Ia tiba-tiba muncul di kala pagi ketika aku belum genap sadarkan diri. Sun is Shining. Senyumnya lebih dahsyat menghantamku daripada secangkir kopi yang paling pahit sekalipun. Aku terkesiap. Dan ia tidak berhenti untuk tersenyum. Aku langsung harus merasa bisa menguasai diri. Aku pura-pura mengucek mata. Mencoba membalas senyum walau kuyakin saat itu aku berwajah sangat tolol. Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.

“Hmm, siapa dia dan kenapa ada di rumah ini?”, tanyaku dalam hati sambil memandang pantulan wajahku di cermin wastafel. Setahuku rumah temanku ini hanya dihuni oleh dua orang perempuan. Satu ibunya dan satunya adalah pembantunya yang sudah tua. Temanku juga tidak mempunyai saudara perempuan. Jadi, siapakah dia??? Aku singkirkan pertanyaan itu walau sebenarnya masih menggantung di benakku. Aku cuci muka terus buang air kecil.

Keluar dari kamar mandi aku langsung memanaskan air lalu membuat kopi. Sembari menunggu api memanas, aku minum air putih. Dari dapur aku dapat mendengar suara televisi menyiarkan berita. Berita tentang serbuan banjir lahar Merapi rupanya masih laku untuk dijual oleh media. Airku panas dan kopiku jadi. Aku keluar menuju ruang tamu dimana aku tadi tidur. Perempuan itu masih melihat layar televisi ketika aku datang. Aku letakkan kopiku di meja lalu membereskan kasur lipat tempatku tadi tidur.

Ia tersenyum kembali. Senyumnya terlihat lebih manis setelah aku cuci muka. Mendadak kopiku menjadi tidak sedap dan tidak menarik. Aku hanya bisa memandangnya sambil tertegun. “Mas temennya Firman ya?”, tanyanya memecah kebekuan. “I…iya…”, jawabku tergagap. Dan aku menundukkan muka. Tidak berani menatap matanya yang bening. Aku pura-pura sibuk mengambil cangkir dan meniupnya karena masih panas. Ah, aku merasa bodoh.

“Mas sudah punya pacar?”, tanyanya. Dan bom atom telah dijatuhkan. Aku tergeragap hampir tersedak. Kaget karena dia menanyakan hal yang sensitif di pertanyaan kedua. “Hm, belum!”, jawabku sambil nyengir. Ah, fuck! Kenapa pula aku harus berbohong. Aku baru sadar jika di depan perempuan cantik kita senantiasa berbohong!

Ia hanya tersenyum mendengar jawabanku. Terlihat sekali jawabanku konyol menurutnya. “Boleh minta kopinya?”, pintanya dengan lembut. “Hm, tentu saja boleh. Tapi ini tanpa gula lho!”, jawabku sambil menyurungkan cangkir kopiku padanya dengan tangan gemetar. “Kamu suka kopi pahit to? Kenapa?”, tanyanya. “Aku tak tahu!”, jawabku sambil tercekat.

Dengan gemulai ia mengambil cangkir kopiku. Menyeruputnya dengan suara yang sedikit berisik. Dan celakanya ia terlihat makin manis. Tanpa sungkan ia menghabiskan setengah dari kopiku. “Mbaaakk, kopinya tuh masih puaaanaaass!!!”, teriakku hanya dalam hati. “Terimakasih, ya!”, katanya sambil tersenyum dan kemudian beranjak.

Hanya keharuman yang ditinggalkannya. Aroma tubuh yang lembut dan aneh. Seperti campuran bunga dan rerempahan yang segar. Siapa ia? Bahkan namanya pun belum sempat aku tanyakan. Belum lepas keterpanaanku, aku dikagetkan oleh suara Firman. “Heh, pagi-pagi udah bengong!”, kagetnya. Aku tidak menjawab. Hanya diam.

Dengan penuh penasaran pun aku akhirnya bertanya, “Cewek tadi siapa, Man?”. “Cewek siapa?”, tanyanya balik. “Cewek yang tadi. Yang barusan ngobrol sama aku!”, kataku makin penasaran. “Ya nggak tahu lah. Cewek di rumah ini tu cuma nyokap ma Bi Siti. Nggak ada siapa-siapa lagi! Emang kenapa? Emang tadi ada cewek di sini?”, tanyanya sambil hendak mengambil cangkir kopiku. Sebelum sempat dia mengambil cangkir kopiku, aku dahului dengan mengambilnya. Aku nggak mau kehilangan kenangan dengan cewek manis tadi. “Enggak ada kok. Tadi cuma ngimpi kayaknya!”, jawabku sambil menyeruput kopiku dengan meninggalkan seribu tanda tanya.

 

 

 

Iklan