“Halo, Alfa!!!”

            “Hola, Kiki!!!”

            “Dah sampe mana kamu?”

            “Baru aja naik kereta. Kayaknya sampe Bekasi, nih!”

            “Oke deh. Nanti jadi aku jemput, to?”

            “Hmm, ntar aja aku hubungi lagi”

            “Sip! Aku dibawain oleh-oleh, kan?

            “Pasti dong! Bayi gajah putih mau kan?”

            “Mau dong! Sekalian emaknya juga mau”

            “Hahaha!!! Bisnis lancar kan? Papa Mamamu sehatkan?”

            “Lancar juragaaan. Papa dan Mama juga sehat. Ditanyain terus tuh kamu. Hmm, mbok kamu tu mampir ke Horoscope. Udah lama sekali kan kamu nggak ke Horoscope?”

            “……”

            “Alfaaa!”

            “Ya, Ki…”

            “Kamu masih males datang ke Horoscope, ya?”

            “Hmm, nggak juga”

            “Ya udah. Pokoknya kalo nanti kamu jadi minta jemput, call me ya. Udah dulu ya. Banyak customer, nih. Da da, Alfa. Ketemu nanti ya!”

            “Da da Kiki”

            Klik.

***

            Akhirnya aku mencoba duduk bersandar di kursi kereta. Malam hitam. Tampak beberapa lampu jalan saling berkejaran. Setelah beberapa minggu tidak menginjak negeri ini, pemandangan lampu yang berkejaran di jendela kereta masih tetap menggoda. Tidak seperti di akhir pekan, kereta api kelas bisnis yang aku tumpangi kali ini lumayan sepi. Hanya separuh kapasitas kursi penumpang yang terisi di gerbongku. Nglangut. Rupanya telepon dari Kiki tadi adalah satu-satunya percakapan yang terjadi di gerbong ini.

            Kereta pun masih menderu. Stasiun Bekasi telah satu jam-an terlewati. Hufh, masih lama untuk sampai Semarang. Kalau sesuai jadwal, kereta sampai Stasiun Tawang nanti pagi. Di sampingku teronggok ranselku yang ternyata mulai terlihat kumuh. Ransel backpack ini sudah setia menemaniku sejak aku lulus kuliah. Kenang-kenangan dari seorang sahabat lama. Di dalamnya hanya ada pakaian, buku dan oleh-oleh untuk Kiki. Sepupuku itu adalah partner in crime paling hebat sedunia. Sedari kecil kami hidup bersama layaknya kakak adik. Sejak kelas empat SD kami selalu satu sekolah. Aku tinggal di rumah Kiki setelah Papa dan Mama meninggal karena kecelakaan pesawat ketika aku masih berusia sepuluh tahun. Om Kusno, adik Papa dan sekaligus ayah Kiki, yang akhirnya merawatku.

***

            “Maaf dik, punya korek nggak?”. Lamunanku buyar oleh pertanyaan seorang bapak separuh baya yang tiba-tiba ada di sebelahku.

            “Oh, punya pak!”, jawabku sambil mencari korek di bagian luar tas ranselku.

            Aku keluarkan korek api berbentuk Sphinx. Pemberian teman seperjalananku ketika berada di Hanoi yang bernama Alex. Katanya ia beli korek itu di Mesir. Alex adalah warga negara Amerika Serikat. Usianya jauh lebih muda daripada aku. Terpaut sekitar empat atau lima tahunan. Namun perwakan kami terlihat sebaya. Mungkin karena Alex sudah termasuk kelas senior untuk urusan backpacking. Di usia yang baru 20 tahunan, ia sudah berkeliling benua Amerika, Afrika dan telah mencapai separuh Asia ketika bertemu aku di Vietnam.

            “Koreknya bagus dik. Oh ya, mau nggak dik?”, kata bapak itu sambil mengulurkan rokoknya.

            “Terimakasih pak!”, kataku sambil mengambil satu batang Dji Sam Soe.

