hidup adalah doa yang panjang, sunyi adalah minuman keras…*

Kepalaku masih agak berat ketika aku mencoba untuk naik menuruti tangga menuju kamar. Bedebah! Rupanya sisa malam bujang lapuk di kampus tadi masih menggelayut mesra di kepala. Yah… bagaimana nggak menggelayut mesra jika tadi kira-kira sudah jackpot dua kali.

Sampai di depan pintu kamar aku mencium bau tidak enak, sengak-sengak kecing ! Aku mencoba mencari sumber bau, menaik-naikkan hidung kesana kemari dan… aah! Rupanya jaket kanvasku yang terkena jackpotan campur nasi goreng, lho.. aku kan tadi mbadhognya sate kambing, kok ini nasi goreng! Peduli amaat !

Dengan meraba jidat yang pusing aku mencari kunci kamar di sela-sela tumpukan sepatu. Aku masukkan anak kunci dan klek ! Gelap dan singup, jendela yang tak terbuka sejak lusa membuat debu dari luar langsung menusuk hidung, aku terbatuk sesaat. Aku hidupkan lampu, agak silau dan tidak ramah bagi mata. Butuh sekian detik untuk beradaptasi dengan itu. Tak lama kemudian, tampak semuanya dengan jelas. Sebuah kamar 3X3 yang putih warna dindingnya. Aku copot jaketku dan langsung kutaruh di pojok di cepitan pintu. Sambil meraba-raba dinding aku merangkak ingin rebah di kasur. Masih pusing juga ini kepala !

Sambil tiduran aku buka laptop yang tergeletak di lantai. Aku setel MP3nya Radiohead. Street Spirit pun mengalun bening. Sudah agak reda pusingku. Namun tarikan vokal Thom Yorke membuat kepala ini terasa mengambang lagi.

Semuanya terjadi di kamar ini. Ketika ia mengajakku telanjang dan ingin lahir kembali. Dan mengapa aku mau ? Aku tak tahu. Tapi waktu itu, aku mencoba menjadi air yang ingin membasuh tubuhnya, meredakan hausnya. Dan sebagai air rupanya aku cukup membuatnya basah. Tak hanya ia dan tubuhnya, namun juga aku yang ikut menguap.

Dan kamar ini lumayan mengerti jika harus dijadikan samudra. Dia akan merdu jika kita ingin syahdu, panas bila kita membeku, dan dingin bila kita ingin bersatu. Yah.. betul-betul bersatu.

Namun bukan sunyi jika ia tak memabukkan. Kadang ia cukup merindukan bagiku. Kadang aku tak ingin lagi menjadi air. Kadang aku tak ingin mengalir. Aku ingin menjadi angin, yang tak tampak, sendiri, namun berasa. Dan kamar ini selalu mendukungku untuk berbuat itu. Ia akan selalu mengunci dirinya hingga tak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalamnya.

***

“Sayang, aku digigit lagi dong !”.

“Ogah!”.

“Kenapa kok ogah ?”.

“Ya… pokoknya ogah !”

***

“Tambah lagi bung ! wan song wan dring !”. Dan gelas itu berpindah ke tanganku. Mau tak mau aku harus minum lagi. “Ini yang terakhir ya !” kataku. “Oo… nggak bisa ! Pokoknya kamu harus ikut sampe semuanya habis !” jawab si Badrun. “Drun, udah nggak kuat nich !” timpalku. Namun Badrun tak mau ambil peduli. Ia terus menuangkan minumannya itu lagi, lagi dan lagi. Bangsat !

Dan benar, kepalaku terasa berat ditimpa. Semua bayangan terasa mengabur dan mengair di depan mata. Aku mencoba berdiri. Mencari tempat yang enak untuk jackpot. “Eehh… mau kemana ?” Tanya Badrun kepadaku. “Kamar mandi” jawabku singkat. Tentu saja aku tak mengatakan ke kamar mandi untuk jackpot. Malu lah ! Sampai kamar mandi aku langsung memuntahkan semua isi perutku. Kamar mandi yang memang sudah pesing mempermudah proses jacpotku. Setelah jackpot, aku meraba celanaku yang….ANJING! Ternyata aku kencing di celana !

***

 “Emangnya kenapa kok ogah ?”

“Lagi nggak pingin

“Kalo lagi nggak pingin, kok tadi mau”

“Khan tadi !”

