“…….Malam minggu yang sepi. Kamar hanya disesaki suara mp3 mengalun dari laptop. Di sampingnya secangkir kopi panas tersaji di meja, hampir separuh kuminum. Kasur masih berantakan, dari pagi belum dirapikan. Buku-buku berserakan di atasnya. Pintu kamar mandi terbuka sedikit, sedikit pesing tercium darinya. Kopi kusruput, agak hangat sekarang. Asap hangat kopi mengembun ke kacamata ketika aromanya kuhirup…….” 

“Asuu! Ra dadi-dadi!”. Sementara kita membatu. Tak mau menguap sungguh. “Jane piye to ki!”. Kamar menjadi sebuah gerbong kereta api. Terus melarat menderu. Sayup acara gosip siang sekilas seperti bau mowilex. Kita terus membatu, memandang hidup hanya beragam susunan puzzle dan QWERTY. Ketika melangkah keluar kamar, hatiku serasa menjadi hip dan hop. Atau mungkin reggae. Walau yang kunyanyikan adalah Bulls on Parade.

Bagai bertumpuk buku yang teronggok di pojok, hidupku tak pandai bernarasi. Bahkan dinosaurus pun tidak separah ini. Gelisah saja tidak cukup. “Aku harus bisa menari dan bangun pagi!”, janjiku dalam hati. Pulang. No place like home. Tapi rumahku telah digondhol keong. Menyerah. Karena sadar, karier adalah produk mutakhir abad ke-20. Ini hanya argumentasi.

Yang kutahu, diri kita tak pernah mau tahu. Tahu-tahu, kita menjadi sok tahu. Ah! Que sera sera! Andai saja aku menjadi John Lennon. Meski aku tak mengharap revolusi. Save the water, DRINK BEER! Persetan! Mungkin menjadi manusia memang pilihan yang terbaik. “Aku tidak pernah minta untuk dilahirkan”. Detak jam agak parau terdengar.

Kepalaku disesaki piring terbang. Dan alien-alien itu adalah anggota DPR yang tertangkap tangan korupsi. “Opo to iki!”. Seperti ambulans, kepalaku terus menguing-nguing. “Alien gathel!”. Mereka berubah menjadi penyanyi dangdut warna-warni yang ikut audisi di tivi.

“Aku takut ini tidak menjadi sebuah cerpen!”. Sebutir tokoh pun tak kutemukan di sini. Hanya sebaskom ciu dan coca-cola yang sanggup menelan senja. Kalimat hanya berhenti pada deretan huruf. A B C D E F G H I J K L M n o P Q RS T U V W X Y Z. “Coba kau telan saja kata-katamu itu !”. Mulutku jadi batu. Batu jadi peluru. Peluru jadi sumbu. Sumbu jadi kayu. Kayu jadi malu. Malu jadi mau. Mau jadi harimau. Harimau jadi seribu. Seribu jadi kelambu. Kelambu jadi begitu. Begitu jadi sungguh. Sungguh jadi lalu. Lalu jadi menantu. Menantu jadi lugu. Lugu jadi sore.

Yang kubutuhkan saat ini adalah tidur. Walau laut sedang bercahaya saat ini. Coba saja kau cium baunya. Tak selalu harus kasur empuk. Karena asinnya sudah cukup bagiku. Seperti bulan separuh kuku. Yang mabuk karena blues yang biru. “Siapa berani minum coca-cola, akan menjadi istriku !”. Pukul dua satu lebih enam belas. Kuharap televisi di kamar tak berani cerewet lagi. Aku sudah bosan dengan omelannya. Ia selalu memaksaku untuk makan malam dengan hidangan yang berat. Aku tak biasa dengan itu. Apalagi tak ada anggur sebagai penutupnya.

“Aku punya satu pertanyaan untukmu. Apakah kau pernah menghianatiku ?”. “Ah, seribu topan badai ! Mengapa pula kau tanyakan itu !”. Hal ini tak akan pernah berakhir di sini. “Aku tak percaya kau pernah menghianatiku !”. Dan kau akan menangis sepanjang malam. Entah berapa gelas bir yang telah kau minum. Kau akan meraung di pojokan seperti tak akan ada orang yang mendengarkanmu selain buku diarymu sendiri. “Hmm, seharusnya kau minum coca-cola saja !”.

“……kemarin sore aku memukul batu, dengan gerimis yang mengalir dari matamu…….”

***

                “Hmm, cintaku kandas tertampar saus dan sosis!”, batinku saat mulai melewati jalan itu. Kenangan akan silam yang mulai mengabur. Sebuah rasa yang aneh bagi anak yang tak pernah mengenal kotanya sendiri. Yang memuja hidup bagai status dalam Facebook. Mencari udara dalam sela-sela gerimis yang jatuh.

“Aku adalah pengelana di kotaku sendiri”. Kota yang lahir prematur sebagai bayi tabung. Yang diasuh oleh belantara emosi. “Oh, Bharatayudha!”. Seperti Gandari yang menanam dagingnya dalam 99 pot. Seperti imitasi kehidupan, kotaku berkembang menjadi Bikini Bottom, di mana Spongebob dan Patrick berlomba mengejar ubur-ubur sejak zaman pra sejarah.

“Ayo menanam pisang di Simpanglima!”, kataku pada Pangeran Diponegoro. Tapi sayang, kudanya tak mau pergi. Sibuk mengejar Warak Ngendhog yang tak lagi punya telur untuk diproduksi. “Hmm, mitos…!”. Aku akhirnya mengajak Pinky dan Aga. “Jangan hanya pohon pisang, padi sekalian!”, teriak mereka. Namun aku tak punya traktor untuk membajak. “Kita punya kaki!”, kata Pinky. “Kita punya tangan!”, kata Aga. “Ya, tapi aku tak punya kepala!”, kataku.

***

“….dan burung hantu adalah teman yang selalu kunanti, saat aku tak bisa berbohong lagi kepada pagi….”

Cerita ini pernah dimuat di zine Kosong edisi 3. Dapat diperoleh di: http://monstermutasi.blogspot.com/2009/05/kosong-03rd.html

Iklan