            Hmm, sedap juga rokok kretek ini. Aromanya yang khas langsung menusuk hidungku. Rokok kretek adalah salah satu alasan bagi diriku untuk harus selalu pulang ke Indonesia. Sambil menikmati rokokku, aku mengamati bapak itu. Badannya terlihat kuyu dan capek, namun bibirnya seperti selalu menyunggingkan senyuman. Senyuman yang abadi dan terkesan misterius. Selarik senyumnya terlihat menyatu dengan guratan di wajahnya, bercampur dengan keriput dan bekas luka.

            “Mau kopi pak?”, kataku mengajukan tawaran.

            “Oh, mau aja dik”, jawab bapak itu sambil tersenyum.

            Aku kemudian beranjak dari tempat dudukku. Melihat ke sekeliling tanpa menemukan seorangpun petugas restorasi kereta api. Rupanya dengan sepinya penumpang, para petugas gerbong makan juga malas menjajakan menu makanan.

            “Saya pesankan dulu ya pak”, kataku sambil tersenyum. Tanpa menunggu jawaban aku langsung pergi ke gerbong restorasi. Ternyata gerbong restorasi juga sepi. Hanya kursi di pojok yang ramai oleh petugas kereta api yang bermain kartu sembari mengobrol. Aku hampiri meja bar dan mendapati penjaganya sedang melamun.

            “Mas, pesan kopi dua ya. Diantar ke gerbong sebelah!”, pesanku. Penjaga bar itu hanya mengangguk lantas tersenyum. Gurat kecapekan tergambar jelas dari raut mukanya. Tanpa basa-basi ia berbalik, mengambil termos, kemudian menyeduh kopi. Aku taruh dua lembar lima ribuan di atas meja bar.

            “Ini uangnya ya Mas!”, kataku.

            “Oh ya, tunggu aja di sana. Nanti kami antar”, jawab penjaga bar itu tanpa menoleh sambil masih sibuk mengaduk kopi.

            Ketika aku kembali ke tempat dudukku, bapak tadi sudah tertidur. Rokok yang terselip di sela jarinya pun masih menyala. Ah, aku tidak tega membangunkannya. Kubakar rokokku sambil melihat pekatnya malam yang ada di luar jendela. Tidak lama kemudian kopiku datang. Panas-panas kusruput kopi dari gelasnya. Hmm, tiada yang lebih nikmat daripada kopi panas di atas kereta api.

            Setelah tegukan ketiga aku mengambil Ipod-ku. Rokokku masih menyala. Aku hidupkan Ipod, kupasang earphone dan Like A Rolling Stone pun mengalun nikmat dengan volume rendah. Bapak di depanku masih tertidur. Sangat nyenyak. Abu rokoknya berjatuhan mengotori celananya. Lampu desa di kejauhan tampak bercahaya. Seperti kunang-kunang di Manhattan. Ah, aku jadi teringat cerita pendek itu. Cerita tentang orang-orang yang terasing karya Umar Kayam. Dji Sam Soe-ku tinggal separuh. Tak kubiarkan si Bob berhenti menyanyi. Aku putar terus menerus lagu itu. Repeat. Aku menggumamkan lagu itu sambil memejamkan mata. Like a rolling stoooone…..

Bob Dylan[Bob Dylan]

            “Bob Dylan ya dik?”, kata Bapak itu mengagetkanku. Buru-buru aku copot earphone-ku.

            “Apa pak?”, tanyaku mencoba berlaku sopan.

            “Hehehe, kamu tadi nyanyi Bob Dylan ya?”.

            “Oh, iya pak!”, jawabku sambil tersipu.

            “Hmm, baru kali ini aku bertemu anak muda yang nyanyi Bob Dylan. Dulu saya dan kakak saya sering nyanyi lagu itu dik. Tapi itu dulu. Jaman bapak masih kribo!”, cerocos bapak itu sambil tertawa. Salah satu gigi serinya terlihat ompong. Giginya yang lain pun tampak kecoklatan.

