.::Makan Malam Jahanam[1]::.

oleh: Khothibul Umam

Sebuah meja makan terhampar di tengah panggung. Empat kursi yang tersedia masing-masing telah ada yang menduduki. Sebuah lampu di atas meja makan menerangi temaram asap-asap rokok yang dihembuskan oleh manusia-manusia yang ada di bawahnya. Sisa makan malam terlihat belum sempat dibereskan. Keempat sosok yang ada di meja makan tersebut masih terdiam dalam pikiran-pikirannya ketika sayup-sayup siaran RRI menyiarkan Warta Berita Malam. Ada rona gelisah dan mencekam yang mengambang ketika penyiar radio membacakan beritanya. Mereka merasa tidak menemukan berita yang dicari di siaran berita tersebut. Rokok yang belum habis pun dipaksa dibenamkan ke dalam asbak. Salah seorang kemudian bangkit dari duduknya, berjalan ke arah radio, kemudian mematikannya.

Kamerad         : Berita sampah!!!

Kawan             : Sabar, Kamerad. Mungkin memang belum saatnya disiarkan.

Kamerad         : Kawan, aku sudah mengirimnya sejak tadi siang lewat kurir. Paling lambat Warta Berita Petang pun harusnya sudah menyiarkannya.

Ketua               : Apakah Kamerad sudah mengecek kurirnya?

Kamerad         : Saudara Ketua meragukan kurir saya?

Ketua               : Tentu tidak. Maksud saya…

Kamerad         : Dia adalah adalah kurir terbaik di organisasi kita. Saya sangat mempercayainya. Dia sudah teruji ketika dia menjadi kurir kita saat masa-masa konfrontasi, Ketua!

Ketua               : Tapi Kamerad juga seharusnya sadar, dalam kondisi seperti saat ini, beragam kemungkinan bisa saja terjadi. Orang yang selama ini setia pada organisasi bisa menjadi penghianat dalam sekali tepuk dan ini bisa membahayakan organisasi kita!

Kamerad         : Ketua!!! Saya sangat percaya pada kurir saya. Saya yang merekrutnya sendiri sejak ia masih di Front Pelajar. Ia adalah kader terbaik di antara kompatriotnya. Ia satu-satunya kader pelajar yang mendapatkan bintang jasa tiga tahun berturut-turut. Kesetiaannya pada organisasi dibuktikannya pada saat ia ditugaskan ke perbatasan untuk mengurusi logistik. Ia hampir menjadi martir di sana. Jadi tidak ada satu alasan pun yang mengurangi kepercayaan saya terhadapnya.

Kawan             : Hmm, betul, Ketua. Saya juga mengenal sendiri anak muda itu. Sekilas memang tampak tidak menonjol dibanding rekan-rekannya, namun dedikasinya kepada organisasi tak perlu diragukan lagi. Ia pernah menjadi bawahan saya di Komite Daerah, dan tugas-tugas organisasi selalu dilaksanakannya dengan cukup baik, bahkan bisa dibilang sempurna.

Kamerad         : Ya. Ketua ingat Mei tahun lalu. Dialah yang mengorganisir ribuan buruh-buruh hingga mampu menyemut di ibukota.

Ketua               : Aku tak peduli masa lalu. Yang kita hadapi adalah hari ini dan masa depan. Dan kalau masa depan yang kita impikan dengan gemilang itu hangus, maka anak buah kesayanganmu itulah yang harus bertanggung jawab. Saat ini, menguasai saluran informasi merupakan keperluan yang sangat vital. Bahkan mungkin yang paling utama! Pers Kamerad, perssss!!! Nah, jika sampai saat ini kok tugas yang diemban oleh anak buah kebanggaanmu itu belum membuahkan hasil, maka kita patut curiga dan waspada.

Setengah teriakan terakhir dari Sang Ketua membuat kedua lawan bicaranya terdiam. Mereka sepertinya sadar apa yang Ketua bicarakan adalah benar. Hanya seorang dari mereka yang dari tadi belum bicara. Dia hanya menyimak pembicaraan dengan tertunduk dan rokok yang tak pernah lepas dari tangannya.

