dan tidak terkekang. Life is Free. Dengan gambar anak-anak kecil yang berlarian dan lanskap indah eksotis di belakangnya, membuat kita selalu tergoda untuk segera berlari di perbukitan yang hijau. Walau umur beranjak tua, setiap manusia tetap menyimpan jiwa anak kecil di dalam dirinya, yang celakanya mungkin pada masa kecil itulah kita memang betul-betul hidup. Di mana kita bisa bernapas tanpa ragu dan bimbang dalam menatap dan menata hari esok. Oh, menyenangkan sekali!!!

Kemudian pertanyaannya adalah: kapankah kamu benar-benar merasa “hidup”? Wah, jawabannya bisa bermacam-macam. Tergantung kepada siapa kita mengajukan pertanyaan tersebut. Saya sendiri pun kadang bingung jika diberi pertanyaan seperti itu. Mungkin jika pertanyaan itu diajukan kepada seorang koruptor, maka jawabannya adalah: saya merasa hidup jika saya bisa korupsi 1 trilyun tanpa dijerat hukum dan bisa memanfaatkan uang tersebut dengan sebaik-baiknya sesuai kemaslahatan hidup saya.

Hidup dalam tanda kutip memang sulit digambarkan, apalagi dilakukan. Berbagai macam tafsiran tentangnya berseliweran di rimba pustaka. Ada yang terselip di sudut perpustakaan dengan debu setebal satu centimeter, hingga terperosok jauh di dalam tebalnya kitab suci. Namun, dari semua konsepsi tentang hidup, saya tetap lebih suka konsep “urip ki mung mampir ngombe”. Yap, hidup itu cuma mampir minum. Sekedar melepas dahaga setelah capek berpetualang dan berkelana. Jika anda, apakah hidup itu?  🙂

 

[tulisan ini dibuat beberapa bulan yang lalu untuk zine Kosong edisi 5 yang sampai sekarang belum terbit juga]

 


Iklan