            “Saya suka Bob Dylan karena dulu ayah saya sering muter Bob Dylan pak”. Tiba-tiba semuanya membiru. Aku selalu benci dimana aku harus bercerita kepada orang lain mengapa aku suka Bob Dylan. Pasti air mukaku mendadak murung. Rupanya bapak itu tahu perubahan yang terjadi.

            “Bapakmu sudah meninggal ya?”, tanya bapak itu dengan kesan hati-hati.

            “Iya pak”, jawabku singkat. Aku hanya menunduk. Aku rasa bapak itu memandang ke luar jendela. Melihat pemandangan malam di luar sana. Ketika mata kami bertemu, aku merasa mata kami sama-sama berkaca-kaca. Sepasang danau tercipta di pelupuk mata kami.

            “Kakak saya juga sudah nggak ada dik. Tapi nggak adanya itu udah meninggal atau belum, saya nggak tahu. Tiba-tiba saja dia  menghilang tanpa kabar. Tidak ngasih kabar orang rumah sama sekali”, cerita Bapak itu sambil mengisap rokoknya untuk yang terakhir kalinya. Dengan gerakan lembut, Bapak itu membuang puntung rokok itu ke lantai kereta kemudian menginjaknya. “Kata orang, kakak saya itu menjadi korban Petrus. Kamu tahu Petrus to?”. Aku pun mengangguk.

            “Wah, bagus sekali kalau kamu tahu tentang Petrus. Kamu suka pelajaran sejarah ya?”, terka Bapak itu dan aku pun mengangguk sekali lagi dengan tersenyum. Sejarah adalah pelajaran favoritku selain Geografi. “Hmm, pasti kamu masih kecil waktu itu ya. Tahun 80-an. Tiba-tiba di koran banyak berita tentang mayat di pinggir jalan. Biasanya mayat itu adalah preman, gali atau penjahat. Tapi yang saya heran dik, kakak saya itu kan bukan penjahat, bukan gali dan bukan preman. Kakak saya itu orang pinter dik. Hanya dia yang kuliahnya lulus di antara keluarga kami. Tapi setelah lulus, kakak saya itu sering pergi dik. Berpindah-pindah kota. Nggak tahu ngapain. Bahkan sampai luar Jawa segala.Nggak tahu saya apa yang dikerjakannya. Kalau ditanya Bapak saya jawabannya Cuma satu dik: diskusi. Hehehe, betul-betul koplak kakak saya itu dik. Lha wong diskusi kok sampai mana-mana. Yang saya tau sih, temennya memang banyak dik. Terus ketika kakak saya itu hilang alias lama nggak kasih kabar, temen-temennya kakak saya yang dulu sering main ke rumah kami pun juga ikut-ikutan ngilang. Nggak pernah keliatan main lagi ke rumah kami. Jadi kami mau dapet infonya juga susah dik!!!”. Aku hanya terdiam mendengarkan cerita Bapak itu. Terpekur memandangi puntung rokok yang telah gepeng terinjak dan masih tidak menyangka mendapat cerita seperti itu dari seseorang yang baru saja aku kenal.

            Lambat laun tercipta semburat senyum di wajahnya. Bapak itu bangkit dari tempat duduknya dan kemudian berkata, “saya cari angin dulu ya dik. Agak panas di sini!”.

            “Oh iya pak”, jawabku sambil memaksa untuk tersenyum. Bersyukur karena aku tidak usah menceritakan kepada Bapak itu kenapa aku suka Bob Dylan.

            Bapak itu mengambil satu batang Dji Sam Soe dari bungkusnya dan kemudian menyalakannya dengan korek Sphinx-ku. “Ini rokoknya buat kamu saja semua dik. Terimakasih ya!”. Bapak itu berlalu dengan cepat. Hilang ditelan pintu gerbong kereta. Bahkan aku pun belum sempat mengucapkan terimakasih atas rokoknya. Namanya saja pun aku belum menanyakannya. Aku hanya duduk terpekur sambil memandang setengah bungkus Dji Sam Soe yang tergeletak di atas meja. Aku ambil satu batang dan aku main-mainkan di sela-sela jariku. Tiba-tiba aku mendapat firasat akan bertemu kembali dengan Bapak itu. Entah kapan. Entah di mana.