Bung                : Tenang, saudara-saudara! Organisasi kita adalah organisasi terbesar di negeri ini dan paling disiplin, maka tak ada alasan dari kalian untuk meragukannya. Kita telah membuktikannya selama ini. Aksi kita terakhir di bulan Mei tahun lalu adalah salah satunya. Mata-mata kita di pihak lawan pun telah memberikan informasi yang mengesankan. Mereka semua kaget, kagum, campur takut terhadap pergerakan kita yang sangat massif. Agitasi dan propaganda kita yang progresif dan revolusioner pun telah disusun dan disebar. Lawan-lawan organisasi kita telah banyak kita kasih pelajaran. Semua sendi kehidupan bermasyarakat telah kita kuasai. Kita mampu merebut simpati rakyat. Seumpama pemilu diadakan hari ini, saya yakin kita yang akan menang. Inilah saat yang tepat untuk bertindak. Jangan ragu-ragu. Kita tidak bisa mundur lagi!!! Mundur dan bertahan adalah awal kegagalan. Di tengah suasana yang tak menentu ini, kita harus memperlihatkan eksistensi kita. Letupan-letupan kecil yang kita buat akan membuat massa oleng ke pihak kita. Mereka tidak akan percaya lagi kepada Pemerintah. Massa cuma membutuhkan pemicu untuk meledakkan keadaan. Kita sediakan pemicu itu. Di pihak kita, moral anggota organisasi harus kita tingkatkan. Dengan apa? Tentu saja dengan logistik yang memadai, ideologi yang diperkuat dan pers yang berpihak pada kita. Pokoknya sebelum musuh-musuh kita bersatu, kita harus lebih duluan mencerai-beraikan mereka, kalau perlu kita hancurkan semuanya!!!

Hanya kesunyian yang berbicara. Masing-masing hanyut dalam benaknya. Tak kuat dengan dengan keadaan itu, salah satu dari mereka pun berjalan ke arah radio dan menghidupkannya. Sayup-sayup terdengar lagu keroncong yang sendu. Kamerad pun bangkit memecah suasana.

Kamerad         : Ada yang mau tambah kopinya?

Kawan             : Saya mau, Kamerad.

Kamerad pun datang dengan kopi yang masih panas. Suasana tegang yang tadi tercipta mulai mencair. Dari radio masih mengalun lagu keroncong.

Kamerad         : Silahkan diminum, Kawan. Hmm, bagaimana rasanya? Beda dengan yang tadi bukan?

Kawan             : Sepertinya demikian, Kamerad. Kira-kira apa yang membuatnya berbeda, Kamerad?

Kamerad         : Yang membuatnya berbeda adalah prosesnya, Kawan. Dari mulai memilih benih dan tanah, cara menanam, hingga memanennya, semua dilakukan dengan cinta. Cinta akan revolusi, Kawan. Anda pasti tahu kan dari mana kopi seperti ini berasal?

Kawan             : Eehhh, dari mana, Kamerad?

Kamerad         : Wah, bagaimana Kawan ini!!! Tentu saja dari negeri ini, Kawan. Dulu dijuluki dengan nama Pulau Emas. Di situ berdiri salah satu kerajaan yang paling masyhur di negeri ini. Pada awal Republik ini berdiri, para pejuang dan pemuda beserta seluruh rakyat pulau itu, mempunyai andil besar dengan memberikan sumbangan pada bayi Republik ini. Maka tidak salah jika pulau itu merupakan daerah modal Republik. Jadi tidak heran bukan, jika kopi dari pulau itu sangat beda dan khas rasanya.

Ketua                : Berani-beraninya anda bicara omong kosong soal kopi pada saat seperti ini!!!

Kamerad         : Apa maksud anda, Ketua???!!! Ini kopi bukan sembarang kopi!!!

Bung                : Tenang, Kamerad! Hmm, tambahlah kopi sedikit, Ketua.

Bung bangkit meredamkan suasana. Kamerad dan Ketua pun dapat menguasai diri. Walau masih tersisa percik permusuhan di antara mereka.

Ketua               : Kopi pun menjadi hambar pada saat seperti ini, Bung.

Bung                : Kopi yang dingin tidak akan mampu memutar roda otak kita, Ketua. Bahkan hanya akan menambah gas di dalam perut. Atau Ketua mau cerutu ini. Ini oleh-oleh dari Kuba, lho. Tapi maaf, tinggal dua, yang lain sudah habis untuk menjamu kawan-kawan kita dari Politbiro kemarin malam.