***

Apa yang sering anda lakukan ketika bercinta dengan pasangan anda ? Mencium, memeluk, menjilat, memandang, atau meraba. Kalau pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab: menggigit. Karena bagi saya menggigit merupakan paduan antara kelembutan dan kekasaran, rintihan dan lenguhan.

Namun tidak setiap bercinta saya menggigit anngota tubuh pasangan bercinta saya. Saya menggigit jika memang ingin menggigit. Dan waktunya pun tak tentu. Bisa di awal, tengah, atau akhir. Bisa sekali, dua kali, atau berkali-kali.

Nah, ternyata kebiasaan menggigit ketika bercinta ini menimbulkan masalah, setidaknya bagi saya sendiri. Pasangan bercinta saya selalu meminta untuk saya gigit ketika bercinta dengan saya. Padahal tidak setiap kali bercinta saya mau menggigit.

***

“Trus, apa alasannya tadi mau kok sekarang nggak mau ?”

“Nggak ada !”

“Harus ada, setiap sesuatu itu ada alasannya !

“Kata siapa ?”

***

Kepalaku tengadah ke atas. Aku ganti lagunya Radiohead dengan Whisky and Wine-nya 311. Lagu ini membawaku ke suatu tempat. Ke pantai, ke nyiur, ke sepoi yang selalu menemaniku. Ya, di tempat itu aku pertama kali bertemu dengannya. Mahluk manis berambut legam panjang. Tawanya yang selalu berderai. Gigi siungnya yang ompong setengah. Perutnya yang ramping. Badannya yang bau laut. Matanya yang beku. Ah ! mungkin ia adalah minuman yang paling memabukkan.

“Deraya”. Ia mengulurkan tangan kepadaku. Aku sambut tangannya yang hangat. Tanpa menunggu jawabanku ia sudah duduk di sampingku. “Aku datang dari jauh, dari seberang”.

***

 “Sayang, segala sesuatu khan ada sebab dan akibatnya”

“……..”

***

Aku lahir dari pulau yang teduh. Pulau dimana yang ada hanyalah kesejukan. Aku lahir ketika matahari tepat di atas ubun-ubun. Waktu itu yang ada hanyalah ibuku dan Mbah Dukun. Ayahku tak menungguiku lahir, karena waktu itu ia sedang menunggu laut melahirkan ikannya.

Namun, ayahku tak pernah bisa bersorak gembira atas kelahiranku. Karena ia tak tahu. Ia terlanjur pergi. Kata ibu, ayah pergi jauh mencari uang. Demi kita, katanya.

Oleh karena itu, sampai sekarang aku selalu pergi berkelana, mencari ayahku.

***

“Kok diam ?”

“……..”

***

Aku berjalan ke tempat aku tadi minum-minum. Derai tawa teman-teman terdengar jelas. Badrun yang paling keras tawanya. “Aku pulang duluan ya !” kataku pada mereka. “Tapi ini kanbelum habis bung !” timpal Badrun. “Aku sudah ngantuk nich” kataku lagi. “Mau pulang pake apa ?”. “Jalan”.

***

 Fake plastic trees…. dan aku masih ingin belum berdoa.

Don’t leave me high…

Don’t leave me dry…

***

Hingga sekarang. Aku ada disini. Bersamamu. Bercerita padamu. Kamu mau mendengarnya khan ? Aku tak tahan jika tak bercerita. Kalau bosan kamu boleh ngomong. Aku dengan legawa menerima. Namun kau juga harus tahu. Aku tak akan bosan bercerita tentang diriku. Pada siapapun. Pada siapa saja.

Yang kubutuhkan adalah teman. Teman yang mau mendengar ceritaku. Kamu mau khan ? Apa kamu mau ? Asyik ! Tapi kamu harus diam selama aku bercerita. Kamu baru boleh ngomong atau bertanya jika aku sudah selesai bercerita. Kamu mau ?

***

“Aku marah kalo kamu nggak cerita !”

“Silahkan”

Bener !”

“……..”

***

Bibir. Aku paling suka menggigit bibir. Aku tak tahu mengapa bisa begitu suka menggigit bibir. Yang jelas, ketika aku menggigit bibir, aku bisa merasakan semua rasa. Manis, pahit, getir, asin, pelangi, biru, gunung, laut, kulit, bir, lidah, anjing, hidup, dan…..

***

“Ya udah, aku pergi !”

“Derayaa !”

***

* salah satu larik dari puisi berjudul “Pada Suatu Malam” karya Sapardi Djoko Damono.

Iklan