            Ah, aku benci peristiwa sentimental ini. Semua yang berkaitan dengan Bob Dylan membuatku galau. Galau namun damai. Dua perasaan yang saling bertolak belakang namun hadir bersamaan. Dengan Bob Dylan aku merasa selalu dekat dengan Papa dan Mama. Dan aku suka memandangi potret Bob Dylan serta membayangkan bahwa legenda itu adalah Papaku. Tentu saja Janis Joplin adalah ibuku. Sedikit konyol dan berlebihan memang, namun hal tersebut lumayan menghiburku. Aku tidak tahu apa arti Bob Dylan bagi Bapak itu. Apakah sekedar pengingat tentang kakaknya yang tidak tahu di mana rimbanya, atau lebih dari itu. Yang jelas, dengan mendengar Bob Dylan bernyanyi, Bapak itu seperti menggenggam kenangan akan kakaknya.

            Setelah Papa Mama meninggal dan aku tinggal dengan Om Kusno sekeluarga, saya selalu membobol duit tabungan untuk membeli kaset atau piringan hitam Bob Dylan. Om Kusno mempunyai gramophone yang sangat tua dan diletakkan di tengah ruang keluarga. Om Kusno sangat suka memutar piringan hitam Koes Plus dan The Beatles. Koleksi piringan hitamnya juga lumayan lengkap. Walaupun begitu, karena sezaman dengan Koes Plus dan The Beatles, Om Kusno juga tidak keberatan jika aku memutar Bob Dylan di piringan hitamnya. Mungkin dia tahu kalau Papa juga suka Bob Dylan. Dan percaya atau tidak, Bob Dylan seperti benar-benar hadir di rumah Om Kusno jika piringan hitamnya diputar. Ah, aku mendadak rindu rumah itu.

***

            Mataku tidak mau terpejam. Entah berapa lama dan kemana saja pikiranku berlayar. Di jariku masih ada satu batang Dji Sam Soe yang belum sempat aku sulut. Lamunanku usai ketika hape-ku bergetar. “Kiki calling…”.

            “Holaaa!!!”

            “Sampai mana Alfaaa??”

            “Ehm, nggak tau nih, Pekalongan mungkin. Kamu mau jadi njemput aku to?”

            “Jadilah. Tapi nggak njemput kamu sih, aku maunya njemput oleh-olehnya aja!!!”

            “Ya ya. Dua tiga jam lagi mungkin nyampe Tawang. Jemput pakai kereta kuda ya”

            “Okay kamerad!”

            “Da da Kiki!”

            “Da da Alfa!”

            Klik!

            Fyuh! Suara Kiki semakin membuatku rindu untuk pulang ke rumahnya. Bertemu Om dan Tante Kusno. Mbah Yem dengan sambal pete yang tiada duanya. Bob Dylan dan gramophone di ruang tengah. Membakar sate di halaman belakang sambil bercengkrama di kala senja. Melihat pemandangan kota dari atas bukit di waktu malam bulan purnama bersama Kiki sambil membawa satu krat bir. Aaahhh!!!

            Baiklah. Agar perjalanan ini terasa cepat selesai, aku hidupkan lagi Ipod-ku. Aku paksa lagi Bob Dylan menyanyi. Sambil memejamkan mata, aku bersenandung….. 

How does it feel
How does it feel
To be without a home
Like a complete unknown
Like a rolling stone ?

[Cerita ini merupakan bagian pertama dari sebuah cerita bersambung/novel. Silahkan meninggalkan komentar untuk ide cerita, kritik atau saran untuk cerita selanjutnya. Terima kasih!]  🙂

Iklan