Ketua               : Ah, cerutu. Boleh juga, Bung.

Bung                : Ini cerutu bukan sembarang cerutu, Bung. Dalam setiap lintingan cerutu ini, tersimpan setiap hasrat perubahan. Tersimpan segenap semangat revolusi. Kompatriot kita di Kuba yang bilang sendiri pada saya. Saya betul-betul terkesan dengan mereka. Mereka berhasil mengusir antek-antek kapitalis Nekolim dari negeri mereka. Semangat mereka harus kita serap layaknya kita menghisap cerutu ini, Ketua!!!

Ketua               : Ya. Saya setuju dengan anda, Bung. Ngomong-ngomong, ini kalau boleh saya tahu lho ya, ehhm, yang memasak hidangan tadi siapa ya?

Bung                : Oh, yang memasak tadi pelayan saya. Dia memang sangat jago memasak. Bahkan dia sering dipinjam oleh Kedutaan Asing untuk memasak pada acara-acara khusus. Dia lihai memasak berbagai macam jenis masakan, mulai dari Indonesia, China sampai Eropa. Konon ia adalah keturunan para pemasak di Istana Kaisar Tiongkok. Bebek Peking buatannya sangat luar biasa, Ketua. Tiada duanya. Namun, katanya dia belajar masak dengan otodidak. Sangat luar biasa mengingat hasil masakannya yang sangat istimewa. Dia pernah ditawari Istana Kepresidenan untuk dijadikan Juru Masak Istana. Namun ia tidak mau. Ketika saya tanya kenapa, ia menjawab jika hanya mau memasak untuk para pejuang revolusi. Jawaban itu sangat membanggakan saya, Ketua. Dan jujur, saya sangat terharu mendengar jawabannya.

Ketua               : Wah, luar biasa. Berarti kapan-kapan saya boleh meminjam jasanya jika organisasi kami sedang mengadakan jamuan makan malam, Bung.

Bung                : Oh, tentu saja boleh, Ketua. Demi organisasi, jangankan cuma Juru Masak, sekalian dengan dapurnya pun saya berikan, hahaha!!!

Sebuah lagu keroncong masih mengalun. Ruangan itu penuh dengan kepulan asap cerutu. Sesekali mereka mengambil kopi untuk disruput. Ada kegelisahan yang tidak dapat disembunyikan dari wajah mereka.

Ketua                : Bagaimana, Kamerad? Alangkah baiknya jika Kamerad mengecek kembali kurir anda. Apakah tugas yang Kamerad berikan padanya sudah dilaksanakan dengan baik.

Kamerad         : Hmm, santai saja, Ketua. Saya yakin, pasti tugas yang saya berikan sedang dikerjakan. Sedang dalam proses!!!

Ketua               : Kamerad! Revolusi tidak boleh santai-santai. Pantang berpangkutangan!!! Sedikit saja kesalahan atau salah perhitungan, hancur semua cita-cita yang kita impikan!!!

Kawan             : Itu memang betul, Ketua. Namun saat-saat seperti ini, kita semua butuh kesabaran. Bahkan dalam revolusi sekalipun.

Ketua               : Ah, sabar taik kucing!!!

Suasana kembali memanas. Lagu keroncong dari radio tiba-tiba berhenti. Mendadak penyiar radio menyiarkan berita tidak pada jamnya.

Radio                : Selamat Malam para pendengar yang budiman di seluruh Nusantara. Ini adalah siaran berita khusus. Hari ini atau lebih tepatnya dini hari tadi, telah terjadi kekacauan yang luar biasa di Ibukota tercinta. Di mana terjadi penculikan besar-besaran terhadap para pejabat tinggi militer. Tidak diketahui nasib korban dan identitas penculik. Selain itu, beberapa fasilitas, jawatan dan instalasi umum telah diduduki oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Bahkan stasiun radio ini pun mengudara dengan keadaan darurat. Kami menghimbau kepada seluruh pendengar yang budiman di seluruh Nusantara, jika setelah ini ada siaran dari kami yang membingungkan, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Sekian dan terimakasih. Selamat Malam.

Radio pun dimatikan setelah siaran berita khusus usai. Tampak ada wajah gembira dan ada pula wajah cemas.

