Saya termasuk orang yang jarang sakit. Baik itu sakit berat maupun ringan. Seingat saya, sakit terberat yang pernah saya alami adalah malaria ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Itu pun saya sudah agak samar-samar jika disuruh mengingatnya secara rinci.

Bagi mahasiswa rantau seperti saya, sakit adalah salah satu hal yang wajib dihindari. Dengan kondisi keuangan yang belum mapan, mengidap sakit tertentu adalah sebuah bencana. Bahkan sakit yang paling ringan sekalipun, seperti panu, kadas, kurap atau bahkan bisul.

Tapi siapa pula manusia yang mau sakit? Baik sakit fisik maupun mental? Tidak ada saya kira. Kesehatan adalah harta yang tidak terkira. Mendhing sehat dan kaya daripada sakit dan miskin, iya to??? Nah! Bertepatan dengan musim pancaroba, yang rupanya bulan ini sedang berlangsung, beruntunglah saya karena diberi sakit oleh Yang Maha Kuasa.

Gejala-gejala seperti ingus meler, batu-batuk, badan meriang mulai kelihatan. Dan rupanya hal ini tidak hanya terjadi pada saya. Teman satu kontrakan saya, Bayu Tambeng, tadi pagi juga bangun tidur dengan badan meriang. Kemarin ketika saya mau beli obat di apotek, dua merek obat flu langganan saya habis alias ludes terjual. WOW!!!

Saya jadi ingat dengan pameo “Orang Miskin Dilarang Sakit!”. Pameo itu sangat jelas menggambarkan kondisi saya yang sedang sakit si negara dunia ketiga. Mengidap sakit meriang plus batuk-batuk tanpa jaminan kesehatan, jaminan sosial, asuransi kesehatan dan negara yang cuek terhadap rakyatnya.

Oh, saya jadi berpikir, mungkin negara ini juga sedang sakit. Mungkin karena dililit hutang IMF, World Bank, minyak mentah dunia yang merangkak naik, buah simalakama pencabutan subsidi ekonomi untuk rakyat, korupsi yang menjadi kewajiban para birokrat, dan Timnas Sepakbola yang selalu kalah walau terus selalu dipuja oleh penggila bola. Hmmmm….

 

*tulisan ini dibuat dalam keadaan sakit betulan. Bila ada pihak yang tersinggung, mohon maaf. Maklum, lagi meriang!!!

Iklan