Hari ini adalah hari sabtu yang biasa. Sabtu seperti minggu-minggu kemarin. Hari sabtu bagi saya adalah hari di mana saya menghabiskan waktu bersama teman-teman. Di hari sabtu pacar saya bisa dipastikan tidak bersama saya. Pacar saya selalu pulang ke kampung halamannya untuk mengajar. Dia mempunyai semacam lembaga pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang buka setiap akhir pekan. Jadi, praktis setiap akhir pekan saya menyandang status sebagai seorang “jomblo”.

Sabtu layak diisi dengan bersih-bersih. Seperti mencuci pakaian, menjemur kasur dan sesekali menyapu atau mengepel lantai. Bangun tidur langsung minum air putih, melakukan peregangan sebentar, melangkah ke luar kamar, berjalan ke kamar mandi, buang air kecil, lantas cuci muka. Setelah itu, mencuci piring-piring dan gelas kotor, menyeduh air panas, dan membuat kopi.

Saya sekarang sangat suka kopi pahit tanpa gula sama sekali. Dengan takaran tiga sendok teh. Biasanya saya mengonsumsi kopi bermerk dagang “Kopi Luwak”. Selain itu saya kurang suka. Resep kopi tanpa gula ini dianjurkan oleh mantan teman saya yang sudah meninggal, almarhum Wisnu Wibowo. Wisnu sangat heran kepada saya yang dulu selalu membuat kopi dengan takaran fifty-fifty alias tiga sendok kopi tiga sendok gula. Menurutnya kopi harus dinikmati dengan rasa aslinya, yaitu pahit tanpa gula. Jika ditambahi dengan gula, selain rasa aslinya hilang, kita akan lebih beresiko menderita diabetes. Begitu katanya.

Setelah kopi saya siap, saya langsung menyambar koran pagi. Kontrakan saya langganan dua surat kabar. Suara Merdeka dan Jawa Pos. Yang membayari langganan koran adalah teman satu kontrakan saya yang wartawan, Lanang Wibisono. Seperti biasa tidak ada berita yang menarik dari koran akhir-akhir ini. Mungkin berita yang saya simak agak serius adalah berita sepakbola. Selain berita sepakbola, saya lihat cuma sekilas-sekilas.

Setelah minum kopi pahit dan baca koran, perut saya biasanya langsung bereaksi. Yap, kopi pahit adalah pencahar yang sangat baik. Tanpa menunggu waktu lama, saya sambar novel Nagabumi jilid I karya Seno Gumira Ajidarma untuk teman saya buang hajat di toilet. Saya selalu tenang dan lebih bisa berkonsentrasi jika membaca sambil buang hajat 😀 Btw, novel ini adalah pemberian pacar saya sebagai kado lebaran merangkap kado ultah yang kepagian 🙂

Kelar ritual in & out (begitu saya menyebut kegiatan membaca sambil buang hajat), saya merendam pakaian kotor. Biasanya saya mencuci pakaian seminggu sekali dan hari sabtu adalah hari yang pas untuk mencuci. Saya sangat suka mencuci. Satu-satunya hal yang saya tidak suka dari proses bersih-bersih pakaian adalah menyeterika. Oleh karena itu, saya tidak bakalan mau melakukan kegiatan yang namanya “menyeterika pakaian”!!!

Sembari saya menunggu rendaman cucian, saya menonton TV. Terus menanyakan kabar pacar saya yang sedang ada di kampung halaman. Di tengah-tengah menunggu rendaman cucian, saya mengantuk dan tertidur. Dalam tidur, saya bermimpi menulis sebuah catatan harian yang berjudul “Elegi Hari Sabtu”.

Iklan