Kamerad         : Nah, itu tadi berita yang kita tunggu. Telah terjadi kekacauan saudara-saudara. Itu berarti kader-kader kita telah bergerak. Revolusi telah berlangsung!!!

Kawan             : Yap. Sebentar lagi kita bisa merebut kekuasaan!

Ketua               : Jangan senang dulu. Kita masih harus menanti laporan dari anak buah Anda secara langsung, Kamerad. Tidak hanya dengar dari radio.

Bung                : Betul. Ada yang aneh dengan kejadian ini. Kenapa laporan dari anak buah Anda belum masuk ke meja kita. Tetapi berita kekacauan sudah menyebar terlebih dahulu. Pasti ini ada yang tidak beres, Kamerad!

Kamerad         : Ketua dan Bung ini bagaimana!!??? Ketua, tadi anda yang tidak sabaran. Nah, sekarang setelah ada pergerakan dari ibukota, anda kenapa tidak merasa senang??? Berita tadi jelas-jelas merupakan sebuah lonceng kemenangan bagi kita. Kenapa anda jadi peragu???

Ketua               : Bukannya peragu, Kamerad. Sudah menjadi standar operasional dalam setiap misi organisasi, jika setelah melakukan sebuah misi, harus ada yang namanya laporan dan evaluasi, kan? Dan lagi, yang tadi menyiarkan jelas-jelas bukan kader kita.

Kawan             : Itu betul, Ketua. Namun dalam kondisi yang tidak menentu seperti ini, standar operasional seperi itu bisa saja dilangkahi. Yang jelas, kondisi ibukota sedang genting karena adanya proses pergerakan, yang mana hal tersebut merupakan misi kita bukan?

Bung                : Namun saya mencium gelagat yang tidak mengenakkan, saudara-saudara. Entah kenapa firasat saya mengatakan ada yang tidak beres dalam semua kejadian ini.

Kamerad         : Bung, kita tidak bisa hanya mengandalkan firasat. Bukti kongkret telah ada di depan kita. Anda adalah seorang pemimpin besar, dan tidak selayaknya seorang pemimpin besar hanya mengandalkan firasat yang tidak tahu kemana arah juntrungannya!!!

Ketua               : Kamerad, saya harap anda jangan terlalu lancang berbicara kepada kami!!!

Kawan             : Apa maksud Ketua dengan lancang berbicara? Sikap anda lebih menunjukkan kelembekan dalam mengambil sikap dan keputusan!!!

Bung                : Tenang saudara-saudara! Tenang semuanya! Kalian bertengkar bagai anak kucing, sedang perahu kalian bocor diterpa ombak dan badai. Pertengkaran dan perpecahan di antara kita akan menjadi bahan olokan di mata musuh kita. Atau yang lebih parah lagi menjadi sebuah kelemahan organisasi. Pada saat ini, saya menuntut kekompakan di antara kalian. Paham!!!

Terjadi jeda yang cukup lama. Seperti mereka semua bangun tidur di tempat yang asing. Gelisah, kacau dan beribu perasaan yang tidak nyaman. Tiba-tiba terdengar suara guntur yang langsung disusul dengan hujan yang sangat deras.

Kawan             : Ah, musim yang aneh. Betul-betul tidak dapat ditebak.

Ketua               : Musim yang kacau tepatnya, Kawan. Seperti revolusi yang tidak pernah pasti.

Kamerad         : Malam yang jahanam, saudara-saudara!

Bung                  : Makan malam yang jahanam tepatnya. Kita dibuat gelisah karenanya. Walau begitu, saya bangga melewatkan makan malam yang jahanam ini bersama dengan kalian. Salut!!!

Mereka berempat mengangkat gelas masing-masing. Saling melempar senyum. Senyum yang sebentar lagi hilang ditelan hujan dan pekatnya malam.

Bung                     : Mulai kelam, belum buntu malam. Kami masih berjaga….. Tapi nanti sebelum siang membentang, kami sudah tenggelam, hilang…..[2]

***

Klinik dan Rumah Jeruk, 31 Juli 2011

 


[1] Judul naskah ini terinspirasi dari judul naskah Malam Jahanam karya Motinggo Busye

[2] Dari sajak “Malam” karya Chairil Anwar. Terdapat dalam buku kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2000 [cetakan kedelapan]


Iklan